Today’s Outlook :

 

• PASAR AS : Wall Street ditutup menguat tipis pada Senin, didorong penguatan saham-saham chip. Namun, kenaikan pasar tetap terbatas setelah munculnya hambatan diplomatik baru antara Washington dan Teheran. Investor juga cenderung berhati-hati menjelang rilis data inflasi AS pekan ini yang diperkirakan akan mencerminkan dampak lonjakan harga minyak akibat perang. Data CPI April dijadwalkan rilis pada Selasa, sementara PPI akan diumumkan pada Rabu.

 

 

S&P 500 naik 0,2% dan ditutup di level 7.412,49 poin, sekaligus pertama kalinya ditutup di atas level 7.400. NASDAQ Composite menguat 0,4% ke rekor baru 26.274,13 poin, sedangkan Dow Jones naik 0,2% ke 49.704,34 poin.

 

 

Selama akhir pekan, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah merespons proposal AS untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan. Iran meminta penghentian perang di seluruh front, pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz, serta kompensasi dari AS atas kerusakan perang. Namun, Presiden Donald Trump menolak proposal tersebut dan menyebutnya “tidak dapat diterima” karena tidak memuat komitmen terkait program nuklir Iran. Trump juga menilai gencatan senjata AS-Iran saat ini masih sangat rapuh.

 

 

Pasar juga mencermati kunjungan Trump ke China pekan ini setelah China dikabarkan tetap membeli minyak Iran dan memberikan dukungan diplomatik kepada Teheran di tengah konflik yang berlangsung.

 

 

Di luar isu Timur Tengah, investor turut bersiap menghadapi rilis data inflasi AS. Lonjakan harga minyak akibat perang telah mendorong kenaikan harga bensin di AS serta meningkatkan inflasi utama CPI dan PPI, meski inflasi inti sejauh ini masih relatif stabil.

 

 

 

• PASAR EROPA :Bursa saham Eropa bergerak mixed pada Senin, seiring investor mencermati komentar Presiden Donald Trump yang menyebut respons Iran terhadap proposal perdamaian AS sebagai “TOTALLY UNACCEPTABLE.”

 

 

Indeks Stoxx 600 Eropa naik 0,1%, diikuti DAX Jerman yang juga menguat 0,1%. FTSE 100 Inggris naik 0,4%, sementara CAC 40 Prancis melemah 0,7%.

 

 

Menurut televisi pemerintah Iran, Teheran telah memberikan respons atas proposal AS untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan, dengan fokus pada penghentian perang di seluruh front serta tuntutan kompensasi atas kerusakan akibat perang.

 

 

 

• PASAR ASIA :Mayoritas bursa saham Asia menguat pada Senin meski ketegangan di Timur Tengah meningkat. Penguatan saham-saham chip serta optimisme terhadap pertemuan puncak AS-China membantu pasar meredam dampak lonjakan harga minyak.

 

 

Saham China menguat setelah Beijing mengonfirmasi bahwa Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump akan menggelar pertemuan pada pekan ini. Indeks CSI 300 dan Shanghai Composite masing-masing naik 1,2% dan 0,7%, sementara Hang Seng Hong Kong turun 0,4%. Media pemerintah China menyebut Trump dan Xi akan bertemu di Beijing pada 13–15 Mei, menandai kunjungan besar pertama pemimpin AS ke ibu kota China dalam hampir satu dekade. Pertemuan tersebut diperkirakan membahas tarif perdagangan, Taiwan, konflik Timur Tengah, serta potensi perpanjangan gencatan dagang yang dicapai pada Oktober 2025.

 

 

Data pemerintah China juga menunjukkan inflasi konsumen April meningkat di atas ekspektasi, sementara producer price index (PPI) melonjak ke level tertinggi hampir empat tahun, didorong kenaikan biaya impor akibat perang di Timur Tengah.

 

 

KOSPI Korea Selatan menjadi indeks dengan kinerja terbaik di kawasan, melonjak hampir 5% ke rekor tertinggi berkat reli saham chip. SK Hynix melonjak hampir 12%, sementara Samsung Electronics naik hampir 6%, dengan keduanya mencetak rekor baru di tengah tingginya permintaan chip memori dari industri AI.

 

 

Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,4%, tertekan pelemahan hampir 9% saham Nintendo setelah perusahaan melaporkan laba dan proyeksi yang mengecewakan.

 

 

 

• KOMODITAS :Harga minyak naik lebih dari USD 2 pada Senin setelah Presiden Donald Trump menyebut respons Iran terhadap proposal perdamaian AS sebagai “tidak dapat diterima”, sehingga penutupan Selat Hormuz masih berlanjut tanpa kepastian akhir konflik.

 

 

Brent crude naik USD 2,39 atau 2,36% ke USD 103,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat USD 2,07 atau 2,17% ke USD 97,49 per barel. Sebelumnya, kedua kontrak sempat menyentuh level tertinggi masing-masing di USD 105,99 dan USD 100,37 per barel.

 

 

Pada pekan lalu, kedua acuan minyak tersebut sempat mencatat penurunan mingguan sekitar 6% di tengah harapan konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu segera berakhir dan jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz kembali dibuka.

 

 

 

• INDONESIA :IHSG terjun dalam ke zona merah sejauh -0.92% ke level 6905.6, dimana koreksi terjadi pada saham BREN dan DSSA yang mengalami penurunan dan outflow mengantisipasi pasar terkait dengan peluang untuk deletion dari MSCI Indonesia. Saham komoditas per pembukaan sesi 2 kemarin sempat dibuka dengan gap up akibat penundaan pendapat potongan penyesuaian royalti baru.

 

 

Saat ini kekhawatiran investor Indonesia adalah risiko dari domestik terkait dengan nilai tukar dan kebijakan yang kurang pro dengan investor menjadi concern tersendiri bagi pelaku asal mengingat ketertinggalan IHSG dengan regional lainnya. Lebih baik wait and see terlebih dahulu.

 

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.