Pelaku pasar mencerna hasil FOMC Meeting Minutes yang menyatakan bahwa hampir seluruh pejabat Federal Reserve setuju untuk menetapkan besaran kenaikan suku bunga mendatang menjadi 25bps dan membawa FFR ke level 4.75% pada FOMC mendatang bulan Maret. Selain itu mereka juga menekankan bahwa tingkat inflasi tinggi tetap akan menjadi factor utama yang akan menentukan arah kebijakan moneter, serta kenaikan suku bunga lanjutan masih akan terus dilakukan sampai tingkat inflasi terbukti terkendali (melandai). Para partisipan pasar keuangan sudah mulai memperhitungkan Fed Fund Rate akan memuncak di level 5.35% pada bulan Juli dan akan menetap di sekitar angka tsb sampai akhir tahun. US Treasury tenor 10tahun sontak menguat, ditutup sekitar titik tertinggi perdagangan harian.

Sementara dari benua Eropa, CPI Jerman (Feb.) keluar di angka 8.7% sesuai konsensus pasar, berarti masih lebih tinggi dari Januari di 8.6% , menandakan inflasi masih sulit untuk ditaklukkan. Ini akan memuluskan rencana European Central Bank untuk menaikkan suku bunga 50bps pada Maret nanti ; dan membuat negara2 Barat ini bersatu padu dalam nada kebijakan moneter ketat. Hari ini akan kembali menyusul serangkaian data makroekonomi salah satunya dari Zona Eropa : Inflasi (Jan.) dan dari AS : GDP 4Q22, Initial Jobless Claims, dan Crude Oil Inventories. Adapun indeks energi telah turun selama 7 sesi berturut-turut dipicu oleh kekuatiran visi perlambatan ekonomi akan mengurangi demand global.

Corporate News
S&P 500: Obligasi Properti Bakal Landai Tahun Ini Lembaga Rating S&P Global memprediksi pasar obligasi sektor properti akan landai tahun ini dikarenakan aksi perusahaan yang diperkirakan akan melakukan ekspansi secara terbatas melalui instrumen utang. Dalam risetnya, S&P menyebutkan sektor ini akan lebih konservatif dalam menyusun anggaran belanja modal (Capex) dikarenakan kenaikan biaya konstruksi dan efek Pemilu 2024 yang diperkirakan meningkat sejumlah lima persen. S&P Global menyebutkan beberapa emiten properti membutuhkan kucuran dana pada 2023 dan 2024 seperti PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN), PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), dan PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI). (Bisnis.com)

Domestic Issue
Prediksi S&P: Obligasi Korporasi Indonesia 2023 Stabil S&P Global menilai obligasi korporasi di Indonesia akan cenderung stabil di 2023. Adapun menurut publikasi S&P tersebut, obligasi yang akan jatuh tempo dari 2023 hingga 2025 yang nilainya USD 3 juta hingga USD 3.5 juta sebagian besar terdiri dari perusahaan berkapitalisasi besar dan BUMN. Selain itu, S&P mencatat juga obligasi yang diterbitkan perusahaan lebih kecil yang akan jatuh tempo di 2023 dan 2024, sudah melakukan upaya restrukturisasi, negosiasi ulang dan pendanaan kembali di tahun lalu yang diharapkan agar mendorong jatuh tempo bisa ditunda hingga 2026 supaya bisa memberikan kelegaan terhadap pasar dan memitigasi dampak akibat ketidakpastian menjelang Pemilu 2024. (Bisnis.com)

Recommendation
US10YT US10YT tampaknya confirm membentuk pola bullish reversal DOUBLE BOTTOM yang mengandung potensi naik cukup signifikan menuju TARGET yield 4.48-4.49 (setara dengan target pola sebelumnya yaitu Falling Wedge). Saat ini uji Support Neckline tengah berlangsung di level 3.905. ADVISE : Average Up accordingly selepas Uji Support terbukti sukses dan yield naik ke atas level previous High 3.966 – 4.0 (level psikologis). ID10YT ID10YT melonjak ke level 6.862 dari sebelumnya 6.731 , menempatkan yield ke atas Resistance MA50 & mengkonfirmasi sejumlah pola bullish reversal ; serta membuka jalan penguatan menuju TARGET yield : 6.99-7.0 / 7.06 / 7.19-7.20. ADVISE : Average Up accordingly above 6.904.

Download full report HERE.