Today’s Outlook :

 

 

• PASAR AS : Wall Street ditutup melemah pada Senin, tertekan oleh penurunan saham teknologi setelah aksi jual besar di pasar Korea Selatan serta meningkatnya kembali premi risiko geopolitik akibat eskalasi konflik antara AS dan Iran.

 

 

Indeks S&P 500 turun 0,8% ke 7.516,68, NASDAQ Composite merosot 1,6% ke 25.873,18, dan Dow Jones melemah 0,3% ke 52.498,82.

 

 

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan, yang memicu berakhirnya gencatan senjata dan memunculkan kembali ketidakpastian terkait Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menyatakan Selat Hormuz akan tetap terbuka di bawah perlindungan AS, namun AS akan mengenakan biaya 20% atas seluruh kargo yang melintas untuk menutup biaya pengamanan. Di sisi lain, Iran menegaskan Selat Hormuz tetap ditutup hingga stabilitas pulih dan AS menghentikan campur tangannya. Kondisi ini mendorong harga minyak kembali melonjak.

 

 

Di sektor teknologi, saham AI kembali tertekan akibat kekhawatiran valuasi yang dinilai terlalu tinggi. Koreksi tajam di Korea Selatan menyeret sentimen global, dengan KOSPI anjlok sekitar 9%, sementara Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing turun 10,7% dan 15,4%. Saham SK Hynix yang baru mencatat debut kuat di Nasdaq pada Jumat lalu juga terkoreksi lebih dari 9%.

 

 

Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi konsumen (CPI) dan inflasi produsen (PPI) AS pekan ini. Meski inflasi Juni diperkirakan melandai, lonjakan kembali harga minyak akibat meningkatnya risiko geopolitik berpotensi memperkuat tekanan inflasi. Federal Reserve juga menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga dan siap bertindak tegas untuk mengendalikan ekspektasi inflasi jangka panjang.

 

 

 

 

• PASAR EROPA:Bursa saham Eropa bergerak terbatas pada Senin di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, sehingga mendorong investor mengurangi aset berisiko.

 

 

Indeks STOXX 600 turun tipis 0,01%, DAX Jerman naik 0,08%, CAC 40 Prancis menguat 0,31%, sementara FTSE 100 Inggris melemah tipis 0,01%. Di sisi lain, saham energi menguat seiring kenaikan harga minyak. Shell naik 2,3%, BP melonjak 4,6%, dan TotalEnergies menguat 3%. Sentimen pasar dipicu runtuhnya gencatan senjata antara AS dan Iran. Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga batas waktu yang belum ditentukan setelah serangan terhadap kapal komersial dan aksi balasan militer AS.

 

 

 

• PASAR ASIA:Bursa saham Asia ditutup melemah pada Senin, dipimpin oleh kejatuhan saham Korea Selatan, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dan menekan minat investor terhadap aset berisiko. Indeks KOSPI Korea Selatan anjlok lebih dari 5%, dengan Samsung Electronics turun hampir 7% dan SK Hynix merosot 11% akibat tekanan pada saham semikonduktor.

 

 

Di Jepang, Nikkei 225 melemah 1,3% dan TOPIX turun 0,8%. Sementara itu, Shanghai Composite turun 0,7%, CSI 300 melemah 0,3%, sedangkan Hang Seng Hong Kong bergerak relatif datar. Sentimen pasar memburuk setelah Iran memperluas serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk sebagai balasan atas serangan militer AS, serta mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Namun, Presiden AS Donald Trump menyatakan jalur pelayaran tersebut tetap terbuka di bawah perlindungan AS.

 

 

 

• KOMODITAS :Harga minyak melonjak sekitar 9% pada Senin setelah gencatan senjata antara AS dan Iran runtuh dan kedua negara saling mengklaim kendali atas Selat Hormuz, sehingga memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

 

 

Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran dan menyatakan kapal yang melintasi Selat Hormuz harus membayar biaya perlindungan kepada AS. Hingga pukul 15.52 ET (19.52 GMT), kontrak berjangka Brent pengiriman September melonjak 9,2% ke USD82,99 per barel, sementara WTI pengiriman Agustus naik 8,8% ke USD77,70 per barel. Kenaikan ini menjadi yang terbesar masing-masing sejak 12 Maret dan 2 April.

 

 

Harga minyak sebelumnya sempat kembali ke level sebelum perang setelah AS dan Iran menandatangani perjanjian damai yang membuka kembali Selat Hormuz. Namun, pecahnya kembali konflik menyebabkan aktivitas pelayaran menurun dan memicu kembali kekhawatiran inflasi. Data Kpler menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun sekitar 52% dibanding pekan sebelumnya, meski AS menyatakan sekitar 8,5 juta barel minyak tetap dikirim melalui jalur tersebut pada Minggu. Gangguan berkepanjangan berpotensi meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi serta memaksa negara-negara pengimpor, terutama di Asia, mencari pasokan alternatif.

 

 

 

• INDONESIA :IHSG pada perdagangan Senin kemarin ditutup menguat ke level diatas 6000 dan ditutup di level 6037.84. Pergerakan indeks didukung dengan katalis – hasil pemeringkatan S&P  yang mempertahankan rating stable untuk Indonesia dan masih dalam rentang BBB.

 

 

Dari sisi teknikal, pandangan kami belum berubah. Area 6.000 masih menjadi level konfirmasi utama untuk mengembalikan momentum bullish. Selama IHSG belum mampu bertahan di atas level tersebut, pergerakan diperkirakan masih akan bergerak sideways dengan kecenderungan menguji area support di 5.300–5.400 apabila tekanan jual kembali meningkat. Sebaliknya, apabila IHSG berhasil menembus dan bertahan di atas 6.000, maka peluang penguatan menuju 6.100 hingga 6.240 akan kembali terbuka.

 

 

Untuk hari ini, tetap pantau level 6000, apakah IHSG mampu bertahan atau tidak.

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.