Today’s Outlook:
MARKET AS: Sentimen data ekonomi menunjukkan bahwa permintaan tenaga kerja di bulan September untuk sektor swasta ternyata bertumbuh lebih kecil dari perkiraan. Laporan ADP National Employment membawa sedikit kelegaan bagi para investor terkait trend naiknya suku bunga The Fed yang harus ditahan tinggi untuk waktu yang lebih lama, karena ternyata untuk bulan September data keluar di angka 89ribu, jauh dibawah prediksi (153 ribu) dan juga turun tajam dari bulan sebelumnya (180 ribu); ini merupakan level terendah sejak Januari 2021 (32 bulan yang lalu). Berkurangnya perolehan lapangan kerja swasta pada bulan lalu juga diikuti dengan penurunan upah terus-menerus selama 12 bulan terakhir. Data ekonomi lain juga menunjukkan kenaikkan pesanan baru untuk barang yang diproduksi di AS lebih tinggi dari ekspektasi bulan Agustus, menjelang rilis data tenaga kerja Nonfarm Payroll (Sept) yang merupakan kunci dari semua laporan makroekonomi. Sementara itu aktifitas sektor jasa AS sedikit melambat di bulan Sept, tercermin pada US ISM Non-Manufacturing PMI yang dirilis sesuai estimasi pada level 53.6, namun turun dari 54.5 di bulan Aug. Yield US Treasury pun langsung melunak menyusul sentimen ini yang semakin meningkatkan harapan bahwa The Fed akan punya cukup alasan untuk sekali lagi menahan kenaikkan suku bunga di bulan November. Kini hanya 22% dari para investor yang yakin kalau Federal Reserve masih akan perlu menaikkan suku bunga pada FOMC Meeting bulan depan, turun dari 30%, seperti dikutip dari Fed Rate Monitor Tool milik Investing.com. Para pelaku pasar juga mencermati laporan keuangan kuartal 3 para emiten, dan S&P500 memperkirakan laba perusahaan akan bisa meningkat 1.6% yoy.

KOMODITAS: Sektor Energy dilanda penjualan masif terbesar sejak Sept 2022 seiring melorotnya harga minyak sebanyak hampir 6% setelah data stok bensin AS dipublikasikan melesat tinggi di atas perkiraan sebesar 6.481juta barrel (vs forecast 161ribu barrel, vs previous 1.027juta barrel). Sementara itu, pada pertemuan para menteri OPEC+ pada hari Rabu kemarin ditetapkan keputusan bahwa mereka tidak akan mengubah level produksi, yang berarti mereka akan pertahankan pemangkasan produksi sampai akhir tahun. Pemangkasan produksi ini dirasakan masih perlu untuk mengimbangi permintaan global yang lemah dan demi kepentingan mendukung harga. Kontrak WTI (New York) untuk bulan November kini bertengger di harga USD 84.22 / barrel, jatuh 5.6%, setelah sempat menyentuh Low USD 84.17 / barrel atau anjlok 7% selama pekan ini. Sedangkan itu kontrak Minyak Brent (London) untuk bulan teraktif yaitu Desember juga sama tergerus 5.6% ke level USD 85.91 / barrel, setelah sempat menyentuh Low di USD 85.77. Harga acuan minyak global ini terjun 10% untuk pekan ini.

MARKET EROPA: Sejumlah data PMI dari Jerman, Eurozone, Inggris menunjukkan aktivitas usaha mereka tampaknya mengalami pertumbuhan di bulan September walau kebanyakan dari mereka masih berjuang untuk keluar dari area kontraksi; sektor Jasa di Jerman sedikit dari yang berhasil mengalahkan ekspektasi dengan sukses menyebrang ke wilayah ekspansi. Di sisi lain, Eurozone melaporkan Inflasi di tingkat produsen di bulan August relatif masih deflasi berat pada level -11.5%, tak jauh dari forecast -11.6% ; harga di tingkat produsen ini semakin mendingin dari -7.6% di bulan sebelumnya. Retail Sales Eurozone di bulan August juga tampak masih kian melemah dengan pertumbuhan daya beli masyarakat minus 2.1% yoy , bahkan lebih buruk dari estimasi -1.2% dan dari bulan sebelumnya – 1.0%. Siang nanti para investor akan memonitor angka Trade Balance Jerman (Aug), Germany, Eurozone , and UK Construction PMI (Sept).

MARKET ASIA : Korea Selatan pagi ini telah mengumumkan Inflasi di bulan September naik ke level 3.7% yoy (vs forecast & previous at 3.4%). China libur penuh sepekan “Golden Week” ini untuk memperingati National Day. 

Corporate News
IDR 400 M Sudah Masuk kantong, Pyridam Farma (PYFA) Percepat Buyback Obligasi IDR 307.03 M Setelah pada Bulan lalu, tepatnya 21 September 2023, PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) mencatatkan obligasi Berkelanjutan I Pyridam Farma Tahap II Tahun 2023 senilai IDR 400 miliar dengan tingkat bunga 9.5% per tahun bertenor 2 tahun. Perusahaan farmasi PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) memilih untuk mempercepat pembelian kembali (buyback) Obligasi PYFA I Tahun 2020 dengan jumlah IDR 307.03 miliar. Corporate Secretary PYFA Nadia Miranty Verdiana mengatakan, langkah ini diambil demi meningkatkan efisiensi perseroan terhadap dana yang diperoleh dari obligasi lainnya. Obligasi Pyridam Farma I Tahun 2020 memiliki nilai pokok sebesar IDR 300 miliar dengan bunga IDR 7.03 miliar, dengan total pelunasan mencapai IDR 307,03 miliar. (Emiten News)

Domestic Issue
Kenaikan Yield Obligasi Negara AS Turut Menekan Obligasi Korporasi Indonesia Kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) alias US Treasury (UST) turut mengerek yield obligasi pemerintah dan korporasi di Indonesia. Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto mengatakan, kenaikan yield UST memang menjadi penyebab peningkatan yield obligasi korporasi, tetapi tidak secara langsung. Pada mulanya, kenaikan yield obligasi AS mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah atau surat utang negara (SUN). Karena menjadi benchmark, kenaikan yield obligasi pemerintah pada akhirnya berdampak pada kenaikan yield obligasi korporasi, mengasumsikan premi obligasi korporasi konstan. Secara sederhana, pricing yield obligasi korporasi bisa dituliskan ke dalam persamaan bahwa yield obligasi korporasi sama dengan yield obligasi pemerintah ditambah premi obligasi korporasi. Jadi meski premi obligasi korporasi tidak berubah, kenaikan yield obligasi pemerintah akhirnya akan mendorong naik yield obligasi korporasi. Suhindarto melihat, sebagian besar yield obligasi korporasi naik sejak akhir Agustus 2023 hingga 3 Oktober 2023 dengan kenaikan yang beragam. Berdasarkan data dari Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), kenaikan lebih tinggi terjadi pada tenor yang lebih panjang untuk kategori peringkat BBB dan AAA. (Kontan)

Recommendation
Wajar jika US10YT hendak pullback sejenak menguji Support upper channel, setelah break out dan membuka jalan penguatan menuju TARGET yield: 5.056%; apalagi RSI di wilayah Overbought. ADVISE: Wait & See, apakah Support bertahan atau tidak. Next Support: MA10/ yield 4.621%, kemudian MA20/yield 4.474%. Perlu pertimbangkan untuk kurangi posisi (bertahap) apabila Support jebol satu persatu. ID10YT tepat mencapai TARGET yield 7.085% dalam trend naik yang kuat, walau RSI negative divergence setia menghantui. ADVISE: let your profit run; jangan lupa set your TRAILING STOP. Perlu dipertimbangkan untuk SELL ON STRENGTH (bertahap). Support terdekat adalah MA10 = yield 6.90%.

Download full report HERE.