Summary:

Last week review:
Wall Street mencatatkan kenaikan mingguan untuk keempat kalinya berturut-turut dengan penguatan berkisar antara 1-2%, didukung oleh laporan keuangan kuartalan perusahaan yang kuat, di tengah tanda-tanda Inflasi yang susah turun membuyarkan harapan atas pemotongan suku bunga yang lebih cepat. Survey University of Michigan atas sentimen konsumen jatuh ke pembacaan 67.4 di bulan Mei, turun dari 77.2 di April seiring perkiraan Inflasi tahunan menanjak ke 3.5%, dari 3.2% di bulan yang lalu. Rally pasar saham juga didukung oleh penurunan imbal hasil US Treasury, setelah para pejabat The Fed cukup konsisten dalam pesan mereka dalam beberapa minggu terakhir bahwa besar kemungkinan penurunan suku bunga akan dilakukan namun bank sentral akan berhati-hati dalam menerapkannya. Bahkan sejauh ini pasar terlihat mengabaikan komentar dari Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari bahwa kebijakan moneter The Fed saat ini mungkin belum cukup ketat untuk mengendalikan Inflasi sehingga ia belum bisa mengesampingkan masih perlunya kenaikan suku bunga. Saat ini para investor mengantisipasi penurunan suku bunga sebesar 46 basis poin dari The Fed pada akhir tahun 2024, menurut aplikasi probabilitas suku bunga LSEG, dengan poros pertama penurunan suku bunga terlihat pada bulan September dan lainnya pada bulan Desember (dibandingkan perkiraan 1x sebelum laporan tenaga kerja  dirilis pekan lalu). CME Group FedWatch Tool juga perhitungkan kemungkinan bahwa bank sentral AS akan mulai memotong suku bunga secepatnya di bulan September dengan probabilitas sekitar 44%, menurut CME Group Fedwatch Tool; dibanding perkiraan sebelumnya yang perkirakan pivot pertama akan terjadi pada bulan November. Di tengah minimnya kalender ekonomi pekan lalu, para pelaku pasar memang lebih condong memperhatikan statement dari para pejabat bank sentral AS, selainnya juga masih tetap memantau klaim pengangguran mingguan seperti biasa, yang mana Initial Jobless Claims cukup melegakan dengan dirilis pada angka 231 ribu, lebih tinggi dari perkiraan 212 ribu dan juga dari pekan sebelumnya 209 ribu.

MARKET ASIA & EROPA:
Highlight from CHINA diantaranya Caixin Services PMI (Apr.) relatif masih stabil pada pembacaan 52.5. Ada kabar baik dari perbaikan Ekspor & Impor mereka di bulan April: masing-masing bertumbuh 1.5% dan 8.4% yoy, suatu perbaikan signifikan di atas ekspektasi dari posisi negatif sebelumnya. Sejumlah data terbaru ekonomi China di hari Sabtu memberikan gambaran kondisi negara tersebut yang kian lesu pasca kebijakan lockdown Covid-19 yang memukul ekonominya:
1. Inflasi China naik 3 bulan berturut-turut: terakhir di bulan April berada pada level 0.3% yoy, dibanding perkiraan pasar dan angka Maret pada 0.1%.
2. Pinjaman bank baru di China turun: bank-bank di China hanya menggelontorkan pinjaman baru sebesar 0,73 triliun Yuan sepanjang April 2024, meleset dari perkiraan pasar sebesar 1,2 triliun Yuan dan menurun tajam dari 3,1 triliun Yuan yang dicapai pada Maret.
3. Inflasi di tingkat produsen turun lebih dalam dari perkiraan: PPI China bulan April tercatat 2.5% yoy, turun dibandingkan ekspektasi 2.3%, menyusul penurunan 2,8% di bulan Maret.
4. Harga pangan China turun selama 10 bulan: ketika di bulan April harga pangan di China turun 2,7% yoy, sama seperti bulan sebelumnya.
Dari negara tetangganya, JEPANG juga melaporkan belanja rumah tangga bulan Maret yang lebih baik dari perkiraan, walau masih drop dari bulan sebelumnya. Sedangkan dari benua EROPA, keputusan BANK OF ENGLAND untuk mempertahankan suku bunga di level 5.25% memang sudah diantisipasi, namun mereka justru membuka peluang penurunan suku bunga yang lebih cepat di bulan Juni. Dari sisi makro ekonomi, INGGRIS membukukan pertumbuhan ekonomi di kuartal 1 lebih tinggi dari perkiraan, mampu naik 0.2% yoy meninggalkan area resesi -0.2% di kuartal sebelumnya; sepertinya didukung oleh Industrial & Manufacturing Production yang lebih kuat di atas ekspektasi. Rally di pasar ekuitas global mengangkat saham-saham di Eropa ke rekor tertinggi pada hari Jumat di tengah kuatnya pendapatan perusahaan dan harapan pemangkasan suku bunga bank sentral yang semakin dekat. Saham-saham Eropa membukukan kenaikan mingguan terbesar sejak akhir Januari, dengan indeks STOXX 600 naik untuk sesi keenam berturut-turut, sementara FTSE 100 di London mencapai rekor tertinggi barunya.

INDONESIA: GDP tumbuh sebesar 5,11% yoy pada kuartal pertama tahun 2024 didukung oleh belanja masyarakat & pemerintah. Adapun angka ini lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 5,0% dan setelah kenaikan sebesar 5,04% pada kuartal keempat tahun 2023. Ini merupakan pertumbuhan ekonomi tercepat sejak kuartal kedua tahun 2023. Sementara secara kuartalan GDP menyusut sebesar 0,83% qoq, dibandingkan dengan perkiraan pasar yang turun 0,89% dan setelah pertumbuhan 0,45% pada kuartal sebelumnya, merupakan kontraksi kuartalan pertama dalam empat kuartal. Pekan lalu juga menelurkan informasi dari Bank Indonesia terkait Cadangan Devisa Indonesia pada akhir April 2024 sebesar USD 136.2 miliar, atau setara dengan IDR 2189,9 triliun. Posisi tersebut turun dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar USD 140,4 miliar atau IDR 2257 triliun. Adapun penurunan antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah seiring dengan peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global. Posisi Cadev April tersebut pun masih setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta aman di atas standar kecukupan internasional 3 bulan impor. IHSG turun 0.82% selama sepekan terakhir, ditimpali oleh Foreign Net Sell cukup masif sebesar IDR 6.36 triliun (all market), menjadikan posisi YTD mereka hanya tersisa IDR 1,5 triliun saja.

KOMODITAS: Harga MINYAK turun hampir USD1 per barel pada hari Jumat karena komentar dari pejabat bank sentral AS mengindikasikan suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, yang dapat menghambat permintaan dari konsumen minyak mentah terbesar di dunia. Untuk minggu ini, Brent mencatat kerugian 0,2%, sementara WTI mencatat kenaikan 0,2%. Pejabat The Fed belum bisa satu suara pada rencana pemotongan suku bunga karena intinya mereka masih  belum cukup yakin apakah kebijakan moneter saat ini cukup ketat untuk mengendalikan Inflasi. Kalaupun ada pemotongan suku bunga di tahun ini, sepertinya hanya akan terwujud 25 bps mendekati akhir tahun. Dollar AS menguat setelah komentar pejabat The Fed, membuat komoditas dalam mata uang greenback lebih mahal bagi pembeli non-AS. Suku bunga AS higher for longer juga dapat mengurangi permintaan global karena secara teori biaya pinjaman yang tinggi akan memperlambat aktivitas ekonomi. Harga minyak juga berada di bawah tekanan dari meningkatnya stok persediaan bahan bakar AS menjelang musim berkendara di musim panas. Mengingat bahwa harga melemah di bulan lalu dan trend permintaan bensin & solar tampak menurun, para analis berpendapat sepertinya penyesuaian ke harga yang lebih bearish harus dilakukan. Di satu sisi, harga Minyak mendapat dukungan dari data jumlah tempat pengeboran minyak AS yang merupakan sebuah indikator dari kemampuan pasokan di masa depan, di mana perusahaan servis energi Baker Hughes mendata jumlah pengeboran minyak berkurang 3 unit menjadi 496 buah sesuai kondisi pekan terakhir, merupakan angka terendah sejak November. Data pada hari Kamis menunjukkan CHINA mengimpor lebih banyak minyak pada bulan April dibandingkan bulan yang sama tahun lalu, juga membantu menopang harga minyak. Ekspor dan Impor China kembali tumbuh pada bulan April setelah mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya. Sementara itu, European Central Bank tampaknya semakin mungkin untuk mulai menurunkan suku bunga pada bulan Juni. Di EROPA, serangan pesawat tak berawak Ukraina menyebabkan kilang minyak di wilayah Kaluga Rusia terbakar, seperti dilaporkan oleh kantor berita negara RIA pada hari Jumat; merupakan serangan terbaru dari Kyiv dalam serangkaian serangan balasan terhadap infrastruktur energi Rusia. Konflik di TIMUR TENGAH juga berlanjut setelah pasukan Israel membombardir wilayah kota Rafah di Gaza selatan pada hari Kamis, menurut warga Palestina, setelah kurangnya kemajuan dalam putaran terakhir perundingan untuk menghentikan Perang di Gaza.

This week’s outlook:

Data INFLASI AS akan menjadi fokus utama minggu ini dan dapat menjadi faktor penentu arah pasar dalam waktu dekat. Sementara itu, data penjualan ritel bersama dengan hasil pendapatan dari beberapa peritel ternama akan memberikan wawasan baru tentang kekuatan belanja konsumen, pendorong utama ekonomi. INGGRIS & CHINA akan merilis data ekonomi yang akan diawasi dengan ketat.

Para investor akan mengamati data US CPI & PPI minggu ini untuk mencari indikasi bahwa tekanan harga akhirnya mereda setelah berbulan-bulan inflasi yang kuat memunculkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga tahun ini. Pasar mendapat sedikit kelegaan awal bulan ini ketika Fed Chairman Jerome Powell mengindikasikan bahwa bank sentral masih ingin menurunkan suku bunga pada akhirnya dan laporan ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan tanda-tanda pendinginan di pasar tenaga kerja. Para analis memperkirakan laporan CPI yang penting pada hari Rabu diperkirakan akan menunjukkan  Headline Inflation naik 3,6% pada basis tahun ke tahun, yang akan menjadi kenaikan terkecil dalam lebih dari tiga tahun. Namun jika yang sebaliknya terjadi, angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan tampaknya akan mengurangi kemungkinan penurunan suku bunga untuk sisa tahun ini, dan memicu kembali volatilitas pasar.

Para investor akan mendapatkan beberapa pandangan baru mengenai kesehatan konsumen AS minggu ini dengan data PENJUALAN RITEL bulan April pada hari Rabu, ditambah hasil laporan keuangan dari peritel-peritel besar Walmart dan Home Depot.

CHINA akan mempublikasikan serangkaian data ekonomi pada hari Jumat yang akan menunjukkan bagaimana kinerja ekonomi negara nomor dua di dunia ini pada awal kuartal kedua. Data harga rumah bulan April akan memberikan wawasan baru mengenai keadaan sektor properti yang telah dilanda krisis utang selama sekitar tiga tahun, membuat para pengembang properti berada di ambang kehancuran. Produksi industri, penjualan ritel dan investasi aset tetap terlihat meningkat dari tahun ke tahun. Komentar-komentar pejabat China bulan lalu telah mempersiapkan para investor untuk menyambut gelombang langkah-langkah stimulus dari pemerintah untuk mendorong pemulihan ekonomi, berhasil menjaga mood pasar tetap baik untuk saat ini.

Minggu lalu BANK OF ENGLAND bergerak lebih dekat untuk memangkas suku bunga, namun pasar terbagi pada apakah pemotongan pertama akan dilakukan pada pertemuan bank berikutnya di bulan Juni atau apakah para pembuat kebijakan akan menahannya lebih lama. Dua set data ketenagakerjaan resmi dan angka Inflasi akan dirilis sebelum pertemuan BoE berikutnya pada 20 Juni. Laporan pertama dari sektor tenaga kerja dijadwalkan keluar pada hari Selasa akan melihat tanda-tanda apakah kenaikan upah akan memicu tekanan harga. Pertumbuhan Upah tahunan masih berjalan dengan baik, sementara suplai tenaga kerja stagnan. Para ekonom memperkirakan pendapatan mingguan rata-rata, tidak termasuk bonus, akan naik 5,9% secara tahunan pada kuartal pertama. Meskipun masih solid, tanda-tanda bahwa pertumbuhan upah sedang moderat kemungkinan akan meningkatkan ekspektasi untuk pemotongan di bulan Juni.

Harga MINYAK mengakhiri minggu lalu dengan sedikit perubahan dimana BRENT mencatat penurunan sebesar 0,2%, sementara US WTI mencatat kenaikan sebesar 0,2%. Ekspektasi bahwa suku bunga AS higher for longer telah membebani harga minyak karena suku bunga yang lebih tinggi biasanya memperlambat aktivitas ekonomi dan melemahkan permintaan minyak global. Dollar AS yang lebih kuat juga turut membebani, membuat komoditas berdenominasi greenback menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Harga minyak juga telah tertekan oleh meningkatnya persediaan bahan bakar AS menjelang musim berkendara musim panas yang biasanya ramai, namun kali ini sepertinya menunjukkan trend melemah. Harga minyak mendapat dukungan setelah data pada hari Kamis menunjukkan bahwa China mengimpor lebih banyak minyak pada bulan April dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Ekspor dan impor China kembali tumbuh di bulan April setelah mengalami kontraksi di bulan sebelumnya.

Download full report HERE.