XA Update Report | PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) – Pemulihan Operasional Berlanjut Dalam Perjalanan Unlock Value Meski Dibayangi Tekanan Pencatatan Akuntansi
By Leonardo Lijuwardi (Senior Analyst) & Gwenda Deanita (Associate)
20-May-2026
TLKM membukukan pendapatan 4Q25 sebesar IDR 37.1T (+1.4% QoQ, -1.7% YoY) dan menutup FY25 di level IDR 146.7T (-2.2% YoY), di tengah pelemahan pada sebagian besar segmen bisnis — mulai dari voice, interkoneksi, hingga network services — yang hanya sebagian mampu diimbangi oleh pemulihan pada segmen data & internet. Dari sisi operasional, opex meningkat +10.1% YoY dan +15.8% QoQ pada 4Q25 menjadi IDR 31.7T, terutama dipicu lonjakan biaya D&A (+41.9% QoQ, +26.7% YoY) akibat percepatan depresiasi aset serta kenaikan biaya karyawan dari program Early Retirement Program (ERP). Hal tersebut memberikan tekanan signifikan terhadap laba operasional yang turun menjadi IDR 5.5T (-41.0% QoQ, -39.2% YoY), dengan margin operasional terkompresi tajam menjadi 14.7% (vs. 25.3% pada 3Q25). Laba bersih tercatat sebesar IDR 2T (-57.8% QoQ, -57.1% YoY), dengan NPM sebesar 5.5% (vs. 13.1% pada 3Q25). Secara full-year, laba bersih FY25 tercatat sebesar IDR 17.8T (-20.5% YoY), dengan NPM sebesar 12.1% (vs. 14.9% pada FY24). Ke depan, manajemen memberikan guidance pertumbuhan pendapatan normalisasi sebesar 1–3% pada FY26, yang mengindikasikan pemulihan bertahap dibandingkan kontraksi -2.2% pada FY25.
🔹 Segmentasi Bisnis: ARPU Telkomsel Membaik di 4Q25, Kinerja IndiHome Masih Datar
• Kinerja 4Q25 Membaik — Kenaikan ARPU Mendorong Pertumbuhan Segmen Data & Internet. ARPU mobile (Telkomsel) TLKM meningkat menjadi IDR 45 ribu (+3.6% QoQ dan +2.3% YoY) pada 4Q25, sementara jumlah pelanggan relatif stabil (-1% QoQ dan -2.1% YoY), sehingga mendorong pendapatan segmen data & internet menjadi IDR 25.2T (+13.1% QoQ, +11.6% YoY). Pertumbuhan kuartalan tersebut turut didukung oleh reklasifikasi akuntansi pada layanan product services Telkomsel. Namun secara full-year, pendapatan segmen masih cenderung stagnan (-0.5% YoY), seiring kompetisi yang semakin intens dan perubahan struktural perilaku penggunaan layanan mobile yang masih menekan bisnis digital Telkomsel (-1.9% YoY).
• IndiHome Masih Tertekan akibat Kompetisi dan Pergeseran Perilaku Konsumen. Pendapatan IndiHome turun menjadi IDR 6.4T pada 4Q25 (-1.4% QoQ, -3.0% YoY), dengan pendapatan FY25 relatif stagnan di level IDR 26.2T (-0.5% YoY). Pelemahan ini sejalan dengan tren ARPU yang terus menurun (-2.7% QoQ, -10.1% YoY). Kami melihat tren tersebut tidak hanya mencerminkan pergeseran pelanggan menuju paket internet dengan harga lebih rendah, tetapi juga meningkatnya intensitas persaingan dalam industri FBB, yang tercermin dari dinamika kompetisi pasar, strategi akuisisi pelanggan yang lebih selektif, serta perubahan preferensi pelanggan menuju paket internet-only.
• Network & Other Telco Services Mengalami Distorsi Kuartalan akibat One-Off Item. Pendapatan FY25 untuk segmen network & other telco services relatif stabil di level IDR 13.5T (+0.2% YoY), didukung kinerja solid dari solution services, network, dan payment solutions. Penurunan tajam pada 4Q25 menjadi IDR 2.2T (-42.1% QoQ) lebih bersifat teknikal, dipicu oleh dekonsolidasi bisnis e-health (AdMedika) menjelang proses divestasi serta reklasifikasi akuntansi terkait layanan product solutions services Telkomsel.
🔹 Kinerja Operasional: Lonjakan Beban Dipicu D&A – Perubahan Pencatatan Akuntansi dan G&A
• Lonjakan Beban D&A akibat Perubahan Perlakuan Akuntansi. Beban D&A meningkat tajam pada 4Q25 (+41.9% QoQ, +26.7% YoY), didorong oleh percepatan depresiasi setelah reklasifikasi drop cable dan sejumlah aset jaringan lainnya. Hal ini menyebabkan beban D&A FY25 meningkat +10.15% YoY menjadi IDR 37.6T (FY24: IDR 34.2T). Umur ekonomis aset direvisi dari sebelumnya 25 tahun menjadi sekitar 5–10 tahun, guna mencerminkan praktik akuntansi yang lebih sesuai dengan standar industri. Perubahan ini juga diharapkan menghasilkan valuasi aset yang lebih representatif dalam konteks rencana spin-off aset fiber TLKM ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (Infranexia) yang ditargetkan selesai pada 3Q26.
• Opex Tertekan oleh Beban Karyawan dan G&A. Selain lonjakan beban D&A, opex meningkat menjadi IDR 4.5T (+16.5% QoQ, +10.1% YoY), yang turut dipengaruhi kenaikan biaya karyawan terkait program ERP yang mencakup 612 karyawan. Beban G&A tercatat sebesar IDR 1.6T (-3.8% QoQ, +22.8% YoY), dengan penurunan kuartalan didorong perbaikan penagihan subscription B2B. Secara full-year, beban G&A FY25 meningkat 6% YoY, terutama mencerminkan kenaikan pencadangan di Telkomsel untuk segmen IndiHome B2C dan postpaid mobile. Secara keseluruhan, laba operasional 4Q25 turun menjadi IDR 5.5T (-41% QoQ, -39.2% YoY), sehingga laba operasional FY25 tercatat sebesar IDR 34.6T (-16.4% YoY).
🔹 Guidance Manajemen Untuk FY26 & Our Forecast View
• Menargetkan Margin EBITDA yang Lebih Baik dan Normalisasi Kinerja. Manajemen menargetkan pertumbuhan pendapatan normalisasi sebesar 1–3% pada FY26, mencerminkan pemulihan moderat dibandingkan kontraksi -2.2% pada FY25. Margin EBITDA ditargetkan berada di atas 50% (FY25: 49%), yang merefleksikan optimisme manajemen terhadap perbaikan efisiensi operasional. Intensitas capex diperkirakan berada di kisaran 17–19% terhadap pendapatan, mengindikasikan tidak adanya peningkatan signifikan dalam investasi jaringan.Berdasarkan guidance terbaru tersebut, kami memproyeksikan pendapatan FY26F TLKM tumbuh +1.2% YoY, didukung perbaikan ARPU khususnya dari Telkomsel, serta strategi monetisasi yang lebih disiplin. Kami juga memperkirakan FY26 akan menjadi awal normalisasi laba, didukung efisiensi operasional yang membaik dan struktur biaya yang lebih sehat. Dengan demikian, kami memproyeksikan laba bersih FY26F pulih menjadi IDR 23.7T (+32.8% YoY).
🔹 Upgrade Rekomendasi Menjadi “Buy” dengan Target Price di IDR 3,700 / Lembar (Upside +20.1%)
• NHKSI Research menaikkan rekomendasi Telkom Indonesia (TLKM) dari sebelumnya Hold menjadi Buy dengan target harga IDR 3.700/ lembar, yang merefleksikan valuasi sebesar 5.4x F-EV/EBITDA (+1 standar deviasi di atas rata-rata historis 3 tahun). Kami menilai valuasi TLKM saat ini masih atraktif, didukung tekanan jual asing yang relatif minim berdasarkan price action saham, serta karakter defensif TLKM yang menjadikannya instrumen lindung nilai di tengah volatilitas pasar saham Indonesia.Selain memiliki profil bisnis yang resilien dan stabil, berbagai inisiatif strategis TLKM seperti perampingan operasional, upaya unlock value aset fiber melalui Infranexia, serta ekspansi bisnis data center berpotensi menjadi katalis positif jangka menengah, seiring perusahaan memasuki fase bisnis yang semakin mature.
• Dalam jangka pendek, kami melihat sejumlah katalis positif yang dapat mendukung rerating TLKM, di antaranya keberhasilan implementasi efisiensi operasional, serta potensi peningkatan ARPU dan yield sejalan dengan pemulihan kondisi industri. Sementara itu, risiko utama yang perlu dicermati meliputi pelemahan daya beli masyarakat yang dapat menekan permintaan layanan data, meningkatnya intensitas persaingan antar operator telekomunikasi khususnya dari sisi harga, serta potensi keterlambatan dalam proses transformasi bisnis TLKM.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.
NH Korindo Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubuni CS kami via email CSO@nhsec.co.id

