Today’s Outlook:
MARKET SENTIMENT: Para pengambil kebijakan akan memiliki lebih sedikit data penting untuk diurai sepanjang minggu ini, di mana Retail Sales dan ekspektasi inflasi dari Universitas Michigan mungkin akan menambah warna pada gambaran inflasi AS.

DAVOS: Ketidakpastian mengaburkan prospek jangka pendek perekonomian global, menurut survei yang dilakukan menjelang pertemuan tahunan World Economic Forum yang jadi perhatian para pelaku pasar. Prospek pertumbuhan pada tahun 2024 lemah, menurut survei yang dilakukan oleh para ekonom terkemuka dunia, dengan 56% responden memperkirakan kondisi akan kembali melemah di tahun 2025 mendatang. Hanya seperempatnya perkirakan perekonomian akan lebih kuat, sementara 20% memperkirakan bahwa kondisi lingkungan tidak akan berubah. Survey tersebut juga mengatakan bahwa ketahanan ekonomi dunia dalam beberapa tahun terakhir akan terus diuji, di mana sudah terdeteksi indikasi perlambatan di sektor manufaktur dan jasa. Sementara itu, kondisi keuangan diperkirakan akan melemah seiring dengan meredanya inflasi dan melonggarnya pasar tenaga kerja.

CRUDE OIL: Harga minyak melemah pada hari Senin, mengurangi kenaikan sebelumnya, karena masih adanya kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah dapat mengganggu pasokan melalui rute pengiriman utama antara Eropa dan Asia. Minyak mentah berjangka US WTI diperdagangkan 0,8% lebih rendah pada USD72,25 per barel, sedangkan kontrak Brent turun 0,6% menjadi USD77,81 per barel. Harga acuan melonjak lebih dari 2% pada minggu lalu dan menyentuh level intraday tertinggi tahun ini setelah Amerika Serikat dan Inggris menggempur pasukan Houthi di Yaman sebagai pembalasan atas serangan kelompok militan yang didukung Iran ini atas sejumlah kapal komersial di Laut Merah. Kelompok Houthi mengancam akan memberikan respon balasan yang kuat pada hari Minggu, yang berpotensi memperburuk situasi keamanan dan menyebabkan beberapa operator pelayaran mengalihkan rute mereka dari Laut Merah.

MARKET ASIA: Sebagian besar saham Asia naik pada hari Senin karena para investor pertahankan spekulasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga lebih awal; market Jepang memperpanjang reli ke level tertinggi dalam 34 tahun. Data penting yang ditunggu-tunggu pada minggu ini adalah data GDP setahun China dan Inflasi Jepang. Reaksi Beijing terhadap pemilihan presiden Taiwan juga membuat para pedagang khawatir. Data CPI Jepang yang akan dirilis akhir pekan ini diperkirakan akan menunjukkan deflasi yang berkelanjutan, memberikan nada dovish bagi BOJ ketika bertemu pada bulan Januari nanti. Hari ini Jepang akan memulai rangkaian data Inflasinya dengan melaporkan PPI (Des.) yang juga diperkirakan terjerumus dalam wilayah deflasi. Indeks Taiwan naik 0,5% setelah kandidat Partai Progresif Demokratik (DPP) William Lai memenangkan pemilihan Presiden pada akhir pekan – sebagian besar mempertahankan status quo pulau tersebut dalam perlawanannya terhadap reunifikasi dengan China. Kemenangan Lai yang aktif menyuarakan kemerdekaan Taiwan telah menjadi titik kemarahan utama bagi China, yang semakin gencar pertahankan seruan reunifikasi (Taiwan – China) selama akhir pekan, dan tindakan lebih lanjut dari Beijing akan menjadi fokus menjelang pelantikan resmi Lai di bulan Mei. Sementara itu, dari negara tetangga Negeri Ginseng, Korea Selatan melaporkan Trade Balance dan pertumbuhan Ekspor & Impor di bulan Desember yang relatif flat dibanding bulan sebelumnya.

MARKET EROPA : Eurozone publikasikan Industrial Production (Nov) yang tumbuh negatif -6.8% yoy, lebih tinggi dari perkiraan maupun bulan sebelumnya. Siang nanti Inggris akan rilis sejumlah data ekonomi terkait ketenagakerjaan seperti Average Earnings Index (Nov), Claimant Count Change (Dec) dan Unemployment Rate (Nov). Yang akan jadi fokus dari Eropa hari ini adalah German CPI (Dec) di mana diramal tingkat Inflasi mereka akan memanas ke level 3.7% yoy, naik dari 3.2% pada bulan sebelumnya. Lebih lanjut, German ZEW Economic Sentimen (Jan) akan berikan gambaran bagaimana para pelaku pasar memandang iklim usaha 6bulan ke depan.

INDONESIA : Bank Indonesia mengumumkan utang luar negeri Indonesia per bulan Nov 2023 telah mencapai USD 400.9 miliar (IDR 6231 triliun), naik 26% yoy. Indonesia kembali mencatatkan surplus Trade Balance (Dec) USD 3.3miliar, lebih tinggi dari forecast USD 1.92 miliar dan bulan Nov pada USD 2.41 miliar ; akibat Impor yang turun jauh daripada perbaikan Ekspor yang juga masih berjuang keluar dari pertumbuhan negatif.

Corporate News
Entitas TOWR Punya Obligasi yang Akan Jatuh Tempo IDR 2.76 Triliun Anak usaha emiten menara PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR), yakni PT Profesional Telekomunikasi Indonesia atau Protelindo menyampaikan tengah mempertimbangkan beberapa opsi untuk melunasi obligasi yang akan jatuh tempo pada akhir Maret sebesar IDR 2,76 triliun. Corporate Secretary Sarana Menara Nusantara Monalisa Irawan menuturkan pihaknya telah memiliki beberapa alternatif pendanaan untuk melunasi obligasi yang akan jatuh tempo tersebut. Menurutnya, opsi-opsi untuk melunasi obligasi tersebut seperti penggunaan arus kas atau pihak ketiga tengah dipertimbangkan pihaknya. Berdasarkan data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Protelindo tercatat memiliki tiga obligasi yang akan jatuh tempo pada tahun ini. Obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat adalah Obligasi Berkelanjutan III Protelindo tahap II tahun 2023 Seri A sebesar IDR 2,76 triliun. Sebagai informasi, Protelindo merupakan anak usaha TOWR yang seluruh sahamnya dimiliki secara langsung dan tidak langsung oleh TOWR. (Bisnis)

Domestic Issue
Penerbitan Obligasi Korporasi Tahun Ini Diramal Tembus IDR 169.05 Triliun Penerbitan obligasi korporasi di 2024 dinilai tetap semarak. Ekspektasi penurunan suku bunga hingga obligasi jatuh tempo menjadi pendorongnya. Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto menilai bahwa penerbitan obligasi korporasi tahun ini berkisar IDR 148.15 triliun – IDR 169.05 triliun. “Jika terealisasi, titik tengah tersebut akan lebih tinggi daripada yang direalisasikan di tahun 2023 yang berada di sekitar IDR 130 triliun,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (15/1). Pihaknya melihat, sejumlah faktor yang akan mendorong penerbitan surat utang korporasi tahun ini. Salah satunya kebutuhan refinancing lebih tinggi. Terindikasi dari nilai surat utang yang jatuh tempo di 2024 yang lebih tinggi, sebesar IDR 150.5 triliun dibandingkan tahun lalu sebesar IDR 126.9 triliun. Lalu aktivitas sektor riil yang terjaga. Dorongan dari aktivitas kampanye menjelang pemilu serentak membuat permintaan tetap kuat dan stabil, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berkisar pada 4.8% – 5.2% dengan inflasi pada rentang 2%-3.5%. Kemudian adaptasi strategi bagi korporasi untuk menghadapi kondisi suku bunga yang higher for longer. Terlihat dari semakin maraknya penerbitan dengan tenor pendek. (Kontan)

Recommendation
US10YT harus keluar dari Resistance MA10 atau naik kembali ke atas yield 4.0% agar dapat kembali lanjutkan swing bullish menuju next Resistance / TARGET yield : 4.062% / 4.145% / 4.20% – 4.258%. ADVISE : SPECULATIVE BUY ; Average Up accordingly.

ID10YT tampaknya lanjutkan up-swing nya berbekal Support MA10 & MA50 pada yield 6.656%. ADVISE : SPECULATIVE BUY. TARGET : setelah tugas tutup Gap yield 6.728% dan resistance dari level previous High 6.75% mampu dilewati, maka next adalah menuju Target pattern di sekitaran yield 6.948% – 6.962%

Download full report HERE.