Today’s Outlook :

 

• PASAR AS : Saham AS ditutup melemah pada Senin seiring lonjakan harga minyak, setelah ketegangan antara Washington dan Teheran kembali memanas terkait Selat Hormuz. Indeks acuan S&P 500 turun 0,4% ke 7.201,75, NASDAQ Composite melemah 0,2% ke 25.067,80, dan Dow Jones jatuh 1,1% ke 48.941,90.

 

 

Presiden Donald Trump mengumumkan inisiatif “Project Freedom” untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20% minyak dunia namun praktis terhenti sejak konflik dimulai. Media Iran menyebut rudal ditembakkan ke kapal perang AS dan mengenai satu kapal, tetapi Komando Pusat AS membantah dan menyatakan dua kapal dagang AS justru berhasil melintas.

 

 

Di luar konflik Timur Tengah, pasar AS baru saja melewati pekan sibuk: data ekonomi padat, keputusan suku bunga Federal Reserve, serta laporan keuangan perusahaan besar termasuk anggota “Magnificent 7”. Pertumbuhan PDB riil AS kuartal I 2026 meningkat dari kuartal sebelumnya, meski sedikit di bawah ekspektasi. Inflasi sesuai perkiraan, sementara klaim pengangguran awal turun ke level terendah sejak 1969. The Fed menahan suku bunga, namun muncul empat suara berbeda (terbanyak sejak 1992).

 

 

 

• PASAR EROPA : Saham Eropa turun pada Senin karena konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda dan harga minyak mentah melonjak, sementara investor menghadapi potensi kenaikan suku bunga beruntun oleh European Central Bank tahun ini. Indeks STOXX 600 pan-Eropa ditutup turun 1% ke 605,51 poin—penurunan harian terbesar dalam sekitar sebulan.

 

 

 

•  PASAR ASIA :Indeks KOSPI Korea Selatan menjadi yang terbaik di Asia, melonjak 3,5% ke rekor 6.828,33 poin. Kenaikan ini terutama ditopang saham produsen chip memori seperti Samsung Electronics dan SK Hynix, yang menguat setelah mencatat kinerja kuartal I yang solid. SK Hynix melonjak 6,8% hingga mencetak rekor baru, sementara Samsung naik 2,8%. Keduanya diuntungkan oleh keterbatasan pasokan chip memori yang diperkirakan terus mendorong harga dan pendapatan, serta permintaan tinggi dari industri AI, termasuk dari pemain besar seperti Nvidia. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong naik 1,7%, didukung rebound saham teknologi lokal.

 

 

• KOMODITAS :Harga minyak melonjak sekitar 6% pada Senin setelah Iran meningkatkan serangan terhadap Uni Emirat Arab dan kapal-kapal di kawasan Teluk dalam 24 jam terakhir— menandai eskalasi paling serius sejak gencatan senjata AS–Iran diberlakukan awal April. Minyak Brent naik USD 6,27 (+5,8%) ke USD 114,44 per barel, sementara WTI naik USD 4,48 (+4,4%) ke USD 106,42. Iran dilaporkan menyerang beberapa kapal di Selat Hormuz dan memicu kebakaran di pelabuhan minyak UEA, di tengah upaya Presiden Donald Trump menggunakan Angkatan Laut AS untuk membuka kembali jalur pelayaran. Otoritas UEA menyatakan sistem pertahanan udaranya menghadapi ancaman rudal dan drone, sementara petugas berupaya memadamkan kebakaran di kawasan industri minyak akibat serangan drone yang disebut berasal dari Iran.

 

 

 

FIXED INCOME NEWS 

 

 

Pasok Modal Kerja Arutmin, BUMI Terbitkan Obligasi Rp1,8 Triliun

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menghimpun dana dari pasar modal melalui penerbitan Obligasi Berkelanjutan I Tahap V Tahun 2026 dengan nilai pokok sebesar Rp1,839 triliun. Aksi korporasi ini merupakan bagian dari target penghimpunan dana obligasi berkelanjutan senilai Rp5 triliun. Berdasarkan tambahan informasi ringkas yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia, manajemen BUMI menyatakan, obligasi ini diterbitkan tanpa warkat dengan harga penawaran 100% dan terbagi dalam tiga seri. Seri A senilai Rp600,04 miliar menawarkan bunga tetap 7,50% dengan tenor 370 hari. Seri B sebesar Rp905,97 miliar memiliki bunga 8,75% dengan tenor tiga tahun, sementara Seri C senilai Rp333,86 miliar menawarkan bunga tertinggi 9,05% dengan tenor lima tahun. Pembayaran bunga dilakukan setiap triwulan, dengan pembayaran pertama dijadwalkan pada 22 Agustus 2026. Sementara itu, pelunasan pokok dilakukan secara penuh (bullet payment) saat jatuh tempo masing-masing seri. (emitennews.com)

 

 

Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Jepang Tembus Angka 2,5%

Suku bunga jangka panjang di pasar obligasi Jepang pada Kamis (30/04/2026) mengalami peningkatan, dengan imbal hasil obligasi acuan pemerintah Jepang jangka 10 tahun melampaui 2,5 persen. Perusahaan pialang Japan Bond Trading mengatakan bahwa level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Februari 1999. Sumber-sumber pasar mengatakan bahwa investor menjual obligasi karena khawatir kenaikan harga minyak mentah akibat konflik Iran dapat makin memicu inflasi di Jepang. Dengan prospek perundingan AS-Iran untuk mengakhiri konflik yang tidak pasti, harga minyak mentah acuan WTI di New York naik dalam semalam. Angkanya bahkan sempat mencapai lebih dari 109 dolar per barel, level tertinggi dalam sekitar tiga pekan.

 

 

Bursa Tokyo juga mengalami aksi jual di berbagai saham pada Kamis pagi. Investor juga menjual yen dan membeli dolar sebagai aset aman. Pada satu titik, yen melemah hingga melampaui 160 terhadap dolar, level terendah dalam sekitar satu tahun sembilan bulan. Sumber-sumber pasar mengatakan kekhawatiran atas situasi di Timur Tengah makin meningkat di kalangan investor. (nhkworldjapan)

 

 

Kepemilikan SBN Ditopang Investor Domestik, Begini Dampaknya ke Pasar Keuangan

Porsi kepemilikan investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang terus menurun dinilai membawa dampak ganda terhadap pasar obligasi domestik. Melansir data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), kepemilikan non residen atau asing di surat utang domestik tercatat tinggal 12,75% per akhir April 2026 atau sekitar Rp 862,36 triliun. Porsi ini turun dari sekitar 13,17% atau sebesar Rp 878,75 triliun pada Januari 2026. Jika dibandingkan dengan tahun lalu juga lebih menyusut, pada April 2025 kepemilikan asing di SBN masih sekitar Rp 899,66 triliun atau porsinya sebanyak 14,36%. Kondisi ini menunjukkan jika pasar obligasi domestik semakin ditopang oleh investor dalam negeri.

 

 

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut dominasi investor domestik dalam pasar SBN membawa dua konsekuensi yang perlu dilihat secara seimbang. Kondisi ini mencerminkan perbaikan struktural yang positif. Pengalaman pada periode gejolak global sebelumnya menunjukkan bahwa tingginya porsi asing membuat pasar sangat sensitif terhadap perubahan sentimen. Dengan porsi asing yang kini jauh lebih kecil, menurut Yusuf, risiko arus keluar besar dalam waktu singkat juga menurun. Bank, asuransi, dana pensiun, reksadana, Bank Indonesia, dan investor ritel memberi basis permintaan yang lebih stabil. Namun demikian, stabilitas tersebut bukan tanpa risiko. Yusuf mengingatkan bahwa investor domestik juga dapat melakukan penyesuaian portofolio seiring perubahan kondisi ekonomi. (kontan.co.id)

 

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.