Today’s Outlook:
MARKET AS: US Dollar juga terperosok seiring adanya resiko intervensi Yen serta imbas rally Yuan berkat dukungan pemerintah China. Setelah langkah US Federal Reserve pekan lalu yang menetapkan suku bunga tak berubah pada dan memberi sinyal adanya 3x pemotongan suku bunga tahun ini, para pelaku pasar akan  mengalihkan pandangan kepada data Personal Consumption Expenditures (PCE) price index yang sedianya dirilis Departemen Perdagangan (Commerce Dept.) pada hari Jumat bertepatan dengan libur Jumat Agung (Good Friday). Para analis perkirakan data PCE akan menunjukkan Inflasi memanas di bulan Februari, dengan harga-harga naik 0.4% mom, setelah pertumbuhan 0.3% di Januari. Namun demikian, Inflasi Inti yang mengecualikan harga barang volatile seperti makanan dan energi, diprediksi akan mendingin ke 0.3% mom dari 0.4%. Secara tahunan, headline & core PCE price index diproyeksi akan mendarat pada angka 2.5% dan 2.8% , selisih 1 persenan dari target rata-rata Inflasi The Fed pada 2%. Beberapa pejabat The Fed pada hari Senin kembali menyuarakan nada yang kurang dovish dari bank sentral secara mereka mengingatkan bahwa ekonomi AS masih kuat. Namun pada pekan ini masih ada beberapa statement dari pembuat kebijakan Federal Reserve yang ditunggu pelaku pasar, termasuk di antaranya dari Chairman Jerome Powell.

Data ekonomi di sektor perumahan yang dimonitor ketat oleh para ekonom dan investor memberitakan Building Permits berubah positif menjadi 2.4%, dari -0.3% pada periode sebelumnya dan juga di atas ekspektasi 1.9%; merupakan pertumbuhan tertinggi sejak Oktober 2023 lalu. Sebaliknya, angka New Home Sales alias penjualan rumah baru di bulan Maret justru sedikit tertekan ke angka 662 ribu, dari 664 ribu pada bulan sebelumnya dan meleset dari forecast 675 ribu. Hari ini market akan menantikan angka Durable Goods Orders serta US Consumer Confidence yang merupakan ukuran keyakinan konsumen akan aktivitas ekonomi, yang ujungnya bisa meramalkan daya belanja masyarakat. Menyikapi indikator ekonomi yang ada dan akan datang, harga obligasi negara tenor 10 tahun jatuh 8/32 ke level yield 4.2493%, dari 4.218% penutupan Jumat lalu. Sementara harga obligasi tenor 30 tahun terdepresiasi 14/32 membuat yield 4.4183%, dari 4.392% pada penghujung pekan lalu.

KOMODITAS: Harga MINYAK merangkak naik dikarenakan adanya kekhawatiran terkait supply dari rencana pemangkasan produksi Rusia yang cukup masif sekitar 9 juta barrel per day di kuartal dua, manakala ada potensi tensi geopolitik Eropa Timur semakin tereskalasi akibat Ukraina masih terus lancarkan serangan ke kilang minyak Rusia. Di sisi lain, adanya potensi gencatan senjata dari perang Israel-Hamas sedikit memberi angin sejuk terkait stabilitas wilayah Timur Tengah. US WTI melonjak 1.64% ke level USD 81.95/barrel, sementara Brent ditutup menguat 1.55% ke harga USD 86.75/barrel. Pada komoditas lain, harga EMAS stabil menjelang data ekonomi penting AS pekan ini. Harga spot emas naik tipis 0.3% ke level USD 2170.60/ounce.

MARKET ASIA & EROPA: Bicara mengenai keyakinan konsumen, KOREA SELATAN baru saja merilis angka Consumer Confidence (Mar.) mereka pagi ini di level 100.7, turun dari 101.9 bulan sebelumnya; menyiratkan tendensi konsumen kurang optimis memandang aktivitas ekonomi ke depannya. Lebih siang nanti, bank sentral JEPANG akan umumkan tingkat tahunan Core CPI yang diperkirakan turun sedikit ke 2.5% yoy, dari 2.6% posisi sebelumnya. Tak lama kemudian, JERMAN menyusul dengan laporan GfK German Consumer Climate (Apr.), semacam laporan mengenai bagaimana konsumen memprediksi iklim usaha ke depannya, yang mana sepertinya masih akan relatif pesimis walau laju penurunannya mulai melambat.

Corporate News
BFI Finance (BFIN) Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo IDR 590 Miliar Beserta Kupon PT Adhi Commuter pada level idBBB. (Emiten News) Perusahaan pembiayaan PT BFI Finance Indonesia Tbk. (BFIN) menyatakan telah menyiapkan dana untuk pelunasan obligasi berkelanjutan V BFI Finance Indonesia Tahap IV Tahun 2023 Seri A. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (25/3/2024), Direktur BFI Finance Sudjono menyampaikan bahwa obligasi tersebut akan jatuh tempo pada 24 April 2024. “Kami telah menyiapkan dana pelunasan pokok dan bunga Obligasi kepada Pemegang Obligasi Berkelanjutan V BFI Finance Indonesia Tahap IV Tahun 2023 Seri A untuk dikreditkan sebelum tanggal jatuh tempo obligasi tersebut pada 24 April 2024,” ungkap Sudjono, Senin (25/3/2024). Sudjono menyampaikan bahwa BFI Finance telah menyediakan dana pelunasan obligasi dengan jumlah sebesar total keseluruhan pokok dan kupon bunga dari obligasi yang akan jatuh tempo. Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa dana pelunasan obligasi tersebut berasal dari dana internal BFIN yang ditempatkan di rekening giro dan deposito dengan beberapa bank. “Manajemen perseroan berkeyakinan, akan dapat melunasi kewajiban kepada pemegang obligasi tepat pada waktunya baik untuk kupon bunga maupun pokok obligasi,” ungkapnya. (Bisnis)

Domestic Issue
Sri Mulyani Beberkan Pembiayaan Utang Hingga Pertengahan Maret 2024 Turun Tajam Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi pembiayaan utang baik melalui penerbitan surat utang atau pinjaman sudah mencapai IDR 72 triliun hingga 15 Maret 2024. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, dari realisasi pembiayaan utang tersebut di antaranya diperoleh melalui penerbitan surat berharga negara (SBN) neto mencapai IDR 72 triliun atau 10.5% dari target IDR 666.4 triliun. Kemudian berasal dari pinjaman neto IDR 1.9 triliun atau 10.1% dari target sebesar IDR 18.4 triliun dalam APBN. “Angka ini kalau dibandingkan tahun lalu 15 Maret, maka pembiayaan utang kita turun tajam,” tutur Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA, Senin (25/3). Adapun pada 15 Maret 2023 = realisasi pembiayaan utang mencapai IDR 181.4 triliun. Artinya pembiayaan utang hingga 15 Maret 2024 ini turun 60.3% year on year (yoy). Penerbitan SBN juga turun 58.6% yoy atau tahun lalu mencapai IDR 169.5 triliun, dan pinjaman neto juga turun 84,5% yoy atau tahun lalu mencapai IDR 11.9 triliun. Sri Mulyani menyebut, pemenuhan target pembiayaan hingga 15 Maret masih on track atau sesuai dengan yang direncanakan, di tengah kondisi pasar keuangan yang masih volatile. “Kita akan terus menjaga dalam pelaksanaan pembiayaan ini masih tetap terjaga berdasarkan kondisi pasar uang dan pasar obligasi yang sangat dipengaruhi oleh kondisi dari ekonomi global dan sentimen, agar tidak terimbas pada pembiayaan,” jelasnya. (Kontan)

Recommendation

Yield US10YT naik tipis setelah lelang obligasi tenor 2tahun senilai USD 66 milyar, sepertinya pasar telah mulai terbiasa dengan gagasan The Fed memangkas suku bunga tiga kali pada tahun ini. Kenaikan ini juga merupakan antisipasi data PCE price index yang diperkirakan akan sedikit memanas , sehingga yield keburu bergerak naik lebih dulu , finally mencoba break Resistance Moving Average one by one. Sementara MA20 & MA50 kini telah menjadi Support di sekitar yield 4.244% – 4.19%, tinggal MA10 saja di yield 4.26% yang menghalangi jalan naik yield US10YT ; demi menuju TARGET 4.35% / 4.60%. ADVISE : AVERAGE UP accordingly

ID10YT juga sudah berinisiatif menyesuaikan lebih dulu dengan proyeksi kenaikan yield US Treasury , di mana saat ini terlihat ada lonjakan yield ID10YT ke level previous High bulan Dec sekitar 6.75% – 6.77%. ADVISE : WAIT FOR CONFIRMATION to average up. Next TARGET : 6.80% / 6.867% / 6.95% – 6.96%.

Download full report HERE.