Last week review:
Paruh pertama tahun 2023 telah berlalu dengan sejumlah gejolak pasar. Bagaimana sektor finansial global menghadapi tahun yang sarat ancaman resesi sejauh ini? Sebagai refleksi, tahun ini dimulai dengan optimisme tinggi atas pemulihan China pasca lockdown COVID, harapan atas ketahanan ekonomi global, dan kelegaan bahwa mungkin Inflasi telah mencapai puncaknya. Sejak saat itu, krisis perbankan AS, jatuhnya Credit Suisse, dan perjuangan mengendalikan Inflasi telah membuat enam bulan terakhir terasa seperti waktu yang lama di pasar. Singkat cerita, sejak awal tahun S&P500 telah naik 15.9% dan Nasdaq Composite telah mengantongi keuntungan 31.7% (peningkatan semesteran terbesar dalam 40 tahun). Sementara performa kuartal 2 mereka sangat solid sebagai berikut: S&P500 membukukan penguatan 8.3%, Nasdaq melejit 12.8%, serta Dow untung 3.4%. Adapun secara mingguan, performa gemilang pekan lalu untuk S&P500 adalah naik 2.35%, sementara Nasdaq menguat 2.2%, dan Dow bertengger 2.02% lebih tinggi. Tampaknya pelaku pasar cukup yakin bahwa ekonomi AS dapat menghindari resesi parah meskipun bank sentral AS tengah memberlakukan kebijakan moneter yang ketat.

Menyoroti pekan terakhir bulan Juni yang sarat data ekonomi penting di seluruh dunia, nomor satu datang dari AS yaitu segudang laporan seperti: Durable Goods Orders dan New Home Sales bulan Mei, serta Building Permits yang semuanya menunjukkan kenaikan signifikan secara bulanan; tak pelak lagi berhasil mendorong Consumer Confidence (Juni) merangkak naik ke angka 109.7, lebih tinggi dari perkiraan di 104 dan apalagi dari bulan sebelumnya di 102.5. Di hari Kamisnya, Initial Jobless Claims turun terbesar dalam 20 bulan ke angka 239 ribu (dari 265 ribu pada minggu sebelumnya); merupakan tanda terbaru dari ketahanan ekonomi AS yang dapat mendorong Federal Reserve untuk melanjutkan kenaikan suku bunga pada bulan Juli. GDP 1Q23 bahkan sukses laporkan pertumbuhannya menjadi 2% secara kuartalan, lebih tinggi dari prediksi 1.4%. Untungnya, indeks Personal Consumption Expenditure (PCE) bulan Mei yang menjadi acuan The Fed dalam menilai jinaknya tingkat Inflasi saat ini bertumbuh lebih lemah dari prediksi; sesuai dengan Personal Spending (Mei) yang memang kenaikannya di bawah ekspektasi.

This week’s outlook:
Bagaimana dengan Eropa? German Current Assessment atas dunia usaha di bulan Juni menunjukkan optimisme, namun pelaku bisnis di Jerman masih belum begitu yakin atas iklim usaha 6 bulan ke depan: terlihat dari German Ifo Business Climate Index yang dirilis lebih rendah dari perkiraan & bahkan periode sebelumnya. ECB President Christine Lagarde telah mengkonfirmasi bahwa ECB akan menaikkan suku bunga sekali lagi pada bulan Juli, setelah merujuk pada rilis data Inflasi untuk seluruh Zona Euro dan negara-negara tetangga di Eropa. Angka CPI Eurozone pada bulan Juni muncul di tingkat 5,5% yoy, sedikit lebih baik dari perkiraan dan turun dari 6,1% bulan lalu. Berita bagusnya, Inflasi Prancis mengikuti Spanyol dan Italia sukses turun ke level terendah 14 bulan, sementara kenaikan harga konsumen Jerman meningkat di bulan Juni ini. Harga rata-rata rumah di Inggris turun paling tinggi pada bulan Juni secara tahunan sejak 2009. Masih terbuka kemungkinan harga terus turun karena sebagian besar aktivitas pasar perumahan di bulan Juni akan terjadi sebelum Bank of England mengesahkan kenaikan suku bunga 50 bps, membawa suku bunga acuan menjadi 5% sedangkan Inflasi masih memanas di level 8,7% pada bulan Mei, lebih dari empat kali target 2% BOE. Dari sudut data ketenagakerjaan, German Unemployment Rate (Juni) berada di tingkat 5.7% (sedikit naik dari bulan Mei) sedangkan di Zona Euro, Unemployment Rate (Mei) masih tak bergeming di level 6.5%. Terakhir dari benua Asia, Retail Sales di Jepang semakin menguat di level 5.7% yoy pada bulan Mei, tapi harga barang & jasa di Tokyo di bulan Juni belum naik seperti yang diprediksi; diperkirakan karena kondisi Industrial Production (Mei) juga semakin lesu daripada bulan sebelumnya. China tampaknya belum mampu memompa momentum ekonominya secara mereka melaporkan Composite PMI (Juni) di tingkat 52.3; masih saja lebih lemah dari periode sebelumnya 52.9. Sebaliknya, Korea Selatan berhasil membukukan surplus Trade Balance pertama setelah 15 bulan defisit di bulan Juni ini pada angka USD 1.13 milyar. Walaupun ekspor drop 6% dan impor anjlok 11.7% namun penurunan keduanya berhasil melambat dari bulan sebelumnya. Kementerian terkait mengatakan bahwa prestasi Trade Balance ini mungkin berhenti pada Juli dan Agustus karena faktor musiman tetapi diperkirakan akan segera kembali ke jalur pertumbuhannya.

Download full report HERE.