Today’s Outlook:

MARKET AS: Turunnya angka lowongan pekerjaan ke posisi terendah dalam 3 tahun menunjukkan nyatanya pertumbuhan ekonomi AS, namun di sisi lain juga meningkatkan harapan penurunan suku bunga Federal Reserve tahun ini. Sedikit banyak hal ini membantu memperkuat beberapa spekulasi para pelaku bahwa Federal Reserve akhirnya mungkin punya alasan untuk menurunkan suku bunga tahun ini sebanyak 2 kali. Peluang pivot pertama terjadi di bulan September lompat ke angka 55% dari 44.9% pada pekan lalu, seperti dilansir dari Fed Rate Monitor Tool milik Investing.com. Sebagai tanggapannya, YIELD US TREASURY pun terseret turun ke titik terendah dalam 2 minggu, setelah aktivitas manufaktur AS dirilis merosot untuk bulan kedua berturut-turut pada Mei. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang menjadi acuan, turun 7 basis poin menjadi 4,332% dan sempat mencapai Low 4,314%, terendah sejak 16 Mei. Imbal hasil obligasi tenor 2 tahun turun 5 basis poin menjadi 4,773% setelah mencapai titik Low 4,749%, juga terendah sejak 16 Mei . Nanti malam giliran data tenaga kerja ADP Nonfarm Employment Change yang akan jadi sorotan, secara forecast memperkirakan bahwa penambahan lapangan kerja di sektor swasta itu akan alami penurunan di bulan May, menjadi 173 ribu saja dari 192 ribu yang tercipta di bulan sebelumnya. Bersamaan dengan itu, angka sektor jasa AS menurut S&P Global Services PMI diprediksi semakin menguat di wilayah ekspansif.

MARKET EROPA & ASIA: Inflasi di SWISS tetap stabil pada bulan May, meningkatkan ekspektasi market bahwa Swiss National Bank akan memotong kembang suku bunga di akhir bulan ini. “Indeks ketakutan” di Wall Street, atau VIX, naik paling tinggi dalam seminggu, serupa dengan kenaikan tajam indeks volatilitas Euro STOXX ke level tertinggi dalam 1 bulan. Di Eropa, investor memperkirakan EUROPEAN CENTRAL BANK pada hari Kamis akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%. Di INDIA, pasar saham mengalami aksi jual tajam setelah penghitungan suara awal menunjukkan aliansi Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi sepertinya tidak akan menuju kemenangan telak seperti yang diperkirakan. Kemenangan Modi diharapkan berdampak positif bagi pasar keuangan negara tersebut, dengan harapan India akan melakukan reformasi ekonomi lebih lanjut. Berkurangnya prospek aliansi Modi untuk memenangkan mayoritas suara mengguncang keyakinan para investor. Adapun kedua indeks telah menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada hari Senin. Kegelisahan terkait politik juga memukul Peso Meksiko dan Rand Afrika Selatan. Kedua mata uang tersebut turun sekitar 1,1%, menyusul hasil Pemilu di negara-negara tersebut.

CURRENCY: US DOLLAR menyentuh level terendah dalam 2 bulan terakhir terhadap Euro dan Poundsterling , di tengah gagasan perlambatan ekonomi AS akan menjustifikasi penurunan suku bunga tahun ini. US Dollar turun 1% terhadap Yen, yang sebaliknya dipandang oleh banyak orang sebagai aset safe-haven karena rendahnya suku bunga. Adapun Yen berada pada posisi nilai tukar 154,71/ USD , sekitar level terendah dalam 2 minggu dan turun lebih dari 3% dari level tertinggi beberapa tahun terakhir di bulan April di 160,03. DOLLAR INDEX , yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang utama lainnya, naik 0,1% ke level 104,15.

KOMODITAS: MINYAK, TEMBAGA, EMAS melemah seiring menguatnya mata uang AS. Minyak mentah US WTI turun 1,2% menjadi USD 73,33/barel. Minyak mentah BRENT juga turun 1% menjadi USD 77,56. Kedua patokan harga tersebut mencapai titik terendah dalam 4bulan di hari Senin setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, setuju untuk mulai mengurangi sejumlah pemangkasan produksi sukarela mulai bulan Oktober. Tercatat pula peningkatan stok cadangan minyak mentah AS sebanyak 4 juta barrel untuk pekan yang berakhir 29 Mei, merupakan suatu kejutan tak terduga dari perkiraan turun 1,9 juta barrel; demikian seperti dilaporkan oleh American Petroleum Institute. EMAS turun 1% menjadi USD 2,326.98/ounce, sementara COPPER, yang mencapai rekor tertinggi bulan lalu, turun 1,5% menjadi USD 10,193 per ton.

Corporate News
Indomobil Finance Indonesia Rilis Obligasi Senilai IDR 2.83 Triliun
PT Indomobil Finance Indonesia akan menerbitkan obligasi berkelanjutan V tahap III tahun 2024 senilai IDR 2,83 triliun. Obligasi berkelanjutan V ini bagian dari rangkaian penerbitan obligasi yang telah dirilis sejak 2022, dengan target dana IDR 5 triliun. Pada tahap III, emiten obligasi dengan kode IMFI ini merilis tiga seri. Seri A dirilis sebesar IDR 1,4 triliun dengan bunga 6,85% per tahun bertenor 370 hari. Seri B ditawarkan IDR 611,16 miliar dengan bunga 7,15% dan tenor tiga tahun. Sementara seri C dirilis IDR 814,87 miliar dengan tenor lima tahun, plus kupon 7,4%. Masa penawaran umum obligasi ini dipatok pada 12-14 Juni, penjatahan 19 Juni, pengembalian uang pesanan dan distribusi obligasi 21 Juni. Sementara pencatatan di BEI dipatok pada 24 Juni. Jika penerbitan kali ini sukses, maka Indomobil

Domestic Issue
Lelang SBSN Selasa Ini, Pemerintah Serap IDR 10 Triliun
Dalam lelang Surat Berharga Syariah Negara pada Selasa (4/6/2024), pemerintah menyerap IDR 10 triliun. Pemerintah melelang SBSN untuk seri SPNS02122024 (reopening), SPNS03032025 (new issuance). Lalu, PBS032 (reopening), PBS030 (reopening), PBSG001 (reopening), PBS004 (reopening) dan PBS038 (reopening). Dari lelang SBSN itu, total penawaran yang masuk sebesar IDR 26.20 triliun. Rinciannya, untuk seri SPNS02122024 jumlah penawaran yang masuk IDR 2.20 triliun, SPNS03032025 sebesar IDR 3,73 triliun, PBS032 sebesar IDR 9,11 triliun, PBS030 sebesar IDR 1,35 triliun, PBSG001 sebesar IDR 3,27 triliun, PBS004 sebesar IDR 0,77 triliun dan PBS038 sebesar IDR 5,75 triliun. Untuk seri SPNS02122024 jumlah nominal yang dimenangkan sebesar IDR 0.8 triliun, SPNS03032025 sebesar IDR 2.35 triliun dan PBS032 sebesar IDR 2.4 triliun. Seri PBS030 sebesar IDR 0.15 triliun, seri PBSG001 sebesar IDR 2.6 triliun, seri PBS004 sebesar IDR 0.3 triliun dan seri PBS038 sebesar IDR 1.4 triliun. Dengan demikian total nominal yang dimenangkan pada lelang SBSN hari ini adalah sebesar IDR 10 triliun. (Emiten News)

Recommendation

ID10YT kembali dihadapkan uji area Support sekitar yield 6.90% – 6.83%. ADVISE : WAIT & SEE untuk memastikan wilayah Support ini bertahan. Jika yield kembali rebound dan mampu closing di atas 6.93%, maka akan memicu kembali swing turun pada harga.

US10YT di luar dugaan akhirnya jebol Support yield 4.41% setelah rilis data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari ekspektasi ; dengan demikian membuka peluang konsolidasi lebih lanjut menuju yield 4.26% utk jk.pendek. ADVISE : harga perlahan mulai kembali merangkak naik ; oleh karena itu akumulasi bertahap.

Download full report HERE.