XA Update Report | PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) – The Connection Strikes Growth : Resiliensi FTTH dan Momentum Awal Internet Rakyat
By Leonardo Lijuwardi (Senior Analyst)
24-Apr-2026
WIFI menunjukkan momentum pertumbuhan yang tetap solid, ditopang akselerasi kuat pada segmen FTTH serta dimulainya fase monetisasi FWA–Internet Rakyat (IRA). Meski manajemen merevisi guidance FY26 ke level yang lebih konservatif khususnya di segmen FTTH, kami menilai fundamental pertumbuhan home-passes dan home-connect masih tetap resilien, didukung TUR yang stabil dan ekspansi backbone yang terus berlanjut. Di sisi lain eksekusi IRA dan pertumbuhan awal basis pelanggan menjadi katalis penting bagi fase monetisasi berikutnya, meskipun pada tahap awal masih berpotensi menekan margin seiring burn stage ekspansi. Dengan mempertimbangkan penyesuaian asumsi yang lebih konservatif, kami mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga IDR 4,080/lembar, yang masih memberikan potensi kenaikan sebesar +70.0%.
🔹 FY25 – 4Q25: Hasil Kuat Sejalan Kesuksesan Eksekusi Segmen Telekomunikasi FTTH
• Pertumbuhan Pendapatan yang Tetap Kuat. Pendapatan di periode FY25 bertumbuh +147% YoY menjadi sekitar IDR 1.66T (FY24: IDR 672B | Quarterly basis: +28.5% QoQ & +286.1% YoY, 4Q25: IDR 644B), didorong oleh lonjakan segmen telekomunikasi yang didorong sejalan dengan kesuksesan eksekusi FTTH Starlite yang menguat +329.8% YoY menjadi IDR 1.21T di FY25 (FY24: IDR 340B | Quarterly basis: +2.6% QoQ & +446.2% YoY, 4Q25: IDR 470B) dan kontribusi yang masih stabil dari segmen periklanan bertumbuh +35.7% YoY menjadi IDR 450B di FY25 (FY24: IDR 332B | Quarterly basis: +302.3% QoQ & +94.7% YoY, 4Q25: IDR 175B). Kontribusi pertumbuhan periklanan tersebut didorong dengan peningkatan jumlah perjalanan komuter kereta api di Pulau Jawa sejalan dengan efek musiman akhir tahun di 4Q25.
• Margin WIFI masih tetap menunjukkan penguatan struktural dengan GPM berada di 67.9% per FY25 (FY24: 51.3%), OPM di level 57.6% di FY25 (FY24: 51.3%) dan EBITDA margin 66.7% di FY25 (FY24: 73.2%). Laba bersih WIFI untuk FY25 mencapai IDR 409B, tumbuh +77.0% YoY (FY24: IDR 231B | Quarterly Basis: +361.3% QoQ & +88.4% YoY).
🔹 Segmen FTTH Bertumbuh Terakselerasi Cepat dan Solid
• Performa Operasional yang Kuat – Revisi Guidance FY26. Hingga menutup tahun 2025 secara operasional segmen FTTH, WIFI berhasil membangun 2.5 juta home-passes dengan jumlah home-connect yang dicapai 1.5 juta yang mengimplikasikan 60% TUR (Take Up Rate), dimana inline dengan target rencana awal. Pertumbuhan eksponensial tersebut berhasil dicapai dalam satu semester paruh kedua di FY25 dengan mempertahankan TUR yang relatif stabil di 60%. Untuk FY26, manajemen menurunkan target homepasses yang akan dicapai menjadi 4 juta (Previous Guidance: 4.7 juta) dengan jumlah home-connect di 2.3 juta. Meski guidance diturunkan lebih konservatif dikarenakan membagi fokus dengan FWA-IRA, kami menilai WIFI masih mampu mencatat pertumbuhan solid pada home-passes dan home-connect.
• Fondasi FTTH ini juga terus diperluas dimana WIFI akan melakukan ekspansi backbone ke Pulau Sumatera, dimana per tanggal 3 Desember 2025 WIFI sudah menandatangani perjanjian addendum dengan PT KAI dengan target ekspansi mencapai 1,086.7 km.
🔹 Anak Usaha TKP (Telemedia Komunikasi Pratama) Memulai Fase Monetisasi FWA (IRA) di 2026
• Monetisasi IRA (Internet Rakyat) Dimulai. Pasca pemenangan lelang spektrum frekuensi 1.4 GHz di wilayah Regional 1 (Jawa dan Maluku-Papua), kemajuan dan langkah strategis selanjutnya terlihat seiring Komdigi yang telah merilis sertifikat ULO (Uji Laik Operasi) resmi pada 26 Januari 2026. Layanan IRA secara resmi melakukan soft launching pada 19 Februari 2026. Adapun per 16 Maret 2026, Surge telah berhasil memperoleh lebih dari 200 ribu pelanggan yang tersebar di lebih dari 236 site di wilayah Jawa. TKP selanjutnya akan memfokuskan pada pemetaan 1.1 juta pelanggan yang telah melakukan pra-registrasi terhadap site yang sudah on air, serta memprioritaskan rencana ekspansi on-air kepada area dengan basis pelanggan pra-registrasi tersebut.
• Manajemen memberikan guidance untuk segmen FWA – IRA untuk FY2026, dimana hingga Desember 2026 total sites yang akan dibangun mencapai 5,500 site, dengan target persite menjangkau sekitar 700 hingga 900 orang per site.
🔹 Revisi Estimasi untuk Kinerja FY26 : Tonedown Laba Bersih Pendekatan Lebih Konservatif Akibat Fase Awal Ekspansi
• Kami tetap mengekspektasikan WIFI mampu mempertahankan momentum pertumbuhan yang terakselerasi, sejalan dengan fase ekspansi yang masih berlangsung serta dimulainya monetisasi awal IRA. Namun demikian, kami mengambil pendekatan yang lebih konservatif dalam proyeksi FY26, seiring guidance perseroan yang lebih berhati-hati dan karakteristik fase awal IRA yang masih berada pada tahap early-stage monetization. Oleh karena itu, kami mempertahankan estimasi pendapatan FY26 pada level yang relatif sejalan dengan proyeksi sebelumnya, yaitu sebesar IDR 3.91T (vs. NHKSI Research prev. est. IDR 3.98T). Di sisi lain, kami merevisi turun estimasi laba bersih menjadi IDR 886B pada FY26 (vs. NHKSI Research prev. est. IDR 1.54T), dengan mempertimbangkan potensi tekanan margin pada fase awal ekspansi serta ekspektasi burn rate yang masih tinggi pada tahap awal monetisasi IRA.
🔹 Rekomendasi “Buy” dengan Target Harga di IDR 4,080 / Lembar (+70% Upside Potential)
• Kami mempertahankan rekomendasi Buy WIFI di harga IDR 4,080 / lembar, (Prev. Target: IDR 4,880) sejalan dengan penyesuaian asumsi yang lebih konservatif. Terlepas penyesuaian yang lebih konservatif, target tersebut masih cukup atraktif dimana mencerminkan potensi kenaikan sebesar +70.0% menggunakan metode DCF untuk termin waktu 5 tahun. Valuasi tersebut mengimplikasikan F-EV/EBITDA 26: 8.8x.
• Katalis positif yang mendukung rekomendasi ini mencakup pertumbuhan eksponensial WIFI yang ditopang margin profitabilitas tinggi, khususnya dari keberhasilan eksekusi FWA–Internet Rakyat serta kinerja FTTH yang resilien dengan TUR dan pertumbuhan yang stabil-terakselerasi. Meski demikian, sejumlah risiko utama tetap membayangi, meliputi lambatnya eksekusi jaringan dan risiko operasional, penetrasi serta take-up rate yang lemah yang dapat menekan margin dan pertumbuhan, serta kebutuhan capex dan biaya utang yang berpotensi lebih tinggi dari ekspektasi.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.
NH Korindo Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubuni CS kami via email CSO@nhsec.co.id

