Today’s Outlook :

 

• PASAR AS :Wall Street ditutup melemah pada Selasa, tertekan belum adanya terobosan negosiasi antara AS dan Iran serta kembali meningkatnya aksi jual obligasi global. Saham teknologi ikut melemah menjelang laporan keuangan NVIDIA, meski berhasil memangkas sebagian penurunan di akhir sesi. S&P 500 turun 0,6% ke 7.355,45 poin, NASDAQ Composite melemah 0,8% ke 25.870,71 poin, dan Dow Jones turun 0,7% ke 49.364,31 poin.

 

 

Perkembangan konflik Timur Tengah masih menjadi perhatian utama pasar setelah Presiden Donald Trump mengatakan telah membatalkan rencana serangan baru terhadap Iran usai permintaan dari tiga pemimpin negara Teluk. Trump menyebut negosiasi serius sedang berlangsung dan optimistis kesepakatan damai dapat tercapai.

 

 

Media pemerintah Iran melaporkan Teheran telah mengirim proposal perdamaian kepada AS yang mencakup penghentian konflik di berbagai wilayah, pencabutan sanksi, pembukaan blokade pelabuhan Iran, hingga penarikan pasukan AS dari area dekat Iran. Reuters juga melaporkan Pakistan turut menjadi perantara dalam penyampaian proposal tersebut.

 

 

Di pasar obligasi, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,667%, tertinggi sejak Januari 2025, sementara yield tenor 30 tahun mencapai 5,180%, level tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield ini biasanya memberi tekanan lebih besar pada saham teknologi karena valuasinya sangat bergantung pada ekspektasi laba masa depan.

 

 

 

• PASAR EROPA :Bursa saham Eropa bergerak mixed pada Selasa di tengah harapan bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran masih mungkin tercapai. Indeks Stoxx 600 Eropa naik 0,2%, DAX Jerman menguat 0,5%, FTSE 100 Inggris naik tipis 0,1%, sementara CAC 40 Prancis melemah 0,1%.

 

 

Pasar masih dibayangi kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi akibat perang dapat memicu inflasi global dan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Meski begitu, sentimen pasar saham tetap didukung optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI). Fokus investor kini tertuju pada laporan keuangan NVIDIA pekan ini, yang akan menjadi ujian penting bagi keberlanjutan reli investasi AI global.

 

 

 

• PASAR ASIA : Bursa saham Asia bergerak mixed pada Selasa, dengan saham teknologi mengikuti pelemahan Wall Street semalam. Investor juga mencermati data pertumbuhan ekonomi Jepang yang lebih kuat dari ekspektasi serta perkembangan konflik di Timur Tengah.

 

 

Ekonomi Jepang tumbuh 2,1% secara tahunan pada kuartal I, lebih tinggi dari perkiraan 1,7%, didorong konsumsi domestik dan permintaan eksternal yang lebih solid. Belanja modal naik 0,3% QoQ, sementara indeks harga PDB meningkat 3,4%, menandakan tekanan inflasi masih tinggi. Meski begitu, analis memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jepang akan melambat pada kuartal berikutnya. Indeks Nikkei 225 turun 0,4%, sementara TOPIX naik 0,5%.

 

 

Di China, indeks CSI 300 turun 0,6%, sedangkan Shanghai Composite bergerak flat. Hang Seng Hong Kong juga relatif stagnan. Sementara itu, KOSPI Korea Selatan melemah 3% setelah sempat anjlok hingga 5% di awal sesi. Saham Samsung Electronics turun lebih dari 5% setelah negosiasi antara perusahaan dan serikat pekerja kembali menemui jalan buntu. Investor khawatir rencana aksi mogok pekan ini dapat mengganggu produksi semikonduktor. Pengadilan Korea Selatan juga dikabarkan memperingatkan serikat pekerja terkait potensi denda jika melanggar perintah pengadilan terkait aksi industrial.

 

 

 

• KOMODITAS : Harga minyak turun sekitar 1% pada Selasa setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan telah menunda rencana serangan terhadap Iran guna memberi ruang bagi negosiasi untuk mengakhiri perang. Pada Senin, Trump menyampaikan melalui media sosial bahwa serangan militer yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung Selasa ditunda sementara proses negosiasi dengan Iran masih berjalan. Ia juga menegaskan AS siap melanjutkan serangan jika kesepakatan gagal tercapai.

 

 

Brent kontrak Juli turun USD1,28 atau 1,14% ke USD110,82 per barel pada pukul 12:49 siang. Sementara itu, kontrak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni, yang jatuh tempo pada Selasa, naik tipis 1 sen ke USD108,67 per barel. Kontrak WTI Juli yang lebih aktif diperdagangkan turun 58 sen atau 0,56% ke USD103,80 per barel.

 

 

 

• INDONESIA :IHSG ditutup melemah -3.46% ke level 6,370, tertekan masih oleh aksi jual saham konglomerasi dan outflow asing seiring antisipasi pasar terkait rebalancing MSCI Mei 2026 khususnya pada saham DSSA, BREN, TPIA dan AMMN yang masih mengalami tekanan jual.

 

 

Selain itu, concern investor adalah terkait ketidakstabilan / ketidakjelasan terkait wacana pembentukan lembaga serupa BPP – Badan Penyangga dan Pemasaran untuk Komoditas, terkait dengan isu underinvoicing pada komoditas yang menekan sebagian besar saham komoditas baik CPO, batubara, timah dan nikel.

 

 

Di tengah tekanan pasar, beberapa saham blue chip seperti TLKM sebagai saham defensif masih turut menguat di tengah kekhawatiran pelemahan Rupiah terhadap USD. Sentimen USD/IDR juga masih menjadi perhatian utama pasar. Jika tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji area 6,000 sebagai benteng psikologis terakhir hingga gap sekitar area 6100. Untuk jangka pendek, pelaku pasar dapat mencermati saham-saham yang masih mampu bertahan di area support dengan fundamental solid dan valuasi menarik.

 

 

Unduh dokumen lengkapnya DISINI.