Today’s Outlook :
• PASAR AS : Bursa saham AS ditutup melemah tajam pada Kamis setelah laporan keuangan Alphabet dan Tesla gagal meredakan kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja AI dan prospek imbal hasilnya. Di sisi lain, klaim pengangguran awal AS turun ke level terendah sejak Mei 1969, mencerminkan pasar tenaga kerja yang tetap kuat. Indeks S&P 500 turun 1,2% ke 7.407,58, Nasdaq Composite merosot 2,2% ke 25.137,69, dan Dow Jones melemah 1,0% ke 51.711,29.
Sentimen AI kembali tertekan setelah Alphabet membukukan arus kas bebas negatif untuk pertama kalinya dan menaikkan proyeksi belanja modal 2026 menjadi USD195–205 miliar, serta mengindikasikan belanja akan kembali meningkat pada 2027. Tesla juga mencatat arus kas bebas negatif untuk pertama kalinya sejak Q1 2024 dan mempertahankan target capex lebih dari USD25 miliar. Saham Tesla anjlok 14,5%, sementara Alphabet turun lebih dari 7%.
GEOPOLITIK : Sentimen pasar turut dibebani lonjakan harga minyak, dengan Brent menembus USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, seiring meningkatnya risiko meluasnya konflik di Timur Tengah.
Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah, meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak global. Arus pelayaran melalui Selat Hormuz juga dilaporkan turun sekitar 75% akibat meningkatnya risiko keamanan.
Militer AS melanjutkan serangan ke Iran untuk malam ke-12 berturut-turut, sementara Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di sejumlah negara tetangga. Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa AS akan meminta Iran bertanggung jawab apabila Houthi kembali menyerang kapal, dan mengancam akan menjatuhkan tindakan militer yang lebih besar terhadap Iran maupun Houthi.
• PASAR EROPA : Bursa saham Eropa melanjutkan pelemahan pada Kamis setelah European Central Bank (ECB) mempertahankan suku bunga acuan sesuai ekspektasi, namun memperingatkan bahwa dampak inflasi dari lonjakan harga energi belum sepenuhnya terlihat. Indeks STOXX 600 turun 1,2%, DAX melemah 1,8%, CAC 40 turun 1,6%, FTSE 100 terkoreksi 0,7%, dan FTSE MIB anjlok 2,8%.
Dalam pernyataannya, ECB menyebut harga energi masih sejalan dengan proyeksi dasar, tetapi tetap mencermati besaran, durasi, serta dampak lanjutan terhadap inflasi. ECB juga menegaskan akan tetap mengambil keputusan kebijakan moneter berdasarkan data ekonomi terbaru pada setiap pertemuan, tanpa memberikan sinyal mengenai arah suku bunga ke depan.
• PASAR ASIA:Mayoritas bursa saham Asia ditutup menguat pada Kamis, didorong optimisme terhadap berlanjutnya belanja AI setelah Alphabet kembali menaikkan proyeksi belanja modalnya. Namun, kenaikan pasar dibatasi lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Indeks KOSPI Korea Selatan memimpin penguatan dengan naik 4,4%, didorong lonjakan saham SK Hynix dan Samsung Electronics seiring ekspektasi bahwa peningkatan belanja AI Alphabet akan mendorong permintaan chip memori dan server AI. Di sisi lain, ekonomi Korea Selatan tumbuh 3,7% YoY pada kuartal II-2026, melampaui ekspektasi 3,5%, didukung kuatnya ekspor semikonduktor.
Di Jepang, Nikkei 225 naik 0,4% dan TOPIX menguat 0,5%. Sementara itu, Hang Seng Hong Kong naik 1,1%, sedangkan Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing menguat 0,2%. Meski demikian, penguatan pasar tertahan oleh kenaikan harga minyak yang mencapai level tertinggi dalam enam pekan setelah kelompok Houthi mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Lonjakan harga energi kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi global dan prospek suku bunga, sehingga membatasi minat investor terhadap aset berisiko.
• KOMODITAS:Harga minyak melonjak lebih dari 6% pada Kamis, dengan minyak Brent menembus USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Insiden tersebut memicu kritik dari Presiden Donald Trump dan meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global.
Lonjakan harga minyak sejak gagalnya nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran kembali memicu kekhawatiran inflasi. Hal ini tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang naik 4,4 basis poin menjadi 4,704%, seiring aksi jual obligasi oleh investor. Pada perdagangan sore waktu AS, Brent kontrak September melonjak 7,4% menjadi USD101,08 per barel, sementara WTI kontrak September naik 6,8% menjadi USD92,75 per barel.
• INDONESIA :IHSG pada perdagangan Kamis kemarin ditutup terkoreksi -0.3% di level 6315.31.
IHSG sempat menyentuh resistance 6400 di sesi pertama, namun pada sesi 2 mengalami koreksi sembari aksi profit taking, yang diiringi dengan ketakutan akibat harga acuan minyak mentah yang kembali mulai mencetak USD 100 / Barell. Tekanan geopolitik nampaknya menjadi sentimen yang bisa dicerna IHSG, menjadi sentimen yang mampu mengiringi IHSG kembali uji support terjauh hingga 6000.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

