Today’s Outlook:
Pasar saham global bergerak flat dan mencari arah seiring Wall Street ditutup libur hari kemerdekaan 4th of July. Pelaku pasar mencari petunjuk dari pengumuman data ekonomi. Dimulai dari Korea Selatan yang melaporkan CPI (Juni) bertumbuh 2.7% yoy, di bawah ekspektasi serta bulan sebelumnya. Jerman mengumumkan surplus Trade Balance (Mei) sebesar EUR 14.4 miliar (lebih kecil dari forecast), merupakan imbas pertumbuhan ekspor & impor mereka yang tak sesuai harapan. Pagi ini Korea Selatan telah melaporkan Cadangan Devisa (Juni) di posisi USD 421.45 miliar (meleset dari prediksi USD 432.26 miliar). Data ekonomi yang lebih krusial mungkin data dari Jepang & China hari ini di mana mereka terjadwal merilis Services PMI (Juni) dan Chinese Composite PMI. Ternyata pun demikian dengan beberapa negara besar Eropa seperti Perancis, Jerman, Zona Eropa, Inggris yang sedianya turut serta mempublikasikan data PMI (Juni) mereka di siang hari WIB nanti. Zona Euro juga akan memantau angka Inflasi di tingkat produsen atau PPI (Mei) yang diperkirakan akan dirilis deflasi -1.3% yoy, versus periode sebelumnya yang positif 1%. Malam harinya, akan keluar data US Factory Orders (Mei) yang mana pertumbuhan bulanannya diperkirakan naik 0.8% mom, ketimbang bulan April 0.4%.

Indonesia telah merilis data PMI Manufaktur (June) di level 52.5, lebih tinggi dari bulan sebelumnya di level 50.3. Laju ekspansi sektor Manufaktur Tanah Air ini merupakan salah satu peningkatan paling cepat yang diamati selama 1,5tahun terakhir. Adapun angka PMI tsb tergolong kuat secara keseluruhan karena mampu melalui PMI Manufaktur Asean yang hanya mencapai 51.0, bahkan mampu mengungguli sejumlah negara2 besar yang tergabung dalam G20 seperti China, AS, dan  Jerman. Mengutip S&P Global, rilis data makroekonomi tsb menandakan peningkatan kesehatan sektor manufaktur Indonesia selama 22bulan berturut-turut.

Harga Emas stabil kembali ke atas USD 1900 / ounce setelah mengantongi kenaikan seiring para investor memperhitungkan segera dirilisnya notulen rapat FOMC Meeting bulan Juni, yang akan memberikan gambaran arah kebijakan suku bunga AS ke depannya. Pelaku pasar sekarang memprediksi adanya 88% kemungkinan bank sentral AS menaikkan suku bunga 25bps pada rapat mendatang bulan Juli. Kelanjutan trend ini sesungguhnya berpotensi memberi tekanan kepada harga Emas di bulan2 mendatang, walaupun pada saat yang sama adanya ekspektasi resesi AS turut menggiring meningkatnya permintaan atas aset safe-haven tersebut.

Bicara mengenai suku bunga, Reserve Bank of Australia telah memutuskan untuk menahan suku bunga acuan mereka di level 4.1% (merupakan tingkat tertinggi dalam 11tahun ) seiring berusaha mencerna imbas kenaikan 400bps yang telah diterapkan sejak May lalu atas keseluruhan ekonomi. Namun bank sentral Australia tsb juga menyebutkan bahwa kenaikan suku bunga berikutnya masih terbuka lebar, secara tingkat Inflasi mereka masih dirasa tinggi di level 5.6% (May), walau telah sukses melandai dari puncak 8.4% pada bulan Desember lalu.

Corporate News
Perusahaan Menara Afiliasi Sandiaga Uno TBIG Tawarkan Obligasi IDR 1,5 Triliun Emiten infrastruktur telekomunikasi Grup Saratoga, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) akan melakukan penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan VI Tower Bersama Infrastructure dengan jumlah pokok sebesar IDR 1,5 triliun. Obligasi ini akan ditawarkan dalam 2 seri, yakni Seri A dengan jumlah pokok sebesar IDR 1 triliun dengan tingkat bunga tetap sebesar 5,9% per tahun dan Seri B yakni sebesar IDR 500 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 6,25% per tahun. (Bisnis)

Domestic Issue
Penawaran Masuk IDR 34 Triliun di Lelang Sukuk, Investor Lokal Mendominasi Penawaran masuk pada lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau lelang sukuk tercatat sebesar IDR 34 triliun, Selasa kemarin (4/7). Aktivitas lelang masih ramai di tengah menurunnya likuiditas. Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kementerian Keuangan Dwi Irianti Hadiningdyah mengatakan, minat investor pada lelang kali ini masih tinggi, disaat kondisi likuiditas yang lebih rendah dibandingkan lelang sebelumnya. Menurunnya likuiditas disebabkan belum adanya Surat Berharga Negara (SBN) yang jatuh tempo di awal bulan Juli ini. Total penawaran yang masuk pada lelang sukuk kali ini sebesar IDR 34,05 triliun. Dari total penawaran masuk, pemerintah memenangkan penawaran lelang sebesar IDR 6 triliun yang sesuai target indikatif. Dengan demikian, lelang hari ini oversubscribe dengan bid to cover ratio sebesar 5,68 kali, atau sedikit lebih rendah dari lelang sebelumnya sebesar 5,91 kali. (Kontan)

Recommendation
US10YT berjuang menempatkan yield benchmark di atas level 3.86% ; maka akan membuka jalan menuju TARGET di sekitar yield 3.97% – 4.0%. ADVISE : Average Up accordingly. Sebaliknya ID10YT memang masih belum bisa bangkit dari keterpurukan dalam pola channel downtrend ini. Yield ID10YT malah terlihat berpotensi menguji Support lower channel di sekitar 6.2% menjadikan investasi pada ID10YT menjadi lebih tidak menarik ketimbang US10YT. Resistance terdekat pastinya adalah MA10 & MA20 pada range yield : 6.291% – 6.309% ; up to 6.32% resistance upper channel . ADVISE : HOLD.

Download full report HERE.