XA Update Report | PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) – 1Q26: Pemulihan ARPU dan Pertumbuhan Bisnis Seluler Memperkuat Prospek Normalisasi Kinerja Meskipun Tertekan Penyesuaian Non-Tunai

 

 

By Leonardo Lijuwardi (Senior Research Analyst) & Gwenda Deanita (Research Associate)

15-June-2026

 

 

TLKM membukukan pendapatan konsolidasian sebesar IDR 37.2T pada 1Q26, tumbuh moderat +1.5% YoY dan secara umum sejalan dengan panduan manajemen. Pertumbuhan terutama ditopang oleh bisnis digital Telkomsel yang meningkat +8.8% YoY, mendorong segmen Data, Internet & IT Services tumbuh +10.9% YoY menjadi IDR 23.6T, didukung oleh eksekusi strategi harga yang lebih disiplin serta peningkatan ARPU menjadi IDR 45.1k (+6.4% YoY). Namun demikian, segmen bisnis lainnya masih membatasi akselerasi pertumbuhan pendapatan. Laba bersih tercatat sebesar IDR 4.3T (-21.7% YoY), yang terutama dipengaruhi oleh faktor non-tunai berupa penyesuaian depresiasi sebesar IDR 498B dan kerugian MTM investasi GOTO sebesar IDR 309B. Dengan mengecualikan kedua faktor tersebut, laba bersih normalisasi 1Q26 mencapai IDR 5.1T (-3.7% YoY). Margin EBITDA tercatat sebesar 48.3%, sedikit di bawah target manajemen. Secara keseluruhan, kinerja 1Q26 masih sejalan dengan ekspektasi dan target yang ditetapkan manajemen. Di luar kinerja laba rugi, TLKM juga mempertahankan arus kas yang sehat, didukung pemulihan operating cash flow (OCF) dan disiplin belanja modal yang berkelanjutan. Kami mempertahankan rekomendasi “Buy” untuk TLKM dengan target harga IDR 3,700/saham.

 

 

 

🔹 Segmentasi Bisnis: Pemulihan ARPU Seluler Berlanjut, Sementara IndiHome serta SMS, Fixed & Cellular Voice Masih Tertekan

 

Pemulihan ARPU berlanjut pada 1Q26. ARPU TLKM meningkat menjadi IDR 45.1k pada 1Q26 (4Q25: IDR 45k; 1Q25: IDR 42.4k), sehingga mendorong pendapatan segmen B2C tumbuh 2.3% menjadi IDR 27T. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh segmen Data, Internet & IT Services yang meningkat 13.9% YoY, seiring pemulihan industri seluler, rasionalisasi trafik, serta penyederhanaan produk.

 

 

Tekanan berlanjut pada ARPU IndiHome dan penurunan pendapatan SMS, Fixed & Cellular Voice. Tekanan pada segmen fixed broadband masih berlanjut, dengan pendapatan IndiHome pada 1Q26 tercatat sebesar IDR 6.38T (-0.2% QoQ; -4.3% YoY). Penurunan ini disebabkan oleh ARPU yang lebih rendah (-8.9% YoY; -0.1% QoQ), mencerminkan dinamika persaingan harga yang masih ketat dan optimalisasi paket entry-level yang terus dilakukan. Sementara itu, pendapatan SMS, fixed dan cellular voice turun menjadi IDR 1.5T secara YoY (+5.5% QoQ; -41.4% YoY), seiring percepatan substitusi layanan OTT dan pergeseran pola komunikasi menuju layanan berbasis data yang semakin mengurangi relevansi layanan pesan dan suara tradisional.

 

 

Ekosistem fiber dan digital mulai menunjukkan akselerasi. Segmen B2B Infrastructure mencatat pertumbuhan yang solid sebesar 6.8% YoY menjadi IDR 2.4T, didukung oleh peningkatan penetrasi MTEL-FTTT yang semakin memperkuat karakteristik pendapatan berulang (recurring revenue) di tengah siklus densifikasi menara telekomunikasi di Indonesia. Pada segmen internasional, normalisasi bisnis voice hubbing masih memberikan tekanan sehingga pendapatan turun 1.2% YoY menjadi IDR 2.8T, meskipun pertumbuhan bisnis kabel bawah laut tetap resilien. Di sisi lain, segmen Others/Ancillary menjadi sorotan utama dengan pertumbuhan 34.5% YoY menjadi IDR 1.9T, didorong oleh momentum bisnis pembayaran digital dan gaming digital, yang mencerminkan potensi awal dari pengembangan ekosistem digital perseroan.

 

 

 

🔹 Kinerja Operasional: Menjaga Stabilitas Opex Secara QoQ di Tengah Kenaikan YoY

 

Beban pemasaran menurun seiring penerapan pengeluaran yang lebih disiplin. Beban pemasaran tercatat sebesar IDR 715B pada 1Q26 (-21.3% QoQ; -6.7% YoY), terutama karena tingginya aktivitas promosi pada musim liburan di kuartal sebelumnya. Secara keseluruhan, beban pemasaran hanya berkontribusi sekitar 1.9% terhadap total pendapatan TLKM, sejalan dengan rata-rata historis di kisaran 2–3%.

 

 

Beban operasional tetap terkendali. Opex meningkat 4.4% YoY pada 1Q26, dengan beban operasi dan pemeliharaan (O&M) naik menjadi IDR 11.1T (+15.5% YoY) akibat meningkatnya aktivitas operasional jaringan. Namun demikian, kenaikan secara QoQ hanya sebesar 1.3%, mencerminkan upaya pengendalian biaya dan efisiensi yang dilakukan manajemen. Di sisi lain, beban karyawan turun menjadi IDR 4T (-9.6% QoQ; -3.1% YoY), didukung penurunan jumlah karyawan menjadi 18,539 FTEs (1Q25: 19,712). Penurunan yang lebih tajam secara QoQ juga dipengaruhi oleh biaya Early Retirement Program (ERP) sebesar IDR 937B yang dibukukan pada 4Q25.

 

 

Lonjakan beban depresiasi dan amortisasi akibat penyesuaian akuntansi. Penyesuaian estimasi umur manfaat beberapa aset tetap sebesar IDR 498B menyebabkan beban depresiasi dan amortisasi meningkat menjadi IDR 8.7T (+3.8% YoY) pada 1Q26. Selain itu, TLKM juga membukukan beban lain-lain sebesar IDR 343B, yang sebagian besar berasal dari kerugian mark-to-market investasi GOTO sebesar IDR 309B, meskipun sebagian dikompensasi oleh keuntungan selisih kurs.

 

 

 

🔹 Management’s Guidance for FY26 & Our Forecast View

 

Menargetkan perbaikan margin EBITDA dan normalisasi kinerja. Manajemen menargetkan pertumbuhan pendapatan normalisasi sebesar 1–3% pada FY26 dengan margin EBITDA di atas 50% (vs. 48.3% pada 1Q26), sementara intensitas capex dipertahankan pada kisaran 17–19% terhadap pendapatan. Hal ini menunjukkan fokus manajemen pada optimalisasi eksekusi operasional dibandingkan ekspansi jaringan yang agresif. Sejalan dengan itu, kami memproyeksikan pertumbuhan pendapatan FY26F sebesar +1.2% YoY, didukung oleh perbaikan ARPU Telkomsel dan strategi monetisasi yang lebih disiplin. Kami memandang FY26 sebagai awal dari siklus normalisasi laba yang lebih bermakna, seiring manfaat efisiensi operasional dan struktur biaya yang lebih sehat mulai tercermin pada kinerja bottom line. Kami memperkirakan laba bersih FY26F akan pulih menjadi IDR 23.7T (+32.8% YoY).

 

 

 

🔹 Maintain “Buy” Recommendation with Target Price of IDR 3,700 (Upside +29.4%)

 

NHKSI Research mempertahankan rekomendasi “Buy” untuk Telkom Indonesia (TLKM) dengan target harga IDR 3,700/saham, yang merefleksikan valuasi sebesar 5.4x F-EV/EBITDA (+1 standar deviasi di atas rata-rata historis 3 tahun). Kami menilai valuasi TLKM saat ini masih menarik, didukung karakteristik defensif yang menjadikan saham ini sebagai instrumen lindung nilai portofolio di tengah volatilitas pasar saham Indonesia yang meningkat. Selain profil bisnis yang stabil dan resilien, sejumlah inisiatif strategis seperti efisiensi operasional, unlocking value aset fiber melalui Infranexia, serta ekspansi bisnis data center berpotensi menjadi katalis positif dalam jangka menengah seiring transformasi perusahaan menuju fase bisnis yang lebih matang.

 

 

Dalam jangka pendek, kami melihat beberapa katalis positif yang berpotensi mendorong rerating valuasi TLKM, termasuk keberhasilan implementasi program efisiensi operasional serta potensi peningkatan ARPU dan yield seiring pemulihan kondisi industri telekomunikasi. Sementara itu, risiko utama yang perlu dicermati meliputi melemahnya daya beli masyarakat yang dapat menekan permintaan layanan data, meningkatnya persaingan antar operator telekomunikasi terutama dalam aspek harga, serta potensi keterlambatan proses transformasi bisnis TLKM.

 

 

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.

 

 

 

 

NH Korindo Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubuni CS kami via email CSO@nhsec.co.id