XA Update Report | PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) – TBIG FY25: Kinerja Cenderung Flat dengan Trajektori Pertumbuhan yang Stabil

 

By Leonardo Lijuwardi  (Senior Research Analyst)

7-Apr-2026

 

 

 

Pada periode FY25, TBIG membukukan pendapatan sebesar IDR 6.91 triliun, meningkat tipis sebesar +0.6% YoY (FY24: IDR 6.87 triliun). Secara kuartalan, pendapatan 4Q25 relatif datar dengan pertumbuhan +2% QoQ dan +0.4% YoY, mencapai IDR 1.75 triliun (3Q25: IDR 1.71 triliun | 4Q24: IDR 1.74 triliun). EBITDA TBIG tumbuh +2% YoY menjadi IDR 5.94 triliun pada FY25 (FY24: IDR 5.82 triliun). Secara kuartalan, EBITDA TBIG meningkat +1.1% QoQ dan +3.7% YoY menjadi IDR 1.49 triliun pada 4Q25 (3Q25: IDR 1.48 triliun | 4Q24: IDR 1.44 triliun). Secara tahunan, laba bersih TBIG tumbuh +4.8% YoY menjadi IDR 1.43 triliun pada FY25 (FY24: IDR 1.36 triliun), didorong oleh kinerja 4Q25 yang meningkat +11.8% QoQ dan +63.4% YoY menjadi IDR 319 miliar, seiring dengan penurunan biaya keuangan pada 4Q25. Net Profit Margin (NPM) pada FY25 sedikit meningkat menjadi 20.6% (NPM TBIG FY24: 19.8%). Segmen fiber optik TBIG mulai berperan sebagai pendorong pertumbuhan baru di tengah permintaan menara yang cenderung datar serta tren konsolidasi operator, tercermin dari kontribusinya yang meningkat terhadap pendapatan, meskipun masih lebih kecil dibandingkan segmen fiber milik peer seperti TOWR dan MTEL.

 

 

 

🔹 Segmen Penyewaan Menara Tetap Datar Pasca Konsolidasi Operator, Sementara Segmen Fiber Mulai Bertumbuh

• Pendapatan TBIG pada periode FY25 tetap datar, dengan segmen penyewaan menara mencatat pendapatan yang stabil sebesar IDR 6.27T (+0.6% YoY FY24: IDR 6.87T | Secara kuartalan: +2% QoQ & +0.4% YoY, 4Q24: IDR 1.74T, 3Q25: IDR 1.71T & 4Q25: IDR 1.75T). Sementara itu, pendapatan fiber optik mulai mendorong pertumbuhan, mencatat kenaikan +14.9% YoY menjadi IDR 634 miliar pada FY25 (FY24: IDR 557B | Secara kuartalan: +4.1% QoQ & +16.9% YoY, 4Q24: IDR 145B, 3Q25: IDR 163B & 4Q25: IDR 170B). Meskipun kontribusi fiber optik terhadap total pendapatan masih sekitar 10%, segmen ini memiliki potensi untuk mendukung pertumbuhan, seiring melemahnya permintaan menara dan meningkatnya kebutuhan konektivitas fiber dalam beberapa periode terakhir.

 

 

• Dari sisi operator penyewa, Telkomsel masih menjadi kontributor pendapatan terbesar dengan membukukan IDR 2.29T pada FY25 (-0.6% YoY; FY24: IDR 2.31T | 4Q25: IDR 581B, Secara kuartalan: +2.4% QoQ & -2.4% YoY).Pendapatan dari Indosat mengalami kontraksi sebesar -1.9% YoY menjadi IDR 1.73T (FY24: IDR 1.76T | 4Q25: IDR 432B, Secara kuartalan: +0.9% QoQ & -5.2% YoY). Pasca merger XL AXIATA dan Smartfren pada Maret-25 yang kini menjadi XLSMART, ketiga entitas ini mencatatkan total pendapatan sebesar IDR 2.14 triliun, lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada FY24 sebelum merger, XL AXIATA dan Smartfren masing-masing berkontribusi sebesar IDR 1.26T dan IDR 944 miliar, dengan total IDR 2.21 triliun. Merger ini juga berdampak pada net penambahan tenancy akibat tidak diperpanjangnya kontrak tenancy yang telah jatuh tempo.

 

 

 

🔹 Biaya Operasional dan Keuangan Relatif Terjaga dan Terkontrol

• Kinerja operasional tetap relatif stabil, dengan TBIG menjaga beban operasional hanya meningkat +1% YoY menjadi IDR 614 miliar pada FY25 (FY24: IDR 607B | Secara kuartalan: +16.7% QoQ & +2.3% YoY, 4Q24: IDR 169B, 3Q25: IDR 148B & 4Q25: IDR 173B).

 

 

• Biaya keuangan pada FY25 relatif stabil, meningkat +1.7% YoY menjadi IDR 1.90 triliun, namun menurun secara kuartalan (FY24: IDR 1.87 triliun | Secara kuartalan: -10.9% QoQ & -4.6% YoY, 4Q24: IDR 484B, 3Q25: IDR 518B & 4Q25: IDR 464B). Meskipun penurunan suku bunga acuan diharapkan dapat memberikan ruang efisiensi bagi TBIG, kondisi suku bunga yang masih tertahan serta arah kebijakan ke depan menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati terhadap kinerja FY26. Perlu dicatat bahwa pada FY25, sekitar ~60% utang TBIG didenominasikan dalam mata uang IDR.

 

 

 

🔹 TBIG Portfolio: Pertumbuhan Portfolio Relatif Stabil

Terkait data aset operasional, jumlah menara yang dimiliki TBIG mencapai 24,212 unit pada FY25 (FY24: 23,778 unit, +1.8% YoY). Tenancy Ratio pada FY25 berada di level 1.73x dibandingkan FY24 (1.79x), sejalan dengan konsolidasi pasca merger EXCL & FREN yang menurunkan jumlah operator, serta permintaan menara yang cenderung datar, sementara tren permintaan fiber optik saat ini melampaui segmen menara. Hal ini tercermin dari pendapatan segmen fiber optik pada FY25 yang meningkat menjadi IDR 640 miliar (+14.9% YoY), menandai potensi mesin pertumbuhan baru bagi TBIG.

 

 

 

🔹 FY26 View: Flattish Growth and Earnings

Kami memperkirakan pendapatan dan laba bersih TBIG pada FY26 akan tetap relatif datar, dengan pendapatan diproyeksikan tumbuh sebesar 0.8% menjadi IDR 6.97T dan laba bersih meningkat tipis sebesar 0.4% menjadi IDR 1.43T. Prospek ini sejalan dengan industri menara yang cenderung stabil dengan pertumbuhan yang moderat. Meskipun segmen fiber terus menunjukkan pertumbuhan yang menarik, kami menilai segmen ini masih belum menjadi kontributor laba yang material dan berkelanjutan.

 

 

 

🔹 Rekomendasi “Overweight” dengan Target Price di IDR 1,800 / Lembar

NHKSI Research merekomendasikan peringkat “Overweight” untuk TBIG dengan target harga yang lebih rendah di level IDR 1,800 / saham, yang mencerminkan 12.3x Forward EV/EBITDA (-1 STD dari rata-rata 3 tahun terakhir). Meskipun segmen fiber optik TBIG mulai menunjukkan pertumbuhan, belum terdapat katalis kuat yang dapat mendorong re-rating signifikan, dan valuasi TBIG masih relatif premium dibandingkan MTEL dan TOWR (EV/EBITDA Annualized FY25 TBIG: 11.0x | MTEL: 8.0x & TOWR: 7.0x). Walaupun TBIG masih memiliki peluang untuk mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata industri melalui segmen fiber, penurunan tenancy ratio dalam 2 tahun terakhir menjadi tantangan, seiring tren konsolidasi operator dan melemahnya permintaan menara. Risiko utama bagi TBIG meliputi pertumbuhan tenancy yang melemah serta pertumbuhan segmen fiber yang tidak sesuai ekspektasi.

 

 

 

Unduh Laporan Lengkapnya DISINI.

 

 

 

 

NH Korindo Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubuni CS kami via email CSO@nhsec.co.id