Today’s Outlook :

 

• PASAR AS :Wall Street mencatat hari terburuk sejak Oktober tahun lalu pada Jumat, tertekan oleh pelemahan saham teknologi dan semikonduktor setelah data ketenagakerjaan AS jauh lebih kuat dari ekspektasi, yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga. Ketegangan Timur Tengah juga meningkat setelah Hezbollah menolak gencatan senjata Israel-Lebanon.

 

 

S&P 500 turun 2,6% ke 7.384,59, Dow Jones melemah 1,4% ke 50.866,78, sementara Nasdaq anjlok 4,2% ke 25.709,43, menjadi penurunan harian terbesar sejak April 2025. Data nonfarm payrolls AS bertambah 172 ribu pada Mei, jauh di atas ekspektasi 85 ribu, sementara tingkat pengangguran tetap 4,3%. Data ini memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja masih solid dan mengurangi peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Pelaku pasar kini bahkan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini, yang turut mendorong kenaikan yield Treasury dan penguatan dolar AS.

 

 

SPACEX: Permintaan investor terhadap IPO SpaceX mencapai sekitar USD150 miliar, atau sekitar 2 kali dari target penghimpunan dana USD75 miliar. Meski tingkat oversubscription tersebut tergolong moderat untuk IPO besar, minat tersebut dinilai kuat mengingat ini berpotensi menjadi IPO terbesar sepanjang sejarah. SpaceX dijadwalkan menetapkan harga final pada 11 Juni dan mulai diperdagangkan di Nasdaq sehari setelahnya.

 

 

 

• PASAR EROPA : Saham Eropa ditutup melemah tipis pada Jumat seiring investor mencermati kembali ketidakpastian konflik Timur Tengah dan mulai meredanya euforia reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI). Indeks Stoxx 600 turun 0,3%, DAX Jerman melemah 0,7%, CAC 40 Prancis turun 0,3%, sementara FTSE 100 Inggris naik tipis 0,1%.

 

 

Sentimen pasar juga tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah kawasan Euro yang mencatat kenaikan mingguan pertama sejak Mei. Yield terdorong oleh kuatnya data ketenagakerjaan AS yang meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini, di tengah masih berlangsungnya ketidakpastian terkait negosiasi damai AS-Iran.

 

 

 

• PASAR ASIA :Saham Asia mayoritas melemah pada Jumat seiring aksi ambil untung di sektor teknologi dan peralihan investor ke saham-saham yang lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi. Pelemahan terutama terjadi pada saham semikonduktor dan AI.

 

 

KOSPI Korea Selatan menjadi yang terburuk di kawasan dengan penurunan hingga 6%, dipicu anjloknya saham Samsung Electronics dan SK Hynix yang sempat turun lebih dari 8%. Sentimen juga tertekan setelah Menteri Tenaga Kerja Korea Selatan mengusulkan agar perusahaan teknologi besar membagikan lebih banyak keuntungan AI kepada pemasok, subkontraktor, dan pekerja.

 

 

Di Jepang, Nikkei 225 turun 1,6% akibat pelemahan saham teknologi dan chip. Pasar juga dibebani meningkatnya spekulasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga bulan ini, didukung data pertumbuhan upah April yang lebih kuat dari perkiraan. Di pasar lainnya, Hang Seng Hong Kong turun 0,8% akibat tekanan pada saham teknologi, sementara indeks CSI 300 dan Shanghai Composite China bergerak relatif terbatas.

 

 

 

• KOMODITAS : Harga minyak naik lebih dari USD2 per barel pada Senin setelah Israel kembali melancarkan serangan ke Lebanon meskipun gencatan senjata masih berlaku, sehingga memudarkan harapan berakhirnya konflik kawasan dan dibukanya kembali Selat Hormuz.

 

 

WTI naik 2,32% ke USD92,64 per barel, sementara Brent menguat 2,5% ke USD95,42 per barel. Kenaikan ini menghapus sebagian besar penurunan harga pada Jumat lalu yang didorong optimisme meredanya konflik AS-Iran.

 

 

Serangan terbaru dinilai menjadi hambatan tambahan bagi tercapainya kesepakatan damai AS-Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dan gas dunia. Iran juga menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon menjadi salah satu syarat untuk mencapai kesepakatan damai dengan Washington.

 

 

 

• INDONESIA :IHSG per perdagangan Jumat kemarin ditutup terkoreksi dalam ke level 5,594.77 dimana melemah sejauh -4.2% didukung oleh oleh pelemahan saham konglomerasi dan big caps.

 

 

Pasar masih sangat fragile sejalan dengan issue dari sisi asing yang dimuat dalam media Bloomberg yakni “Sell Indonesia”, dimana hal ini juga dipicu oleh adanya kontraksi terkait permasalahan fiskal dan makro Indonesia. Selama belum ada perubahan pasti dan jelas dari Makro / kebijakan ekonomi dari Pemerintah, pasar masih akan bergerak dalam teritori negatif.

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.