Today’s Outlook :
• PASAR AS :Wall Street mengakhiri reli sembilan hari berturut-turut pada Rabu seiring pelemahan saham teknologi dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang meredupkan harapan tercapainya kesepakatan damai AS-Iran dalam waktu dekat. S&P 500 turun 0,7% ke 7.555,82, Nasdaq melemah 0,9% ke 26.853,98, dan Dow Jones terkoreksi 1,2% ke 50.688,43.
Ketegangan AS-Iran meningkat setelah militer AS menembak dan melumpuhkan kapal tanker yang menuju pelabuhan Iran, serta mengklaim berhasil menggagalkan serangan rudal dan drone Iran ke Kuwait dan Bahrain. Sebagai balasan, media pemerintah Iran menyebut pasukannya menargetkan markas Armada Kelima AS di Bahrain dan pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Perkembangan ini mengurangi optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai, meskipun Presiden AS Donald Trump menegaskan negosiasi masih berlangsung.
Di sektor teknologi, indeks teknologi S&P 500 turun dan menghentikan reli empat hari. Saham Palo Alto Networks anjlok 5,6% meski membukukan kinerja kuartalan yang kuat. Sebaliknya, saham semikonduktor masih menguat didukung optimisme industri AI, termasuk rencana penggalangan dana hampir USD85 miliar oleh Alphabet.
Dari sisi ekonomi, data ADP menunjukkan sektor swasta AS menambah 122 ribu lapangan kerja pada Mei, tertinggi sejak Januari 2025. Data tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja AS tetap solid dan memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk lebih fokus mengendalikan inflasi di tengah kenaikan harga minyak akibat konflik Iran.
• PASAR EROPA :Saham Eropa ditutup melemah pada Rabu, sementara harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah naik setelah serangan rudal terbaru meredupkan prospek tercapainya kesepakatan damai Iran dalam waktu dekat.
Indeks Stoxx 600 turun 0,7%, DAX Jerman melemah 1,2%, CAC 40 Prancis turun 0,7%, dan FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,4%. Kenaikan imbal hasil obligasi turut menekan pasar saham. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang lebih dari 50% bahwa European Central Bank akan menaikkan suku bunga hingga tiga kali sebelum akhir 2026 guna mengantisipasi tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 2 tahun naik 3 basis poin menjadi 2,654%, sementara tenor 10 tahun naik 2,5 basis poin menjadi 3,0%. Kenaikan yield juga terjadi di Prancis, Italia, dan Spanyol.
• PASAR ASIA :Saham Asia menguat pada Rabu didorong penguatan sektor teknologi dan optimisme berkelanjutan terhadap AI, sehingga pasar cenderung mengabaikan eskalasi konflik terbaru antara AS dan Iran.
Jepang menjadi pasar dengan kinerja terbaik di kawasan. Nikkei 225 melonjak hampir 3% ke rekor tertinggi 68.645,5, sementara TOPIX mencapai level tertinggi sepanjang masa di 3.996,22. Sentimen positif didukung reli saham teknologi dan industri serta harapan stimulus fiskal tambahan setelah pemerintah Jepang menyetujui rancangan anggaran tambahan sebesar ¥3,11 triliun untuk mengatasi kenaikan biaya hidup akibat perang Iran. Sebaliknya, indeks Hang Seng Index Hong Kong turun hampir 2% akibat aksi ambil untung pada saham-saham teknologi setelah mencatat kenaikan kuat pada sesi sebelumnya.
• KOMODITAS :Harga minyak melemah pada Kamis setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon meningkatkan harapan tercapainya kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri konflik AS-Israel dengan Iran. Selain itu, DPR AS menyetujui resolusi yang bertujuan membatasi kewenangan perang Presiden AS Donald Trump.
Brent turun 0,69% ke USD97,14 per barel, sementara WTI melemah 0,65% ke USD95,40 per barel. Koreksi terjadi setelah kedua kontrak sebelumnya naik sekitar 2% pada Rabu akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Di sisi fundamental, data Energy Information Administration menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 8 juta barel menjadi 433,7 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei, lebih besar dari ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan 4 juta barel.
• INDONESIA :IHSG per perdagangan Rabu kemarin ditutup terkoreksi dalam ke level 5,941.11 dimana melemah sejauh-4.11% didukung oleh oleh saham konglomerasi dan big caps. Ketakutan perdagangan kemarin sangat tercermin dari banyaknya issue terkait penurunan rating Bonds Indonesia (DIM) serta rumor penurunan rating oleh lembaga pemeringkat S&P, kemudian adanya wacana gross split migas yang diterapkan terhadap perusahaan komoditas non migas, kemudian nilai Rupiah yang semakin menuju ATL. Support benteng terakhir di IHSG adalah 5,800 sebelum memasuki teritori super bearish.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

