Today’s Outlook:

MARKET AS: Rilis US CPI lebih lambat dari yang diperkirakan setelah 3 bulan kejutan kenaikan, meningkatkan harapan akan penurunan suku bunga The Fed lebih cepat dan mengirim imbal hasil US Treasury turun tajam. Indeks harga konsumen secara keseluruhan melambat ke tingkat 0.3% mom pada April, dari 0.4% sebulan sebelumnya, lebih lambat dari perkiraan ekonom sebesar 0.4% (karena turunnya biaya tempat tinggal dan bensin), meningkatkan harapan bahwa tren disinflasi kembali berjalan. Ini mengubah angka tahunan menjadi 3.4% yoy, in-line dengan ekspektasi, dan turun dari tingkat 3.5% di posisi sebelumnya. Sementara Inflasi Inti yang menghilangkan harga makanan dan energi yang fluktuatif, naik 0.3% secara bulanan dan 3.6% secara tahunan, melandai dari 3.8% pada bulan Maret. Perlambatan dalam harga konsumen merupakan suatu kelegaan setelah sehari sebelumnya inflasi di tingkat produsen keluar lebih panas dari forecast. Para investor melihat peluang sebesar 50.5% bahwa bank sentral AS akan mulai memangkas suku bunga pada bulan September, menurut CME FedWatch tool. Imbal hasil US TREASURY turun tajam setelah CPI diumumkan dengan yield US Treasury tenor 10 tahun turun 10 basis poin menjadi 4.34%. Dari data ekonomi lainnya, PENJUALAN RITEL tumbuh flat pada bulan April, tak mampu penuhi perkiraan untuk kenaikan 0.4% secara bulanan; membuat angka tahunan drop ke level 3.04% yoy, dari 3.83% pada periode sebelumnya.

SIKAP PASAR/ANALIS: Evercore ISI menilai angka Inflasi akan mengirim yield US Treasury turun dan Inflasi bergerak ke arah target. Namun mereka perkirakan Nonfarm Payroll masih bisa menanjak ke 150 ribu di bulan Mei, Unemployment Rate mungkin juga stagnan di 3.9%. Wells Fargo & Morgan Stanley berpikir pemotongan suku bunga pertama bisa terjadi di bulan September, di satu sisi Macquarie malah bersikeras pivot tidak akan terjadi tahun ini, lebih pesimis dari RBC Capital yang setidaknya masih menyimpan pada bulan Desember. Analis Julius Baer Group dari Swiss perkirakan bank sentral akan memindahkan posisi dana mereka dari US Treasury ke komoditas Emas; yang mana memulai penguatannya hari Rabu kemarin dengan futures menguat 1.36% ke harga USD 2392.05/ounce.

INDIKATOR EKONOMI LAINNYA: Hari ini akan ditayangkan sejumlah episode lain dari indikator ekonomi AS seperti: Building Permits & Housing Starts yang akan mengukur kekuatan sektor properti AS khususnya di bulan April, seraya menunggu angka Initial Jobless Claims mingguan yang diramal berada pada angka 219 ribu (harusnya turun dari pekan sebelumnya 231 ribu). Aktivitas sektor manufaktur di wilayah Philadelphia juga akan jadi sorotan para pelaku pasar, berbarengan dengan Industrial & Manufacturing Production (Apr.). MARKET ASIA & EROPA: Bank sentral CHINA pertahankan tingkat bunga kredit 1 tahun di level 2.5%. EUROZONE merilis perkiraan awal GDP Q1 mereka di level 0.4% yoy, menguat dari 0.1% pada periode sebelumnya. Industrial Production di wilayah tersebut masih berjuang untuk berkembang seiring pertumbuhan 0.6% mom di bulan Maret, turun dari 1.0% pada bulan Februari. Hari ini giliran JEPANG yang sudah mengumumkan preliminary numbers untuk GDP Q1 mereka yang ternyata jatuh ke kondisi resesi seiring pertumbuhan negatif -2.0% yoy dan – 0.5% mom; turun lebih dalam dari forecast -1.5% dan -0.3%, juga berkebalikan dengan posisi positif di kuartal sebelumnya.

KOMODITAS: Harga MINYAK berakhir lebih tinggi pada hari Rabu, karena penurunan stok mingguan AS yang jauh lebih besar dari perkiraan serta merosotnya US DOLLAR mendukung harga dan mengimbangi outlook International Energy Agency (IEA) mengenai pertumbuhan demand yang lebih lemah di tahun ini. Futures BRENT naik 1% menjadi USD 82,85/barel, sementara futures US WTI naik 1% menjadi USD 78,63/barel.

INDONESIA: Indonesia mencatat surplus Trade Balance sebesar USD 3.56 miliar pada bulan April, merupakan surplus 48 bulan berturut-turut, didukung oleh Ekspor yang bertumbuh positif 1.72% yoy dan Impor 4.62% yoy (walaupun tidak sesuai ekspektasi tapi setidaknya merupakan peningkatan signifikan dari posisi negatif di bulan sebelumnya).

Corporate News
BSI Luncurkan Sukuk Sustainability, Tawarkan Imbalan hingga 7.20% Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI merilis sukuk berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) pertama di Indonesia. Sukuk sustainability BSI atau sukuk mudharabah berkelanjutan I Tahap I ini akan diterbitkan senilai IDR 3 triliun. Untuk menarik minat investor, BSI menawarkan imbal hasil (imbalan) yang menarik di kisaran 6.40% hingga 7.20% per tahun. Perusahaan menargetkan bisa meraup total dana hingga IDR 10 triliun dalam beberapa tahap penerbitan sukuk berkelanjutan ini. Sukuk mudharabah tersebut terdiri atas tiga seri dengan rincian sebagai berikut: Seri A: Jumlah pokok obligasi Seri A dengan tingkat imbalan sebesar 6.40–7.10% dan jangka waktu 370 hari. Seri B: Jumlah pokok obligasi Seri B dengan tingkat imbalan 6.45%–7.15% dan jangka waktu dua tahun. Seri C: Jumlah pokok obligasi Seri C dengan tingkat imbalan tetap sebesar 6.50%–7.20% dan jangka waktu tiga tahun. Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan bahwa pada tahap pertama penerbitan sukuk ini, BSI telah mendapatkan izin dari OJK melalui POJK Nomor 18 Tahun 2023. (Katadata)

Domestic Issue
Gelar Lelang 7 Seri Sukuk Negara, Pemerintah Bidik IDR 10 Triliun Pemerintah pada Senin, 20 Mei 2024 depan akan melakukan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara dalam rangka memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2024. Seri Sukuk Negara yang akan dilelang adalah seri SPN-S (Surat Perbendaharaan Negara – Syariah) dan PBS (Project Based Sukuk). Siaran pers Direktorat Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan Republik Indonesia Rabu (13/3/2024) menyebutkan bahwa ada 7 seri yang akan dilelang pada Senin pekan depan. Ketujuh seri sukuk tersebut pernah ditawarkan pada lelang sebelumnya (reopening). Kementerian Keuangan menetapkan target indikatif Rp10 triliun dari lelang ketujuh seri SBSN, dengan tanggal settlement pada 22 Mei 2024. Adapun ketujuh seri sukuk negara tersebut adalah sebagai berikut : SPNS 18112024 (reopening) tanggal jatuh tempo pada 18 November 2024, SPNS 02122026 (reopening) tanggal jatuh tempo 2 Februari 2025, PBS032 (reopening) tanggal jatuh tempo 15 Juli 2026, PBS030 (reopening) tanggal jatuh tempo 15 Juli 2028, PBS004 (reopening) tanggal jatuh tempo 15 Februari 2037, PBS039 (reopening) tanggal jatuh tempo 15 Juli 2041 dan PBS038 (reopening) tanggal jatuh tempo 15 Desember 2049. (Emiten News)

Recommendation

Berhubung US CPI berhasil cooling down, Yield US10YT bersiap turun lebih lanjut setelah jebol support lower channel 4.45% ke target konsolidasi around yield 4.08%. ADVISE : kurangi posisi.

ID10YT harus bertahan di atas Support trendline jk.pendek sekitar yield 6.97% demi pertahankan trend naik jk.pendek ini ; seraya mencoba menembus Resistance MA10 & MA20 pada level yield 7.042% – 7.078% saat ini. ADVISE : HOLD ; WAIT & SEE untuk kesempatan BUY ON WEAKNESS ; atau keputusan kurangi posisi lagi.

Download full report HERE.