XA Update Report | PT Astra International Tbk. (ASII) – Bisnis Penunjang Menanggung Beban

 

 

By NHKSI Research Team

27-Apr-2026

 

 

Kami menurunkan rating untuk ASII menjadi Underweight dengan TP sebesar IDR 5.475. Meskipun terjadi percepatan pertumbuhan pada bisnis non-dominan (Segmen di luar HEMCE serta Otomotif & Mobilitas), kami menilai hal tersebut mungkin tidak cukup untuk menahan penurunan pada penjualan otomotif perusahaan seiring melemahnya daya beli konsumen dan penyesuaian harga naik bensin non-subsidi akibat tekanan pasokan energi

 

 

🔹 Stagnasi Top-Line dan Bottom-Line pada FY25

 

• Pendapatan FY25 Menurun Namun HEMCE Lampaui Otomotif. Pendapatan ASII mengalami penurunan sebesar 2% YoY menjadi IDR 323,4 T pada FY25. Terkait segmen pendapatan di FY25, HEMCE melampaui posisi teratas dengan kontribusi 40,2% — tetap stabil disbanding FY24 yang tercatat sebesar 40,6%. Segmen Otomotif da Mobilitas mengalami penurunan lebih dalam dari 41,3% (FY24) menjadi 38,5% (FY25); hal ini disebabkan oleh penurunan top-line segmen tersebut sebesar -8% YoY menjadi IDR 125,66 T. Sementara itu, bisnis non-dominan (Agribisnis, Infrastruktur, IT, dan Properti) mengalami kenaikan dari 18% di FY24 menjadi 21% di FY25.

 

 

• Laba Bersih FY25 Didominasi Otomotif Meski Tanpa Adanya Pertumbuhan. Bottom-line perusahaan menurun sebesar -3% menjadi IDR 32,77 T pada Fy25 karena segmen contributor utama ‘Otomotif dan Mobilitas’ mencatat perubahan -0,32% YoY menjadi IDR 11,37 T, diikuti oleh ‘Alat berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi’ yang turun -24% YoY menjadi IDR 9,10 T. Namun, perusahaan pendukung berhasil membantu meredakan penurunan tersebut, dengan Properti melonjak +224% YoY; IT (+33% YoY); Agribisnis (+28% YoY); Infrastruktur (+24% YoY); dan Jasa Keuangan (+9% YoY).

 

 

 

🔹 Mempertahankan Dominasi di Sektor Otomotif

 

• Mempertahankan Setengah Pangsa di Pasar Mobil Wholesale. Meskipun pasar mobil wholesale turun 7% menjadi 804 ribu unit pada 2025 yang mencerminkan melemahnya daya beli utama di sektor otomotif, pangsa pasar ASII tetap terjaga di 51% meskipun persaingan semakin meningkat seiring masuknya perusahaan otomotif asing baru—BYD (merek China) dan Vinfast (merek Vietnam)—yang mulai menembus moat ekonomi Astra berupa hak distribusi eksklusif mobil impor utama dari Jepang.

 

 

• Penarikan Insentif EV Berpotensi Menghambat Peralihan ke EV. Meskipun merek EV dari para pesaing mulai merebut pangsa pasar, kami berpendapat pertumbuhannya berpotensi melambat karena pemerintah telah mengumumkan pengurangan insentif pajak 0% untuk EV. Berdasarkan Permendagri No. 11 Tahun 2026, EV akan dikenakan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), dengan tarif yang ditentukan oleh pemerintah daerah. Platform pasar mobil bekas perusahaan, OLXmobbi, mencatat pertumbuhan penjualan mobil bekas sebesar +21% menjadi 33,1 ribu unit. Selain itu, Serasi Autoraya mencatat kenaikan +3% pada kendaraan dalam kontrak menjadi 28,4 ribu unit. Untuk anak usaha komponen otomotifnya, Astra Otoparts, laba bersih meningkat sebesar 18% YoY menjadi IDR 1,8 T.

 

 

 

🔹 Sentimen Makro Dorong Prospek United Tractors

 

• Volume Meningkat, Alat Berat Stabil. UNTR catat peningkatan volume pada segmen alat berat dan pertambangan batu bara; volume penjualan Komatsu naik tipis sebesar 2% YoY, sementara volume penjualan batu bara melonjak 9% YoY. Di sisi lain, overburden removal turun 10% YoY akibat rasio strip yang lebih rendah serta curah hujan tinggi pada paruh pertama FY25.

 

 

• Segmen Tambang Emas Diperkirakan Alami Perlambatann. Kami memperkirakan volume produksi emas akan sedikit menurun akibat isu regulasi serta kapasitas tailing yang masih terbatas, dengan proyeksi FY26 kami berada di kisaran 210 ribu – 220 ribu ons.

 

 

🔹 Penurunan Rating Menjadi Underweight dengan TP IDR 5.475

 

• Kami menurunkan rating untuk ASII menjadi Underweight dengan TP sebesar IDR 5.475. Meskipun terjadi percepatan pertumbuhan pada bisnis non-dominan (segmen di luar HEMCE serta Otomotif & Mobilitas), kami menilai hal tersebut mungkin tidak cukup untuk menahan penurunan pada penjualan otomotif perusahaan seiring melemahnya daya beli konsumen dan penyesuaian naiknya harga bensin nonsubsidi akibat tekanan pasokan energi. Sementara itu, kami memiliki pandangan yang stabil untuk HEMCE pada FY26. Secara perbandingan, ASII diperdagangkan pada 7,81x P/E di bawah rata-rata peer MultiSector Holdings yang sebesar 25,52x P/E. Meskipun secarar elatif terlihat undervalued dibandingkan peer lainnya, eksposur dominan pada sector otomotif dan energi yang agresif membuat perusahaan berada di tengah volatilitas dan kerentanan makroekonomi Indonesia.

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.

 

 

 

NH Korindo Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubuni CS kami via email CSO@nhsec.co.id