Today’s Outlook:
MARKET US & GLOBAL: Komentar dovish dari petinggi Federal Reserve AS cukup menyeret turun imbal hasil Treasury seiring para investor memantau perkembangan perang di Timur Tengah. Presiden Fed Atlanta, Raphael Bostic, mengatakan bank sentral AS tidak perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut, dan ia melihat tidak ada ancaman resesi ke depannya. Yield US Treasury tenor 10-tahun turun dari level puncak 16 tahun-nya; ini merupakan penurunan satu hari tertajam sejak Agustus, seiring dimulai kembalinya perdagangan di pasar obligasi AS yang tutup karena libur nasional pada hari Senin. Meskipun komentar dovish The Fed membantu pergerakan saham dan para pelaku pasar berusaha bersikap optimis atas konflik Timur Tengah, namun demikian pandangan tersebut dapat berubah apabila seandainya konflik tersebut meluas ke negara-negara lain di kawasan tersebut. Ada banyak pejabat The Fed yang bernada dovish, seperti Presiden Bank Sentral Federal Minneapolis Neel Kashkari, yang mengatakan bahwa ia yakin perekonomian AS berada pada jalur soft landing di mana inflasi turun ke target The Fed (2%) namun tingkat pengangguran tidak meningkat tajam. Para investor memperkirakan peluang suku bunga tetap tidak berubah pada bulan November dan Desember masing-masing sekitar 86% dan 73%, menurut survey CME FedWatch. Pekan ini, market akan fokus pada data inflasi AS, yang terdiri dari indeks harga konsumen  (CPI) dan produsen (PPI) bulan September serta pertemuan The Fed bulan September. PPI AS (Sept) akan diumumkan nanti malam sekitar jam 19:30 WIB di mana perkiraan bergulir ke 1.6% yoy, namun pertumbuhan bulanan-lah yang akan menjadi sorotan karena diramal mampu melandai ke 0.3% mom di bulan Sept, dari 0.7% di bulan sebelumnya.

Kurva imbal hasil Treasury terus mengurangi inversinya di tengah meredanya kekhawatiran resesi, dengan suku bunga Treasury tenor 2tahun dibandingkan tenor 10tahun menyempit menjadi -29 basis poin, level terendah sejak bulan Maret dan jauh di atas titik terendah -106 bps seperti yang terlihat pada musim panas yang lalu.

Harga US Treasury menguat, dengan demikian mendorong yield obligasi tenor 2 tahun ke level terendah dalam sebulan, karena naiknya permintaan atas asset safe haven ditopang oleh perang Israel – Palestina (Hamas) yang sedang berlangsung di Timur Tengah , plus komentar The Fed yang dovish. Euro naik 0.3% terhadap Dollar menjadi USD 1.0604 / EUR, sementara Dollar Index (DXY), yang mengukur mata uang AS terhadap enam mata uang major dunia lainnya, turun sekitar 0.19% menjadi 105.75 ; jauh di bawah level tertinggi 11 bulan pada minggu lalu di 107.34. Para analis mengatakan penurunan yield US Treasury didorong oleh komentar pejabat The Fed yang mengatakan kenaikan yield US Treasury jangka panjang mungkin akan meniadakan perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut, serta disebabkan oleh para pelaku pasar yang mencari asset safe-haven setelah meletusnya serangan Hamas terhadap Israel. Yield US Treasury tenor 10-tahun ; yang bergerak berbanding terbalik dengan harga, turun 12.5bps menjadi 4.6571% , turun dari level tertinggi sejak 2007 pada pekan lalu di 4.887%.

Shekel Israel diperdagangkan pada 3.9550 / USD , turun dari level terendah dalam delapan tahun pada perdagangan sebelumnya di hari Senin, setelah bank sentral Israel menjanjikan USD 30 miliar untuk membendung aksi jual mata uang tersebut.

Bloomberg melaporkan bahwa China sedang mempertimbangkan penerbitan setidaknya CNY 1 triliun (USD 137.1 miliar) utang negara tambahan untuk belanja pemerintah guna meningkatkan perekonomiannya yang sedang berjuang bangkit. Para analis menilai hal ini akan membantu mata uang seperti Euro, yang lebih terekspos terhadap pertumbuhan global.

Euro menguat seiring pelemahan dolar pada hari Selasa sebagai respons terhadap penurunan tajam imbal hasil Treasury akibat komentar dovish pejabat Federal Reserve di atas, serta prospek stimulus dari China. Yield US Treasury tenor 10-tahun yang menjadi acuan jatuh ke level terendah harian di 4.618% dari level tertinggi Senin di 4.887%.

Yen melemah 0.13% versus greenback menjadi JPY 148.68 / USD. Mata uang Jepang sempat menguat setelah kantor berita Kyodo melaporkan bahwa Bank of Japan sedang mempertimbangkan menaikkan perkiraan inflasi konsumen inti tahun ini.

MARKET EROPA: Jerman hari ini akan merilis angka CPI (Sept) yang diharapkan semakin mendingin ke level 4.5% yoy dari level 6.1% bulan sebelumnya. Pada siang harinya, dunia akan melihat apakah ekonomi China akan semakin bergairah dengan adanya pertumbuhan kredit / pinjaman baru (New Loans) yang dikira akan melonjak ke CNY 2500 milyar, prediksi peningkatan dari CNY 1360 miliar di periode sebelumnya. MARKET INDONESIA: Indonesia melaporkan pertumbuhan Retail Sales (Sept) yang melambat ke level 1.1% yoy; sementara penjualan Sepeda Motor (Sept) juga tidak membantu karena malah turun -0.9% yoy dibanding periode sebelumnya yang setidaknya masih mampu tumbuh 1.8%.   

Corporate News
Keuangan Kuat, Obligasi Jatuh Tempo Barito Pacific (BRPT) Sandang Rating idA+ Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan peringkat surat utang Barito Pacific (BRPT) dengan label idA+. Obligasi Berkelanjutan I Barito Pacific Tahap III Tahun 2020 Seri B senilai IDR 56 miliar itu, akan jatuh tempo pada 8 Desember 2023. Berdasar skenario, emiten asuhan Prajogo Pangestu itu, akan melunasi obligasi jatuh tempo tersebut dengan dana internal dari sebagian hasil penerbitan Obligasi Berkelanjutan III Tahap I Tahun 2023 pada 9 Februari 2023 sebesar IDR 1.0 triliun. Pada 30 Juni 2023, perusahaan mencatat dana obligasi belum digunakan sebesar IDR 899.17 miliar termasuk IDR 56 miliar untuk pelunasan obligasi akan jatuh tempo. Efek utang dengan peringkat idA mengindikasikan kemampuan emiten untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang dibanding emiten lain adalah kuat. (Emiten News)

Domestic Issue
Penawaran Masuk Lelang Sukuk Capai IDR 10.75 Triliun pada Selasa (10/10) Pemerintah telah melaksanakan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara pada Selasa kemarin (10/10). Terdapat enam seri yang ditawarkan pada lelang sukuk pekan ini yaitu SPNS09042024, PBS036, PBS003, PBS037, PBS034, serta PBS033 melalui sistem lelang Bank Indonesia. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mengungkapkan, total penawaran masuk pada lelang sukuk kali ini sebesar IDR 10.75 triliun. Dari total penawaran masuk, pemerintah hanya memenangkan sebesar IDR 5 triliun atau di bawah target indikatif IDR 9 triliun. Total penawaran masuk pada lelang sukuk tanggal 10 Oktober 2023 lebih rendah dibandingkan angka penawaran pada lelang sukuk dua pekan lalu yang sebesar IDR 27.78 triliun. Nominal lelang yang dimenangkan pun lebih rendah dibandingkan IDR 8 triliun. Adapun dari keenam seri SBSN yang ditawarkan, PBS036 merupakan seri yang paling laris diburu dengan total penawaran masuk tertinggi. Seri PBS036 mencatatkan nominal penawaran tertinggi yang dimenangkan oleh pemerintah. (Kontan)

Recommendation
US10YT masih mencari Support solid berikutnya setelah jatuh ke bawah MA10 (= yield 4.596% jadi Resistance sekarang) ; menyusul tanda2 potensi trend reversal yang telah konsisten membayangi beberapa hari belakangan ini, dan akhirnya diperjelas oleh komentar dovish para pejabat Federal Reserve dua hari terakhir ini. ADVISE : lanjut kurangi posisi. Support kedua : MA20 / yield 4.578%.

ID10YT finally jebol Support pertama yaitu MA10 menyusul anjloknya yield US10YT, menjadikan level yield 6.986% sebagai Resistance terdekat saat ini. ADVISE : setelah serangkaian rekomendasi SELL ON STRENGTH sebelumnya, kembali kami ingatkan untuk kurangi posisi karena diperkirakan longsor yield akan berlanjut ke Support berikut yaitu MA20 sekitar yield 6.861%.

Download full report HERE.