Today’s Outlook :

 

 

• PASAR AS:Bursa saham AS anjlok pada Rabu, tertekan pelemahan berlanjut saham semikonduktor dan lonjakan harga minyak. Pasar sempat mengurangi pelemahan setelah The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,50%–3,75%, namun tiga pejabat The Fed memilih kenaikan suku bunga 25 basis poin karena kekhawatiran inflasi akibat volatilitas harga minyak dan konflik Timur Tengah.

 

 

Indeks S&P 500 turun 1,5% ke 7.321,63, Nasdaq Composite melemah 1,7% ke 24.442,94, dan Dow Jones turun 2,2% ke 51.594,86. Fokus investor kini beralih ke laporan keuangan Microsoft dan Meta setelah penutupan pasar, yang menjadi ujian berikutnya bagi sektor AI yang sedang tertekan.

 

 

Tekanan saham chip berlanjut, dengan Philadelphia Semiconductor Index mencatat penurunan lima hari berturut-turut untuk pertama kalinya sejak akhir Desember. Pelemahan dipicu kekhawatiran terhadap besarnya investasi AI, termasuk rencana pendanaan Nvidia untuk proyek pusat data OpenAI, serta meningkatnya persaingan dari China di industri semikonduktor.

 

 

Ketua The Fed Kevin Warsh menyebut diskusi kebijakan berlangsung intens, dengan fokus pada inflasi yang masih tinggi, dampak guncangan ekonomi, tekanan harga, dan efektivitas kebijakan moneter. Ia juga menyoroti kenaikan imbal hasil Treasury AS yang turut memperketat kondisi keuangan.

 

 

 

• PASAR EROPA:Bursa saham Eropa melemah pada Rabu akibat kenaikan harga minyak 3% seiring meningkatnya ketegangan Timur Tengah dan tekanan saham teknologi global, meski laporan keuangan emiten besar tetap solid. STOXX 600 turun 0,3%, DAX melemah 0,1%, CAC 40 turun 0,6%, FTSE 100 naik 0,3%, dan IBEX 35 turun 1,7%. Pasar obligasi masih tertekan dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed.

 

 

 

• PASAR ASIA: Bursa saham Asia melemah pada Rabu, dipimpin Korea Selatan, seiring berlanjutnya aksi jual saham teknologi menjelang laporan keuangan emiten besar AS dan keputusan suku bunga The Fed.

 

 

Sentimen juga tertekan setelah Iran kembali menyerang pasukan AS, memicu kenaikan harga minyak dan kekhawatiran terhadap inflasi serta suku bunga. Investor turut mencermati tingginya valuasi AI, besarnya belanja modal, dan meningkatnya persaingan di industri semikonduktor.

 

 

KOSPI turun lebih dari 6%, dipimpin pelemahan SK Hynix (-12%) dan Samsung Electronics (-8%). Di Jepang, Nikkei 225 melemah sekitar 1,3%, sementara Kioxia dan Murata Manufacturing masing-masing anjlok lebih dari 15%. Gempa bumi di lepas pantai timur Jepang juga memicu peringatan tsunami, namun belum dilaporkan adanya kerusakan besar pada fasilitas industri.

 

 

Di sisi lain, saham China mengungguli kawasan, dengan Hang Seng naik sekitar 1,5%, CSI 300 menguat 0,5%, dan Shanghai Composite naik 0,2%, didukung rotasi investor ke saham domestik.

 

 

 

• KOMODITAS: Harga minyak terkoreksi pada Kamis setelah kapal tanker minyak tetap melanjutkan pengiriman dari Timur Tengah meski ketegangan kawasan meningkat dan konflik AS-Iran meluas. Brent turun 0,9% menjadi USD87,30 per barel, sementara WTI melemah 0,9% menjadi USD83,70 per barel. Sebelumnya, Brent melonjak 7,91% dan WTI naik 6,56% pada sesi sebelumnya setelah pulih dari penurunan sekitar 5% akibat jeda konflik AS-Iran.

 

 

Data pelayaran awal menunjukkan 39 kapal komoditas melintasi Selat Bab el-Mandeb menuju Laut Merah pada Selasa, jumlah tertinggi sejak 19 Juli, sementara hanya sedikit kapal yang melintas melalui Selat Hormuz.

 

 

 

• INDONESIA :IHSG pada perdagangan Rabu kemarin ditutup terkoreksi -0.64% ke level 6,091.39. IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan area pergerakan utama berada pada rentang 6,000–6,200–6,400. Di sisi lain, investor asing masih membukukan net foreign sell sebesar IDR 183.1 miliar, sementara fokus pasar mulai bergeser ke musim rilis laporan keuangan, sehingga pelaku pasar cenderung lebih selektif dengan memilih saham yang memiliki fundamental dan prospek kinerja yang solid.

 

 

Secara teknikal, area 6,000 menjadi level pertahanan terakhir yang sangat krusial bagi IHSG. Meski demikian, pola candlestick pada penutupan perdagangan terakhir mulai menyerupai hammer dengan tekanan volume jual yang mulai mereda, mengindikasikan bahwa tekanan jual mulai berkurang dan terdapat peluang munculnya technical rebound apabila didukung katalis positif.

 

 

Untuk hari ini, pasar masih membutuhkan kejelasan terhadap sejumlah sentimen domestik sebagai pendorong arah pergerakan berikutnya. Secara teknikal, level 6,000, 6,200, dan 6,400 tetap menjadi area kunci yang akan menentukan arah IHSG dalam jangka pendek.

 

 

Unduh dokumen lengkapnya DISINI.