XA Update Report | PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) – 1Q26: Menjaga Stabilitas – Fiber Semakin Bertumbuh di Tengah Menara yang Cenderung Flat
By Leonardo Lijuwardi (Senior Analyst) & Gwenda Deanita (Research associate)
8-May-2026
TBIG membukukan pendapatan 1Q26 sebesar IDR 1.72T (-0.79% YoY, -1.7% QoQ), setara dengan 27% dari estimasi kami. EBITDA tercatat sebesar IDR 1.47T, mencerminkan margin EBITDA yang solid di kisaran ~85.3%. Dari sisi profitabilitas, GPM stabil di level 72% dan NPM sebesar 22.7%. Secara operasional, TBIG mempertahankan tenancy ratio yang stabil di level 1.70x dengan total 41.8 ribu tenant di 24.7 ribu site, didukung oleh penambahan gross tenancy sebanyak 808 selama kuartal berjalan meskipun terdapat beberapa non-renewal pasca merger XLSmart. Segmen fiber optik TBIG secara bertahap mulai muncul sebagai sumber pertumbuhan tambahan di tengah permintaan menara yang cenderung melambat dan konsolidasi industri yang masih berlangsung. Hal ini tercermin dari kontribusinya terhadap total pendapatan yang terus meningkat dalam dua tahun terakhir (1Q24: 8.0%, 1Q25: 8.7%, dan 1Q26: 9.5%).
🔹 Pendapatan Menara Masih Relatif Flat, Fiber Semakin Mendapatkan Traksi
• Pendapatan TBIG pada periode 1Q26 sedikit menurun menjadi IDR 1.72T (-0.79% YoY, -1.7% QoQ), didorong oleh pendapatan segmen penyewaan menara sebesar IDR 1.55T (1Q25: IDR 1.58T & 4Q25: IDR 1.75T). Di tengah perlambatan pada segmen menara, pendapatan fiber optik terus mencatatkan pertumbuhan sebesar +8.6% YoY menjadi IDR 164B pada 1Q26 (1Q25: IDR 151B | secara kuartalan: -3.5% QoQ, 4Q25: IDR 170B), sehingga kontribusinya meningkat menjadi 9.53% (1Q25: 8.7%). Kami memperkirakan segmen fiber optik akan terus tumbuh dan membantu mengimbangi permintaan sewa menara yang relatif flat, dengan estimasi pendapatan FY26 mencapai IDR 752B atau setara 10.8% dari total pendapatan.
• Dari sisi operator tenant, Telkomsel masih menjadi kontributor utama. Sementara itu, dampak pasca konsolidasi XLSMART menyebabkan sedikit penurunan pendapatan, dengan kontribusi pendapatan pada 1Q26 tercatat sebesar IDR 491B. Selanjutnya, Indosat membukukan pendapatan sebesar IDR 431B (-1.5% YoY). Secara kolektif, keduanya berkontribusi sekitar 88% terhadap total pendapatan penyewaan menara.
🔹 Margin Tertekan oleh Kenaikan Opex, Namun Beban Keuangan Menurun
• Kinerja operasional sedikit melemah pada 1Q26, dengan laba operasional turun menjadi IDR 1.08T (-3.0% YoY), seiring pendapatan yang relatif flat sementara biaya operasional meningkat. Akibatnya, margin operasional terkompresi menjadi 62.8% (vs. 64.2% pada 1Q25), mencerminkan tekanan dari kenaikan beban operasional. Opex meningkat menjadi IDR 156.5B (+7.2% YoY), melampaui pertumbuhan pendapatan. Kenaikan opex terutama didorong oleh peningkatan biaya karyawan, depresiasi, biaya kantor, employee benefits, serta kenaikan biaya sponsorship dan professional fees.
• Beban keuangan menurun pada 1Q26 menjadi IDR 427B (1Q25: IDR 500B & 4Q25: IDR 464B), sejalan dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah. Penurunan suku bunga acuan diharapkan dapat memberikan ruang bagi TBIG untuk meningkatkan efisiensi finansial. Namun demikian, keputusan penahanan suku bunga saat ini maupun arah kebijakan suku bunga ke depan masih menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati terhadap kinerja FY26.
• TBIG mempertahankan profil leverage yang relatif tinggi per Maret-26, dengan net debt sebesar IDR 27.9T (4.8x net debt/EBITDA), sementara net senior leverage masih terjaga di level 0.8x, didukung oleh gross debt sebesar IDR 28.7T dan kas sebesar IDR 778B. Meski demikian, perseroan tetap menunjukkan fleksibilitas pendanaan yang kuat, tercermin dari penerbitan obligasi dan sukuk pada Feb-26, termasuk obligasi tenor 1 tahun senilai IDR 700B dengan kupon terendah sepanjang sejarah sebesar 4.85%. Manajemen juga menyoroti basis pendanaan yang terdiversifikasi dan hubungan yang solid dengan lender domestik sebagai faktor pendukung likuiditas untuk menopang pertumbuhan dan ekspansi berkelanjutan.
🔹 Portofolio TBIG: Pertumbuhan Tenancy Tetap Resilien & Orderbook Solid
• TBIG melaporkan total 41.764 tenant di 24.666 site pada 1Q26, dengan tenancy ratio sebesar 1.70x yang didukung oleh 41.656 tenant menara. Portofolio tersebut mencakup 24.558 menara dan 108 jaringan DAS, mencerminkan skala infrastruktur yang terus berkembang. TBIG juga menambahkan 808 gross tenancy (599 new site dan 209 collocation), menunjukkan momentum orderbook yang tetap solid. Meskipun penambahan bersih terdampak oleh non-renewal akibat merger XLSmart, permintaan dasar terhadap kapasitas menara masih tergolong resilien.
🔹 FY26 View: Mempertahankan Pertumbuhan dan Laba yang Cenderung Flat
• TBIG diperkirakan akan membukukan kinerja yang relatif stabil pada FY26, dengan pendapatan diproyeksikan tumbuh tipis sebesar 0.8% menjadi IDR 6.97T dan laba bersih meningkat tipis sebesar 0.4% menjadi IDR 1.43T. Outlook pertumbuhan yang terbatas ini mencerminkan tren industri menara yang masih resilien namun secara struktural cenderung moderat. Meskipun segmen fiber terus mencatatkan pertumbuhan yang solid, kami memandang kontribusinya masih belum cukup signifikan untuk menjadi pendorong utama pertumbuhan laba secara konsisten.
🔹 “Overweight” Recommendation dengan Target Price di IDR 1,800 / Lembar (Upside +7.5%)
• NHKSI Research merekomendasikan “Overweight” untuk TBIG dengan target harga lebih rendah di IDR 1.800/ Lembar, mencerminkan valuasi 12.3x Forward EV/EBITDA (-1 STD dari rata-rata 3 tahun terakhir). Meskipun segmen fiber optik TBIG mulai menunjukkan pertumbuhan, kami menilai belum terdapat katalis kuat yang mampu secara signifikan membuka potensi rerating saham TBIG. Selain itu, valuasi TBIG juga masih relatif premium dibandingkan MTEL dan TOWR (TBIG Current EV/EBITDA Annualized FY25: 11.0x | MTEL: 8.0x & TOWR: 7.0x). Walaupun TBIG masih memiliki peluang untuk mencatat pertumbuhan di atas rata-rata industri melalui segmen fiber, pelemahan tenancy ratio dalam dua tahun terakhir tetap menjadi tantangan, di samping tren pasca merger operator seluler dan menurunnya permintaan menara. Risiko bagi TBIG mencakup pelemahan pertumbuhan tenancy serta pertumbuhan segmen fiber yang tidak sesuai ekspektasi.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.
NH Korindo Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubuni CS kami via email CSO@nhsec.co.id

