Today’s Outlook :

 

• PASAR AS : Saham AS pada Jumat ditutup mixed namun cenderung menguat, didorong kenaikan Apple Inc. pasca earnings dan turunnya harga minyak setelah Iran mengajukan proposal damai baru. Meski begitu, sentimen tetap rapuh setelah Donald Trump menyatakan belum puas. Wall Street tetap mengawali Mei dengan kuat dan mencetak rekor baru.

 

 

S&P 500 naik 0,3% ke 7.230,17 (rekor), NASDAQ +0,9% ke 25.114,44 (tembus 25.000 pertama kali), sementara Dow Jones turun 0,3% ke 49.499,02. Secara mingguan, S&P +0,9%, NASDAQ +1,1%, dan Dow +0,5%, menandakan pemulihan kuat dari tekanan Maret.

 

 

Sentimen ditopang gencatan senjata, optimisme perang mereda, reli saham chip, dan earnings yang solid. Indeks Philadelphia Semiconductor Index bahkan mencatat kenaikan 18 hari beruntun di April.

 

 

Saham Apple naik 3,3% berkat permintaan iPhone yang kuat dan bisnis layanan yang solid. Perusahaan memproyeksikan pertumbuhan pendapatan 14%–17% dengan margin tinggi. Ini juga laporan pertama sejak transisi CEO dari Tim Cook ke John Ternus.

 

 

 

PASAR ASIA : Bursa Asia menguat pada Jumat di tengah volume perdagangan yang tipis karena banyak pasar libur, mengikuti rekor penutupan Wall Street. Namun, investor tetap berhati-hati memantau konflik AS–Iran yang masih berlangsung. Pasar utama seperti China, Hong Kong, Singapura, dan India tutup karena hari libur.

 

 

Indeks Nikkei 225 naik 0,6%, sementara TOPIX cenderung datar. Kenaikan tertahan oleh risiko geopolitik setelah laporan bahwa Donald Trump akan menerima briefing terkait opsi militer terhadap Iran, memicu kekhawatiran eskalasi.

 

 

Dari sisi data, inflasi Tokyo naik tipis pada April. Inflasi utama tercatat 1,5% YoY (vs 1,4% di Maret), sementara core CPI juga 1,5%, melambat dari 1,7% dan di bawah ekspektasi 1,8%. Hal ini menunjukkan tekanan harga masih lemah dan permintaan domestik yang rapuh.

 

 

 

KOMODITAS: Harga minyak melemah pada Senin setelah Donald Trump menyatakan AS akan membantu mengeluarkan kapal-kapal yang terjebak di Strait of Hormuz. Namun, belum adanya kesepakatan damai AS–Iran membuat harga tetap bertahan di atas USD 100/barel.

 

 

Brent turun 0,59% ke USD 107,53/barel, sementara WTI turun 0,82% ke USD 101,10/barel, melanjutkan pelemahan dari sesi sebelumnya. Trump menyebut AS akan memastikan kapal bisa keluar dengan aman agar aktivitas perdagangan tetap berjalan.

 

 

Meski begitu, harga minyak masih tinggi karena jalur Hormuz belum sepenuhnya normal dan negosiasi AS–Iran masih berlangsung tanpa hasil pasti. Sementara itu, OPEC+ berencana menaikkan target produksi sebesar 188 ribu barel/hari pada Juni (kenaikan ketiga berturut-turut). Namun, tambahan pasokan ini diperkirakan belum berdampak signifikan selama konflik Iran masih mengganggu distribusi minyak di kawasan Teluk.

 

 

 

INDONESIA : IHSG terkoreksi -2.03% di zona merah ke level dibawah angka psikologis 7000, tepatnya di 6956.8. Selama Bulan April kemarin, tekanan jual dari Big Banks masih cukup menjadi pemberat indeks mengantisipasi outlook makroekonomi Indonesia yang ke arah kontraksi, serta seller dari BREN dan DSSA masih menjadi pemberat untuk IHSG pasca eksklusi BREN dan DSSA dari LQ45 dan IDX30 serta IDX 80, dimana pasca perilisan HCL, sisi positifnya adalah penerapan adopsi yang dilakukan IDX juga mengikuti standar MSCI.

 

 

Tetap berjaga – jaga dari selling pressure big banks, walaupun secara valuasi atraktif, namun tekanan jual masih sangat besar mengiringi kontraksi makro Indonesia. Komoditas masih cukup atraktif khususnya harga komoditas  nikel yang akan menguji angka psikologis USD 20,000. Selain itu, jika beberapa saham komoditas mengalami koreksi seperti basis logam bisa dilakukan peluang buy on weakness mengingat performa solid seraya peningkatan ASP yang selaras dengan harga komoditas.

 

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.