Today’s Outlook:

PASAR AS : Saham ditutup melemah tajam pada Kamis setelah Donald Trump mengatakan AS belum yakin bisa atau mau mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Harga minyak naik di tengah konflik Timur Tengah. NASDAQ turun 2,4% ke 21.408,08 dan sudah masuk wilayah koreksi (turun >10% dari rekor). S&P 500 turun 1,7% ke 6.478,41, dan Dow Jones melemah 1% ke 45.959,43.

 

 

Trump menyebut Iran “memohon” kesepakatan, tapi ia ragu apakah AS akan melanjutkannya. Ia juga memperpanjang penangguhan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari dan mengatakan negosiasi berjalan baik, meski pernyataannya tetap campur aduk.

 

 

Pasar bergerak naik-turun karena berita konflik yang saling bertentangan, menekan sentimen meski ada harapan perang berakhir. Laporan menyebut Iran terbuka untuk diskusi, dan Wakil Presiden JD Vance berpotensi terlibat dalam negosiasi. Sementara itu, saham terkait memori turun setelah peneliti Google merilis algoritma kompresi baru yang bisa mengurangi kebutuhan memori untuk AI.

 

 

 

 

KOMODITAS : Harga minyak memangkas sebagian kenaikan pada Kamis setelah Donald Trump menunda serangan AS ke infrastruktur energi Iran selama 10 hari dan menyebut negosiasi damai masih berlangsung. Sebelumnya, Trump juga sempat ragu soal kesepakatan damai, namun mengatakan Iran mengizinkan 10 kapal tanker minyak lewat sebagai tanda itikad baik. Pergerakan minyak minggu ini cenderung berlawanan dengan saham—turun saat saham naik, dan sebaliknya—sehingga ikut menekan pasar. Pada 16:38 ET, Brent (kontrak Mei) naik 4,9% ke USD 107,22 per barel, sementara WTI naik 3,4% ke USD 93,42 per barel. Harga masih sangat volatil karena terganggunya pasokan akibat penutupan Selat Hormuz, dengan Brent sempat mendekati USD 120 per barel awal bulan ini.

 

 

 

FIXED INCOME NEWS 

 

Pefindo Tetapkan Peringkat idAA- Untuk Obligasi Medco Energi (MEDC)

Lembaga pemeringkat efek nasional, Pefindo, menetapkan peringkat idAA- untuk Obligasi PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Surat utang yang diterbitkan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yaitu Obligasi Berkelanjutan V Tahap I Tahun 2023 Seri A (peringkat idAA-) senilai Rp150 miliar akan jatuh tempo pada 7 Juli 2026. Perusahaan berencana melunasi surat utang yang akan jatuh tempo tersebut menggunakan perolehan dana penerbitan Obligasi Berkelanjutan VI Tahap I Tahun 2025 senilai Rp1,0 triliun. Per 30 September 2025, MEDC memiliki saldo kas senilai USD697 juta. MEDC juga memiliki sisa plafon Obligasi Berkelanjutan VI senilai Rp4,0 triliun. (emitennews.com)

 

 

 

Obligasi Raharja Energi (RATU) Senilai Rp 300 Miliar dapat Peringkat idA dari Pefindo

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyematkan peringkat idA untuk rencana penerbitan obligasi PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU). Pefindo mengatakan bahwa dana hasil penerbitan surat utang tersebut akan digunakan untuk pembiayaan belanja modal pengembangan baru dan pembiayaan kembali kredit perbankan. Pefindo juga menegaskan peringkat idA dengan prospek stabil untuk RATU. Peringkat mencerminkan profil kredit yang kuat dari entitas investasi utamanya, pengelolaan investasi yang baik, dan profil keuangan yang kuat. (kontan.co.id)

 

 

 


Pasar SUN RI Tawarkan Cuan, Tapi Rapuh dari Sisi Risiko

Pasar Surat Utang Negara (SUN) tampaknya mulai kembali diburu investor setelah sempat tertekan oleh aksi jual pada sesi perdagangan kemarin. Kamis (26/3/2026), pergerakan yield SUN cenderung menurun di hampir seluruh tenor, terutama pada tenor pendek hingga menengah yang menandakan aksi beli kembali terjadi. Masuknya kembali investor di pasar SUN sepertinya sebagai bentuk rebalancing terutama saat yield SUN sedang berada di level yang lebih menarik. Terlebih, kemarin terjadi aksi beli di pasar UST yang ikut menurunkan yield global. Sebagai gambaran, yield SUN tenor 10Y berada di 6,9% sementara US Treasury (UST) 10Y di kisaran 4,3-4,4% di tengah tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak, ada spread sekitar 250-260 bps atau 2,5%. SUN Indonesia terlihat menawarkan imbal hasil yang jauh lebih tinggi dibandingkan aset safe haven. Di sisi lain, spread atau selisih yang lebar itu juga mencerminkan bahwa investor masih meminta kompensasi risiko yang tidak kecil untuk memarkirkan uang mereka di emerging markets seperti Indonesia. Terlebih sempat adanya penurunan outlook dari lembaga pemeringkat global, Moody’s dan Fitch Ratings. (bloombergtechnoz.com)

 

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.