XA Update Report | PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) – Stabil di Tengah Pertumbuhan yang Melambat, Fiber Menjadi Penopang pada FY25
By Leonardo Lijuwardi (Senior Analyst)
15-Apr-2026
MTEL menutup FY25 dengan pendapatan mencapai IDR 9.53T, meningkat sebesar 2.4% YoY (FY24: IDR 9.31T). Secara kuartalan, pendapatan MTEL pada 4Q25 meningkat sebesar +16.1% QoQ dan +9.8% YoY menjadi IDR 2.65T (3Q25: IDR 2.28T | 4Q24: IDR 2.41T). EBITDA MTEL pada 4Q25 tercatat sebesar IDR 2.07T (+8.2% QoQ, +4.4% YoY), sehingga EBITDA FY25 mencapai IDR 7.84T (FY24: IDR 7.69T). Laba bersih 4Q25 tercatat sebesar IDR 576B (+28.6% QoQ, +0.4% YoY) didorong oleh beban bunga yang lebih rendah, turun sebesar 10% QoQ. Secara kumulatif, FY25 membukukan laba yang solid sebesar IDR 2.12T (+0.5% YoY), sejalan dengan ekspektasi kami (99.5% dari estimasi kami, NHKSI Estimate untuk FY25F: IDR 2.13T). Profitabilitas tetap terjaga dengan NPM FY25 sebesar 22.2% dan margin EBITDA sebesar 82.2%. Ke depan, kami memperkirakan kinerja laba MTEL pada FY26F dapat mencapai IDR 2.17T, didorong oleh bisnis penyewaan menara yang stabil, disiplin dalam pengelolaan biaya, serta pertumbuhan permintaan fiber. Kami mempertahankan rekomendasi “Buy” dengan Target Price sebesar IDR 700 / saham.
🔹 Segmen Fiber Melangkah Terlepas Segmen Sewa Menara Stagnan
• Pendapatan penyewaan menara tetap stabil. Segmen penyewaan menara mencatatkan IDR 7.79T (+2.2% YoY) pada FY25 dengan 4Q25 sebesar IDR 2.11T (+12% QoQ), didorong oleh penambahan menara dan kolokasi. Segmen bisnis terkait menara mencatatkan pendapatan 4Q25 sebesar IDR 284B (+116.8% QoQ, -11.5% YoY), sehingga total pendapatan FY25 mencapai IDR 675B (+6.5% YoY). Hal ini terutama didorong oleh anak usaha Persada Sokka Tama. Sementara itu, segmen tower reseller turun menjadi IDR 490B, mencerminkan penghentian bertahap segmen ini di tengah konsolidasi pasar yang berlangsung (-12.3% YoY). Hingga FY25, MTEL mencatatkan 40,230 menara (+2.1% YoY) dan menargetkan ~2,500 tambahan tenant pada FY26.
• Pertumbuhan fiber optic mulai mengalami percepatan. Segmen fiber optic mencatatkan pertumbuhan sebesar +18.1% YoY, mencapai IDR 574B pada FY25 (FY24: IDR 486B) dan secara kuartalan tumbuh +16.1% YoY menjadi IDR 143B pada 4Q25 (4Q24: IDR 138B & 3Q25: IDR 144B). Kontribusinya meningkat menjadi 6% pada FY25 (FY24: 5.2%), dan kami memperkirakan pada FY26 kontribusi fiber dapat mencapai 6.7%, sejalan dengan pertumbuhan permintaan jaringan fiber. MTEL telah mencatatkan jaringan fiber sepanjang 57,199 km pada FY25 (+12.1% YoY) dan menargetkan mencapai ~66,000 km pada FY26F. Meskipun segmen fiber masih di bawah 10%, segmen ini terus menjadi mesin pertumbuhan utama bagi MTEL, mengimbangi kinerja bisnis penyewaan menara yang relatif datar. Bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT) MTEL terus berkembang seiring operator seluler meningkatkan investasi jaringan untuk meningkatkan konektivitas dan kapasitas.
• Telkomsel tetap menjadi operator tenant terbesar. Berdasarkan operator tenant, pendapatan dari Telkomsel meningkat sebesar +5.0% YoY menjadi IDR 5.2T pada FY25, sehingga kontribusinya meningkat menjadi 55% dari sebelumnya 53%. Sementara itu, pendapatan dari operator lain: EXCL tumbuh sebesar +17.7% YoY pasca merger menjadi IDR 1.3 triliun pada FY25 (FY24: IDR 1.13T | 4Q25: IDR 512B, Secara Kuartalan: +13.2% QoQ & +15.9% YoY), dan ISAT mencatat pertumbuhan sebesar +5.3% YoY menjadi IDR 1.92 triliun pada FY25 (FY24: IDR 1.83T | 4Q25: IDR 321B, Secara Kuartalan: -14.9% QoQ & +1.9% YoY).
🔹 Performa Operasional: Mempertahkan Profitabilitas Margin di Stagnansi Profitabilitas
• Disiplin pengelolaan biaya menjaga margin tetap stabil. Beban operasional meningkat sebesar 5.4% YoY, sementara EBITDA tetap stabil di level IDR 7.83 triliun (+1.8% YoY). MTEL juga mencatatkan penurunan beban bunga pada 4Q25 menjadi IDR 273 miliar (-10% QoQ & -15.8% YoY), sehingga total beban bunga FY25 turun menjadi IDR 1.15 triliun (-3.9% YoY). Efisiensi biaya ini di tengah kinerja pendapatan yang relatif datar menjaga margin profitabilitas tetap stabil dengan GPM sebesar 50.4% dan NPM sebesar 22.2%.
🔹 MTEL Portfolio: Pertumbuhan Kuat Luar Jawa Menopang Tenancy Ratio
• Penguatan Tenancy Ratio: Data aset operasional MTEL menunjukkan peningkatan dengan jumlah kolokasi yang saat ini mencapai 22,854 unit pada FY25 (FY24: 20,464 unit, +11.7% YoY & 9M25: 21,885 unit, +4.4% QoQ) dan jumlah tenant meningkat sebesar +1.8% QoQ dan +6.1% YoY menjadi 63,084 tenant pada FY25 (FY24: 59,431 & 9M25: 61,987), sehingga mendorong Tenancy Ratio periode FY25 menjadi 1.57x, naik dari 1.52x pada FY24.
• Pertumbuhan Tenant yang Kuat di Luar Jawa. Untuk periode FY25, sebanyak 59% portofolio menara berasal dari luar Jawa, setara dengan 23,698 menara. Komposisi ini mencerminkan ekspansi strategis perusahaan untuk menjangkau lebih banyak wilayah di luar Jawa, seperti Sumatra, Kalimantan, Bali, Maluku, dan Sulawesi, yang tercermin dari total tenant yang meningkat sebesar 7% YoY. Pertumbuhan ini melampaui wilayah Jawa yang hanya tumbuh sebesar 4% YoY, menunjukkan potensi yang lebih besar dari luar Jawa.
🔹 FY26F : Ekspektasi Pertumbuhan Pendapatan Stabil dan Net Profit Stagnan
• Untuk tahun 2026, kami memperkirakan pendapatan MTEL pada FY26 sebesar IDR 9.78T dengan pertumbuhan +2.6% YoY dan laba bersih sebesar IDR 2.17T pada FY26 (+2.2% YoY), seiring dengan pertumbuhan industri menara yang relatif stagnan. Meskipun terdapat ekspektasi pertumbuhan yang stagnan pada industri menara, kami memperkirakan MTEL tetap mampu menjaga neraca keuangan yang kuat serta pengelolaan beban operasional yang baik. Ekspektasi kami untuk NPM pada FY26F adalah sebesar 22.2%.
🔹 Rekomendasi “Buy” dengan Target Price di IDR 670 / Share (+ 26.4% Upside Potential)
• NHKSI Research merekomendasikan “Overweight” dengan target price sebesar IDR 670, mencerminkan 9.2x Forward EV/EBITDA (rata-rata 3 tahun terakhir). Sebagai salah satu sektor defensif, meskipun segmen penyewaan menara memiliki pertumbuhan terbatas seiring konsolidasi pasca merger operator seluler, MTEL masih memiliki peluang untuk mencatat pertumbuhan di atas rata-rata industri melalui segmen fiber. Selain itu, neraca keuangan yang sehat serta leverage yang lebih rendah dibandingkan peers masih memberikan ruang untuk melakukan ekspansi anorganik. Risiko bagi MTEL mencakup pertumbuhan tenancy yang lebih lemah serta pertumbuhan segmen fiber yang tidak sesuai dengan ekspektasi.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.
NH Korindo Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubuni CS kami via email CSO@nhsec.co.id

