Today’s Outlook:
MARKET AS: Yield US Treasury kembali turun setelah Departemen Keuangan AS mengatakan pihaknya memperkirakan akan meminjam $76 miliar lebih sedikit pada kuartal 4Q23 ini dibandingkan perkiraan pada kuartal ketiga , di tengah ekspektasi penerimaan pendapatan yang lebih tinggi. DepKeu AS memperkirakan akan meminjam $776 miliar pada kuartal keempat, turun dari $852 miliar pada kuartal sebelumnya, dengan asumsi saldo kas akhir Desember sebesar $750 miliar, seperti dikutip dari department ybs. Adapun imbal hasil obligasi Treasury 10-tahun terakhir naik 4,1 basis poin menjadi 4,886%, setelah mencapai 4,922% pada hari sebelumnya. Pekan lalu, obligasi acuan ini mencapai level tertinggi dalam 16 tahun di 5,021%. Hari Selasa ini The Fed akan memulai rapat 2-harinya yang diperkirakan akan menghasilkan keputusan menahan suku bunga tetap di range 5.25%-5.50%. Para investor akan lebih fokus pada statement Fed Chairman Jerome Powell mengenai arah kebijakan moneter ke depannya.

Namun sebelum itu, Bank of Japan akan mengawali pekan ini dalam penentuan suku bunga. Seperti dikutip dari laporan Nikkei, trend naik suku bunga global belakangan ini semakin menekan BOJ untuk mempertimbangkan penyesuaian kebijakan yield curve control, dengan mengizinkan yield obligasi negara Jepang tenor 10 tahun naik ke atas 1%; maka mendorong Yen menguat ke level JPY148.81/ USD (merupakan level terkuat sejak 17 Oktober). Dari benua Eropa, Bank of England akan melengkapi “tiga serangkai” bank sentral dalam penetapan suku bunga pekan ini yang sedianya terjadwal Kamis nanti. Adapun Dollar Index jatuh 0.469%, sementara Euro merangkak naik 0.51% pada USD1.0618/EUR.

KOMODITAS: Harga Minyak anjlok hampir 4% pada perdagangan Senin, seiring para pelaku pasar mengalihkan perhatian dari KONFLIK TIMUR TENGAH ke keputusan suku bunga dari Federal Reserve. Namun sebelum FOMC Meeting itu, para trader juga menunggu data kunci PMI dari China, yang akan lebih memberikan gambaran mengenai kesehatan aktifitas bisnis di negara importer Minyak terbesar dunia tersebut. Ekonomi China terlihat mulai stabil beberapa bulan belakangan ini; pengawas penerbangan negara tersebut menyebutkan bahwa mereka akan meningkatkan traffic penerbangan domestic 34% di atas level sebelum pandemi: merupakan katalis positif bagi oil demand, walau pemakaian fuel perjalanan udara hanya tergolong porsi kecil dalam konsumsi bahan bakar China secara keseluruhan.

MARKET EROPA: Jerman merilis GDP kuartal 3/2023 di mana ekonomi negara terbesar di Eropa tersebut kembali masuk ke wilayah resesi dengan pertumbuhan minus 0.3% yoy (-0.1% qoq) walau perlambatan ekonomi ini tergolong lebih baik dari prediksi -0.7% yoy (forecast kuartalan: -0.3% qoq). Jerman juga telah mengumumkan perkiraan tingkat Inflasi di bulan Oktober yang sepertinya berhasil melandai ke level 3.8% yoy (lebih rendah dari forecast 4.0% maupun bulan sebelumnya 4.5%). Siang ini akan kembali dinantikan data ekonomi dari Jerman yaitu Retail Sales (Sept.) yang diperkirakan semakin menguat. Bicara mengenai Inflasi, Eurozone juga akan mengawali perkiraan CPI bulan Oktober, di mana wilayah ini berharap bisa melihat tingkat Inflasi semakin mendingin ke angka 3.2% yoy, dari 4.3% di bulan September. Adapun ramalan GDP 3Q23 Eurozone mengerut menjadi 0.2% yoy dari 0.5% di kuartal 2/2023.

Corporate News
Astra Sedaya Finance Terbitkan Obligasi IDR 1 Triliun, Kupon 6.05%-6.45% Perusahaan pembiayaan PT Astra Sedaya Finance diketahui akan menerbitkan obligasi berkelanjutan tahap keenam sebesar IDR 1 triliun. Fitch Ratings Indonesia telah menerbitkan peringkat ‘AAA(idn)’ pada obligasi tahap kedua PT Astra Sedaya Finance (ASF, BBB/AAA(idn)/Stabil) yang diterbitkan dalam program obligasi keenamnya ini. Dikutip dari keterangan resmi Fitch, obligasi tersebut terdiri dari: Seri A: Obligasi 370 hari senilai IDR 188.55 miliar dengan bunga 6.05% tenor jatuh tempo November 2024. Seri B: Obligasi tiga tahun senilai IDR 750.62 miliar dengan bunga 6.40% jatuh tempo Oktober 2026. Seri B: Obligasi lima tahun senilai IDR 60.84 miliar dengan bunga 6.45% jatuh tempo Oktober 2028. (Media Asuransi)

Domestic Issue
Utang Pemerintah Naik Jadi IDR 7,891T Utang pemerintah hingga akhir September 2023 mencapai IDR 7,891.61 triliun. Jumlah itu bertambah IDR 21.26 triliun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai IDR 7,870.35 triliun.Pertambahan utang membuat rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) per September 2023 menjadi 37.95%, naik dari bulan sebelumnya yang di level 37.84%. Posisi itu masih di bawah batas yang telah ditetapkan yakni 60% PDB sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Mayoritas utang pemerintah sampai September 2023 masih didominasi oleh instrumen SBN yakni 88.86% dan sisanya pinjaman 11.14%. Secara rinci, jumlah utang pemerintah dalam bentuk SBN IDR 7,012.76 triliun. Terdiri dari SBN dalam bentuk domestik sebesar IDR 5,662.19 triliun yang berasal dari Surat Utang Negara IDR 4,602.05 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebesar IDR 1,060.14 triliun. Sedangkan jumlah utang pemerintah dalam bentuk SBN valuta asing hingga September 2023 sebesar IDR 1,350.57 triliun. (Detik Finance)

Recommendation
Bullish yield US10YT in overall masih tetap intact di sekitar Support MA10/4.889%. Sekalipun yield harus meluncur turun lagi ke Support MA20 sekitar 4.80% itupun sejatinya belum mengganggu trend naik. ADVISE: HOLD; atau kurangi posisi, set your Trailing Stop; later BUY ON WEAKNESS sekitar Support lower channel atau yield 4.726%.

ID10YT dalam rangka mencari Support yield yang cukup solid, sementara ini diperkirakan masih akan bergantung pada MA10 di kisaran Support yield 7.111% walau sesungguhnya itu belum mengganggu trend naik yield ID10YT. ADVISE: HOLD; atau SELL ON STRENGTH (= kurangi posisi Sebagian).

Download full report HERE.