XA Update Report | PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) – Solid Revenue Delivery Amid Margin Pressure

 

 

By Steven Willie (Research associate)

6-May-2026

 

 

Pendapatan KLBF pada 1Q26 tumbuh +10% YoY (+4% QoQ) menjadi IDR 9,7 T — sejalan dengan estimasi kami dan merepresentasikan 25% dari proyeksi pendapatan FY26F kami, mencerminkan run-rate kuartalan yang sehat. Pendorong utama berasal dari segmen Distribusi & Logistik yang melonjak +21% YoY (-1% QoQ). Segmen Farmasi menyusul dengan pertumbuhan solid sebesar +8% YoY (+2% QoQ). Segmen Consumer Health hanya tumbuh +3% YoY (+14% QoQ), sementara Nutrisi mencatat pertumbuhan moderat sebesar +2% YoY (+8% QoQ). GPM tertekan menjadi 38% pada 1Q26 (vs. 41% pada 1Q25; 38% pada 4Q25). OPM bertahan di level 14% (vs. 16% pada 1Q25; flat QoQ), seiring beban penjualan terhadap pendapatan yang masih tinggi di kisaran ~20%. NPM sedikit turun menjadi 11% (vs. 12% pada 1Q25; flat QoQ), dengan laba bersih tercatat sebesar IDR 1,03 triliun (-4% YoY, 0% QoQ) — setara dengan 28% dari run-rate laba bersih FY26F kami

 

 

 

🔹 Kinerja Keuangan 1Q26

 

• FY26 diawali dengan pertumbuhan top-line yang solid. Pendapatan KLBF pada 1Q26 tumbuh +10% YoY (+4% QoQ) menjadi IDR 9,7 triliun — sejalan dengan estimasi kami dan merepresentasikan 25% dari pendapatan FY26F yang telah kami proyeksi, mencerminkan run-rate kuartalan yang sehat.

 

 

• Distribusi memimpin pertumbuhan; segmen inti tetap stabil. Pendorong utama berasal dari segmen Distribusi & Logistik yang melonjak +21% YoY (-1% QoQ), sehingga kontribusinya terhadap total pendapatan meningkat menjadi 36% (vs. 33% pada 1Q25). Segmen Farmasi menyusul dengan pertumbuhan solid sebesar +8% YoY (+2% QoQ). Pertumbuhan pada segmen lainnya relatif lebih terbatas: Consumer Health hanya tumbuh +3% YoY (+14% QoQ), sementara Nutrisi mencatat kenaikan moderat sebesar +2% YoY (+8% QoQ).

 

 

• Margin melemah akibat tekanan biaya dan product mix; beban penjualan tetap tinggi demi menjaga pertumbuhan. GPM tertekan menjadi 38% pada 1Q26 (vs. 41% pada 1Q25; 38% pada 4Q25), dipengaruhi oleh kenaikan biaya bahan baku serta product mix yang kurang menguntungkan di segmen non-distribusi, sementara segmen Distribusi sendiri menghadapi tekanan dari principal mix. OPM bertahan di level 14% (vs. 16% pada 1Q25; flat QoQ), seiring beban penjualan terhadap pendapatan yang masih tinggi di kisaran ~20% sebagai investasi pemasaran untuk mempertahankan momentum pertumbuhan.

 

 

• Bottom line turun tipis, namun tetap sejalan dengan estimasi kami. NPM sedikit melemah menjadi 11% (vs. 12% pada 1Q25; flat QoQ), dengan laba bersih tercatat sebesar IDR 1,03 triliun (-4% YoY, 0% QoQ) — setara dengan 28% dari run-rate laba bersih FY26F kami. Penurunan secara tahunan mencerminkan kombinasi tekanan dari kenaikan COGS dan tingginya beban operasional, yang lebih besar dibandingkan dampak positif dari pertumbuhan pendapatan yang solid.

 

 

 

🔹 Program Buyback Berlanjut

 

• Mengembalikan Modal, Perkuat Kepercayaan. Setelah berhasil merealisasikan program buyback saham senilai IDR250 M (Desember 2025 – Maret 2026), KLBF kembali menngumumkan buyback tambahan hingga IDR 500 M untuk periode 2 April – 2 Juli 2026. Langkah ini mempertegas strategi pengembalian modal yang nyata dan ramah terhadap pemegang saham dari manajemen.

 

 

 

🔹 Outlook FY26: Menavigasi Lanskap Makro yang Semakin Kompleks

 

• Lemahnya daya beli konsumen dan kenaikan harga minyak masih menjadi tekanan terhadap volume penjualan. Harga minyak global telah naik sekitar ~77-79% YTD menjadi sekitar ~USD 100/barel, dengan tingginya biaya energi yang berkelanjutan berpotensi menekan daya beli konsumen – khususnya bagi basis konsumen kelas menengah KLBF.

 

 

• Depresiasi rupiah menambah lapisan risiko biaya kedua. IDR depreciation adds a second layer of cost risk. Nilai tukar rupiah telah melemah sekitar ~4% YTD ke level ~IDR 17.400/USD, yang menjadi perhatian mengingat sebagian besar bahan baku untuk segmen Nutrisi menggunakan denominasi USD. Strategi mitigasi perusahaan — yang mencakup pengadaan bahan baku secara proaktif serta diversifikasi mata uang impor — memberikan buffer yang cukup berarti, meskipun pelemahan berkepanjangan di atas level saat ini berpotensi menambah tekanan terhadap GPM.

 

 

 

🔹 Rekomendasi BUY dengan TP IDR 1.100 (prev. 1.800)

 

• Kami mempertahankan rekomendasi BUY untuk KLBF dengan penyesuaian target harga menjadi IDR 1.100/saham (prev. 1.800), yang mecnerminkan pendekatan valuasi yang lebih konservatif di tengah tekanan margin jangka pendek dan tantangan makroekonomi. Pada level saat ini, saham diperdagangkan pada forward P/E sekitar ~11,0x — mendekati level -2 standar deviasi dari kisaran historis P/E 3 tahunnya, sehingga menawarkan titik masuk yang menarik. Kami tetap memandang KLBF menarik karena platform multi-segmennya memberikan lindung nilai terhadap siklus spesifik tiap segmen, dengan jaringan distribusi Enseval yang telah mengakar kuat sebagai competitive moat utama — serta berada pada posisi yang baik untuk menangkap tailwind jangka panjang Indonesia dari peningkatan akses layanan Kesehatan dan pertumbuhan demografi.

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.

 

 

 

 

NH Korindo Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubuni CS kami via email CSO@nhsec.co.id