Summary:

Pekan lalu dihiasi oleh beragam pernyataan dari pejabat Federal Reserve mengenai arah kebijakan suku bunga AS ke depannya. Fed Chairman Jerome Powell setidaknya telah mengindikasikan bahwa kemungkinan suku bunga naik tahun ini sudah dapat dieliminasi, walau masih sarat berbagai komentar hawkish dari pejabat bank sentral AS lain yang menyatakan bahwa mereka perlu lebih banyak bukti untuk memastikan bahwa Inflasi AS aman terkendali dalam trajectory target 2% mereka, sehingga waktu pemotongan suku bunga tidak dapat ditentukan kepastiannya. Sedikit banyak market menyikapinya dengan positif, di kala NASDAQ yang sarat saham Teknologi mampu menutup pekan lalu dengan kemenangan. CME FedWatch Tool memperhitungkan 45% peluang bahwa The Fed akan memotong suku bunga di bulan September. Yang masih menjadi ganjalan adalah kecenderungan data ekonomi AS masih menunjukkan kekuatan, seperti S&P Global US Manufacturing PMI (Mei) yang tampak semakin ekspansif, demikian pula dari sisi sektor jasanya. Initial Jobless Claims mingguan pun terdata semakin merendah, baik itu dari ekspektasi maupun pekan sebelumnya. Apalagi ketika dilengkapi oleh angka Durable Goods Orders (Apr.) yang nyatanya jauh lebih baik dari ekspektasi, sampai pada level pertumbuhan positif 0.7% di bulan April, di atas perkiraan minus 0.9%. Walau di satu sisi, semua indicator tersebut menegaskan bahwa AS jauh dari resesi, namun di sisi lain membuat para pejabat The Fed semakin konsisten untuk menjaga suku bunga higher for longer.

Adapun S&P500 telah meroket lebih dari 11% di tahun ini sehingga firma broker besar di Wall Street harus menaikkan target mereka belakangan ini. Data historis membuktikan bahwa ketika S&P500 telah melaju lebih dari 10% dalam 100 hari pertama dalam setahun, indeks tersebut masih akan dapat melanjutkan kenaikannya. Apalagi di tahun 2024 ini yang mana juga merupakan tahun pemilihan Presiden di AS. Dengan Demikian, diramalkan bahwa S&P500 akan mampu mencapai Target 5700-5800 di akhir tahun 2024 ini (= translating further upside potential sekitar 7-9%).

MARKET EROPA & ASIA: INGGRIS yang melaporkan CPI (Apr.) melandai sangat ke level 2.3% yoy, dari posisi 3.2% pada periode sebelumnya, tampaknya membuat Bank of England (BoE) lebih optimis untuk mampu memotong suku bunga lebih dulu di bulan Juni. Optimisme yang sama juga dirasakan oleh ECB setelah Inflasi mereka dalam trajectory yang diharapkan, namun pertumbuhan ekonomi masih bisa diselamatkan ketika GERMAN GDP kuartal 1 terbukti survive di level 0.2% qoq, jauh membaik dari jurang resesi -0.3% di kuartal sebelumnya; dan sejumlah data PMI dari JERMAN & EUROZONE tampak sumringah. CHINA & INDONESIA menjaga suku bunga acuan tetap di tempat.

KOMODITAS: Harga MINYAK jatuh berjamaah selama sepekan terakhir, di mana BRENT berkurang 2.1% setelah drop 4 sesi berturut-turut di pekan ini, dan US WTI pun tak terhindar dari pukulan 2.8% di pekan lalu. Kekhawatiran mengenai kebijakan suku bunga Federal Reserve yang tak kunjung berprospek turun serta lonjakan stok cadangan minyak mentah AS pekan lalu tidak mendukung harga Minyak secara keseluruhan. Bukannya tak mungkin para pejabat Federal Reserve itu malah harus perhitungkan untuk menaikkan suku bunga, jika Inflasi kembali memanas tak terkendali. Seperti diketahui, suku bunga tinggi menggelembungkan biaya pinjaman, yang pada akhirnya akan memperlambat aktivitas ekonomi serta mengurangi demand akan energy (crude oil). Consumer Sentiment juga drop ke titik terendah 5 bulan dibayangi oleh masalah biaya pinjaman yang tetap meninggi. Di sisi lain, analis Morgan Stanley masih perkirakan demand akan crude oil masih akan tinggi secara keseluruhan, secara mereka memperkirakan konsumsi minyak total akan meningkat 1.5 juta barel per hari di tahun ini. Para trader tengah menunggu jadwal OPEC meeting tanggal 2 Juni ini yang akan mendiskusikan apakah mereka akan memperpanjang pemangkasan produksi sukarela sebesar 2,2 juta barrel/day; entah sampai bulan September seperti yang diprediksi para analis.

This week’s outlook:

Data inflasi dari AS, Eurozone, dan Jepang akan menjadi fokus utama dalam minggu yang dipersingkat karena liburan ini. Kesehatan sektor manufaktur China juga akan menjadi sorotan, sementara kekhawatiran atas melesunya prospek demand global dapat terus membebani harga Minyak.

Pengukur inflasi favorit Fed – Personal Consumption Expenditures (PCE) price index – yang akan dirilis pada hari Jumat pastinya diawasi dengan ketat untuk mencari petunjuk tentang arah suku bunga selama sisa tahun ini. Data ini dirilis ketika pasar sudah pasrah pada narasi suku bunga higher for longer setelah keluarnya notulen rapat The Fed minggu lalu, bersama dengan pernyataan yang terdengar sangat berhati-hati dari para pejabat yang menyatakan keraguan apakah inflasi memang berada di trajectory yang dapat diandalkan. Para investor juga akan mendapatkan kesempatan untuk mendengar dari beberapa pejabat The Fed selama pekan ini termasuk Gubernur Michelle Bowman, Presiden Fed Cleveland Loretta Mester, Gubernur Lisa Cook, Presiden Fed New York John Williams dan Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic. Kalender ekonomi juga menampilkan revisi GDP kuartal pertama pada hari Kamis dan Beige Book Fed pada hari Rabu.

EUROPEAN CENTRAL BANK telah berjanji untuk menurunkan suku bunga dari rekor tertinggi 4% pada pertemuan bulan Juni mendatang, namun masih harus dilihat seberapa cepat mereka akan menurunkan suku bunga setelah itu, terutama jika data inflasi yang dirilis hari Jumat menunjukkan tekanan harga yang masih bergejolak. Para ekonom memperkirakan inflasi Eurozone akan naik 2,5% yoy di bulan Mei, dari 2,4% di bulan April, sementara inflasi yang mendasari terlihat stabil di 2,7%. Hal ini sepertinya tidak akan menghalangi ECB untuk melakukan pemangkasan suku bunga di bulan Juni, walau beberapa pejabat telah menyatakan bahwa mereka tidak akan melakukan pelonggaran lebih lanjut. Kalender ekonomi untuk blok ini juga menampilkan German Ifo business climate index pada hari Senin, dan survei ekspektasi inflasi ECB pada hari Selasa.

DATA INFLASI TOKYO yang akan dirilis pada hari Jumat diawasi ketat para pelaku pasar yang mencoba untuk mengukur kapan Bank of Japan dapat menaikkan suku bunga lagi. Angka-angka ini dirilis dua minggu sebelum pertemuan kebijakan moneter BOJ berikutnya, di mana beberapa pihak bertaruh bahwa bank sentral dapat menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya setelah langkah bersejarah di bulan Maret. Para pembuat kebijakan menghadapi tekanan yang meningkat untuk menaikkan suku bunga di tengah-tengah pelemahan Yen yang sedang berlangsung, di mana merugikan konsumsi dengan menaikkan biaya impor bahan Baku. Pada hari Jumat, Kementerian Keuangan juga akan merilis data intervensi yang mencakup putaran intervensi yang dicurigai baru-baru ini dan jadwal pembelian obligasi BOJ, di mana para trader akan memperhatikan berapa banyak pengurangan pembelian yang dilakukan bank sentral.

CHINA akan merilis data keuntungan industri untuk tahun berjalan pada hari Senin, di mana para pengamat pasar ingin melihat apakah keuntungan mampu rebound di bulan April setelah penurunan tajam di bulan sebelumnya memperlambat laju kenaikan untuk tiga bulan pertama menjadi 4,3%. China akan merilis indeks manufaktur dan non-manufaktur resmi pada hari Jumat. Para ekonom memperkirakan indeks manufaktur akan tetap berada di atas ambang batas 50, sehingga menetapkan pertumbuhan ekspansif untuk bulan ketiga di bulan Mei. Beijing telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang ambisius sekitar 5% untuk tahun ini, yang menurut banyak analis akan menjadi tantangan untuk dicapai karena krisis yang berkepanjangan di sektor properti, serta masih lemahnya permintaan konsumen.

Harga MINYAK naik sekitar 1% pada hari Jumat tetapi membukukan penurunan mingguan di tengah kekhawatiran bahwa data ekonomi AS yang kuat akan mempertahankan suku bunga untuk jangka waktu yang lebih lama, sehingga membatasi permintaan bahan bakar. Brent ditutup turun 2,1% untuk minggu ini. Harga minyak turun selama 4 sesi berturut-turut minggu lalu, penurunan beruntun terpanjang sejak 2 Januari. Minyak mentah US WTI ditutup turun 2,8% untuk minggu ini. Pekan ini para trader akan memusatkan perhatian pada meeting OPEC tanggal 2 Juni yang akan memutuskan masa depan pemangkasan produksi suka rela.

Download full report HERE.