Today’s Outlook :

 

• PASAR AS : Wall Street pada Jumat mencatat reli mingguan terpanjang dalam hampir 2,5 tahun, didorong perkembangan positif konflik Timur Tengah serta laporan keuangan NVIDIA dan Walmart. S&P 500 naik 0,4% ke 7.472,73 poin, NASDAQ menguat 0,2% ke 26.343,97 poin, dan Dow Jones naik 0,6% ke rekor baru 50.579,70 poin.

 

 

Di awal pekan, pasar saham AS sempat tertekan akibat aksi jual besar di pasar obligasi global. Yield obligasi AS tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi lebih dari setahun, sementara tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield dipicu ekspektasi kenaikan suku bunga global untuk meredam inflasi akibat lonjakan harga minyak karena perang Iran. Risalah rapat The Fed April juga menunjukkan mayoritas pejabat mendukung kenaikan suku bunga jika inflasi energi terus berlanjut. Pasar kini sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps tahun ini.

 

 

Dari Timur Tengah, Menteri Luar Negeri Iran bertemu Menteri Dalam Negeri Pakistan untuk membahas upaya menjembatani perbedaan antara AS dan Iran terkait proposal perdamaian. Pakistan disebut aktif menjadi mediator antara kedua negara. Menlu AS Marco Rubio menyebut negosiasi menunjukkan “tanda-tanda positif”, meski masih berhati-hati terhadap hasil akhir. Pejabat senior Iran juga menyebut kesenjangan negosiasi mulai menyempit.

 

 

Sementara itu, survei konsumen University of Michigan menunjukkan sentimen konsumen AS turun ke 44,8 pada Mei dari 49,8 pada April, menjadi level terendah sepanjang sejarah.

 

 

 

• PASAR EROPA : Bursa saham Eropa menguat pada Jumat di tengah naik-turunnya optimisme investor terkait perkembangan negosiasi untuk mengakhiri perang Iran. Indeks Stoxx 600 naik 0,7%, DAX Jerman menguat 1,3%, CAC 40 Prancis naik 0,4%, dan FTSE 100 Inggris bertambah 0,2%.
Stoxx 600 juga berada di jalur kenaikan mingguan meski sempat tertekan kenaikan yield obligasi pemerintah AS dan Zona Euro. Kenaikan yield dipicu ekspektasi bahwa bank sentral seperti The Fed dan ECB mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan untuk meredam inflasi akibat konflik Iran.

 

 

 

• PASAR ASIA :Bursa saham Asia melanjutkan penguatan pada Jumat dan berada di jalur kenaikan mingguan, didorong rebound saham chipmaker setelah laporan keuangan NVIDIA yang kuat. Namun, investor masih berhati-hati karena negosiasi AS-Iran belum sepenuhnya mencapai kesepakatan. Optimisme terhadap belanja infrastruktur AI kembali mendorong minat pada saham semikonduktor.

 

 

Nikkei 225 Jepang melonjak lebih dari 2,5% dan mendekati rekor tertinggi, dengan kenaikan mingguan hampir 3%. Indeks TOPIX juga naik hampir 1%. SoftBank Group turut melanjutkan reli didorong optimisme IPO OpenAI dan prospek Arm Holdings yang diuntungkan lonjakan permintaan AI.

 

 

Di China, Shanghai Composite naik 0,5%, sementara Hang Seng Hong Kong menguat 1,3%. KOSPI Korea Selatan naik tipis 0,2% dan berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 4,5%. Namun, saham Samsung Electronics turun sekitar 2% setelah pekerja serikat mulai melakukan voting terkait kesepakatan kenaikan gaji yang sebelumnya berhasil mencegah aksi mogok besar selama 18 hari.

 

 

 

• KOMODITAS :Harga minyak anjlok tajam di awal perdagangan Asia Senin seiring meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai AS-Iran. Brent turun lebih dari 5% ke USD98,12 per barel, level terendah hampir tiga minggu terakhir, sementara WTI melemah 5,2% ke USD91,31 per barel.

 

 

Presiden AS Donald Trump mengklaim memorandum perdamaian dengan Iran “sebagian besar sudah dinegosiasikan” untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, media pemerintah Iran membantah bahwa kesepakatan sudah hampir final. Trump juga menegaskan blokade laut terhadap Iran tetap berlangsung sampai kesepakatan resmi tercapai.

 

 

Meski ada sinyal kemajuan negosiasi, AS dan Iran masih berselisih terkait isu utama, terutama program nuklir Iran dan tuntutan AS agar Iran menyerahkan stok uranium yang diperkaya.

 

 

Harga minyak sebelumnya sudah tertekan pekan lalu setelah muncul optimisme perdamaian, tetapi arus distribusi di Selat Hormuz masih jauh di bawah level normal sehingga pasokan global tetap ketat.

 

 

 

• INDONESIA : IHSG ditutup menguat sejauh +1.1% ke level 6,162.05. Terlepas IHSG masih tertekan oleh aksi jual saham konglomerasi dan outflow asing seiring antisipasi pasar terkait rebalancing MSCI Mei 2026 khususnya pada saham DSSA, BREN, TPIA yang masih tertekan, serta AMMN yang mulai ada perlawanan, pasar bergerak cukup liar pada saham komoditas terkait issue rumor penundaan implementasi DSI.

 

 

Di tengah tekanan pasar, beberapa saham blue chip seperti TLKM sebagai saham defensif masih turut menguat di tengah kekhawatiran pelemahan Rupiah terhadap USD. Jika tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji area 6,000 sebagai benteng psikologis terakhir walaupun sudah mencoba menutup gap sekitar area 6100, walaupun ada peluang dead cat bounce (DCB). Untuk jangka pendek, pelaku pasar dapat mencermati saham-saham yang masih mampu bertahan di area support dengan fundamental solid dan valuasi menarik.

 

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.