Today’s Outlook:

MARKET AS: Para investor juga menantikan notulen rapat terakhir The Fed, yang dijadwalkan keluar pada hari Rabu, setelah beberapa pejabat The Fed pada hari Selasa kemarin memperkuat pendirian bahwa yang terbaik bagi bank sentral adalah bersabar sebelum mulai menurunkan suku bunga. Tidak kalah penting, data Existing Home Sales (Apr.) juga dijadwalkan keluar malam ini. Tak pelak penantian sejumlah informasi krusial ini membuat kebanyakan pelaku pasar mengambil sikap menunggu sebelum positioning lebih banyak. Pasar saat ini memperkirakan peluang 64,8% untuk pemotongan setidaknya 25 basis poin pada pertemuan bank sentral bulan September, menurut CME FedWatch Tool.

INDONESIA: Sementara US menunggu FOMC Meeting Minutes pada hari Kamis dini hari jam 01.00 WIB ketika Indonesia sudah memulai libur long weekend terkait Hari Raya Waisak & cuti bersama, lebih dulu hari ini Bank Indonesia akan putuskan suku bunga BI7DRR yang ramai diperkirakan masih akan bertahan di level 6.25%.

MARKET ASIA & EROPA: Pagi ini JEPANG telah memulai publikasi serangkaian indikator ekonomi seperti: Core Machinery Orders yang mengukur total nilai pesanan baru di pabrik-pabrik mesin, merupakan indikator kunci atas investasi & produksi barang-barang manufaktur; ternyata keluar lebih kuat dari perkiraan di bulan Maret. Kabar baik lainnya adalah Jepang mencatat pertumbuhan Export & Import di bulan April walau belum berhasil memenuhi ekspektasi. Lebih lanjut siang ini, giliran INGGRIS yang akan jadi pusat perhatian para pelaku pasar EROPA khususnya di mana mereka mengumumkan level Inflasi di bidang konsumen & produsen, di mana CPI (Apr.) diharapkan mampu melandai ke tingkat 2.1% yoy, mendingin dari bulan sebelumnya 3.2%. Prospek perekonomian di Eropa tampaknya lebih positif dengan Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa dia sangat yakin bahwa Inflasi EUROZONE terkendali. ECB telah menjanjikan penurunan suku bunga pada tanggal 6 Juni, sehingga para pembuat kebijakan sudah mengalihkan perhatian mereka ke arah suku bunga setelahnya.

KOMODITAS: Harga MINYAK turun 1% pada hari Selasa karena Inflasi AS yang berkepanjangan tampaknya akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama lagi, sehingga membebani demand atas energy. Futures minyak mentah BRENT turun 1%, menjadi USD 82,88/barel; sedangkan futures US WTI untuk bulan Juni, 0,7%, menjadi USD 79,26. Kontrak Juli yang lebih aktif bahkan ditetapkan lebih rendah lagi pada USD 78,66. Para trader meyakini bahwa biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan permintaan minyak. Para analis menilai market saat ini fokus pada angka permintaan bensin di AS seiring munculnya tanda-tanda konsumen menghemat pemakaian kendaraan pribadi akibat tingginya Inflasi. Wajar jika para trader minyak ini mengambil sikap menunggu karena pasar tengah menunggu notulen rapat terakhir The Fed malam ini, berbarengan dengan data mingguan stok cadangan minyak AS dari EIA. Adapun American Petroleum Institute (API) telah lebih dulu merilis angka persediaan minyak mentah & bensin AS untuk pekan yang berakhir 17 Mei, di mana stok tercatat naik 2,48 juta barrel; berkebalikan dengan kondisi pekan sebelumnya yang drop 3,1 juta barrel. Sebagian besar pasar kelihatannya tidak terpengaruh oleh berita tewasnya Presiden Iran Ebrahim Raisi, seorang garis keras dan calon penerus Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali.

Corporate News
Summarecon Agung (SMRA) Terbitkan Obligasi IDR 1.3 Triliun, Ini Penggunaan Dananya
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan IV Summarecon Agung Tahap III Tahun 2024 dengan nilai pokok IDR 1.3 triliun. Surat utang ini akan terbagi dalam dua seri. Obligasi Seri A ditawarkan sebesar IDR 329 miliar dengan bunga Obligasi sebesar 8.25% per tahun. Jangka waktu Obligasi adalah tiga tahun. Pembayaran Obligasi dilakukan secara penuh (bullet payment) sebesar 100% dari Pokok Obligasi Seri A pada saat tanggal jatuh tempo. Obligasi Seri B ditawarkan sebesar IDR 971 miliar dengan bunga Obligasi sebesar 9.30% per tahun. Jangka waktu Obligasi adalah lima tahun. Pembayaran Obligasi dilakukan secara penuh (bullet payment) sebesar 100% dari Pokok Obligasi Seri B pada saat tanggal jatuh tempo. Dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum Obligasi ini, setelah dikurangi dengan biaya -biaya Emisi, seluruhnya akan digunakan Perseroan untuk tiga hal utama. Pertama, sebesar IDR 606.23 miliar akan digunakan untuk peningkatan penyertaan modal oleh Perseroan pada Summarecon Property Development (SMPD) yang akan menyebabkan Perseroan akan tetap memiliki 99.99% kepemilikan saham dalam SMPD. Kedua, sebesar IDR 200 miliar untuk mendanai seluruh kewajiban Perseroan dalam rencana pelunasan seluruh pokok Obligasi Berkelanjutan III Tahap II Tahun 2019 (Obligasi Berkelanjutan III Tahap II) Seri B yang akan jatuh tempo pada tanggal 15 Oktober 2024. Ketiga, sebesar IDR 486.62 miliar untuk modal kerja Perseroan yang akan dipergunakan untuk kegiatan operasional. (Kontan)

Domestic Issue
Pemerintah Kantongi IDR 8.1 Triliun Hasil Lelang Sukuk, Senin (20/5)
Pemerintah Senin 20 Mei 2024 kemarin melaksanakan lelang tujuh seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), masing-masing seri SPNS18112024 (reopening), SPNS02022025 (reopening), PBS032 (reopening), PBS030 (reopening), PBS004 (reopening), PBS039 (reopening) dan PBS038 (reopening) melalui sistem lelang Bank Indonesia. Dari ketujuh seri SBSN atau Sukuk Negara yang dilelang, Direktorat Pembiayaan Syariah, Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan RI mencatat total penawaran yang masuk mencapai sebesar IDR16.501 triliun. Rinciannya, untuk seri SPNS18112024, total penawaran yang masuk sebesar IDR 2.0975 triliun, seri SPNS02022025 IDR 3.3145 triliun, seri PBS032 IDR 3.794 triliun, seri PBS030 IDR 0.860 triliun, seri PBS004 IDR 0.723 triliun, seri PBS039 IDR 0.1925 triliun, dan seri PBS038 sebesar IDR 5.5195 triliun. Sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara, Menteri Keuangan menetapkan hasil lelang sebagai berikut: SBSN seri SPNS18112024, nominal yang ditarik sebesar IDR 0.250 triliun, seri SPNS02022025 IDR 0.650 triliun, seri PBS032 IDR 2.150 triliun, seri PBS030 IDR 0.250 triliun dan seri PBS004 sebesar IDR 4.800 triliun. Sedang untuk dua seri lainnya, yakni seri PBS039 dan PBS038, tidak ada yang ditarik. Dengan demikian dari ketujuh seri SBSN yang ditawarkan dari lelang tersebut pemerintah total mengantongi Rp8,1 triliun.(Emiten News)

Recommendation

US10YT : Sudah mulai ada tanda2 bahwa yield US Treasury tenor 10 tahun memilih jalan menurun di dalam panduan pola PARALLEL CHANNEL (black), menuju TARGET sekitar 4.247% / 4.08% dari broken patterns sebelumnya. ADVISE : jika yield lanjutkan konsolidasi maka mulai kembali collect obligasi ini demi mengincar kenaikan harganya.

ID10YT memang masih dalam trajectory turun berpola PARALLEL CHANNEL (pink) dan hendak menguji Resistance silangan dua garis serta MA20 pada yield sekitar 7.03-7.04%. Jika level tsb tidak tertembus maka yield akan kembali lanjutkan konsolidasi (= Harga naik).

Download full report HERE.