Today’s Outlook :

 

• PASAR AS :Wall Street ditutup bervariasi pada Selasa setelah perdagangan yang bergejolak dan cenderung melemah, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump bahwa AS akan merespons serangan Iran yang menembak jatuh helikopter Amerika. Sentimen pasar juga tertekan akibat melemahnya reli saham chip yang menyeret sektor teknologi. Investor turut mencermati pengajuan IPO rahasia OpenAI serta bersikap hati-hati menjelang rilis data inflasi AS minggu ini. Indeks S&P 500 turun 0,3% ke 7.385,48, NASDAQ melemah 1% ke 25.678,82, sementara Dow Jones naik 0,1% ke 50.870,94.

 

 

Kenaikan saham chip yang sebelumnya mendorong Wall Street ke level tertinggi tahun ini gagal bertahan. Indeks semikonduktor Philadelphia sempat mengalami penurunan lebih dari 10% pada Jumat lalu, penurunan harian terburuk sepanjang 2026, setelah data ketenagakerjaan AS yang kuat meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve. Meski saham chip sempat pulih pada Senin, penguatan tersebut tidak berlangsung lama.

 

 

Selain pelemahan saham chip, sektor kecerdasan buatan menjadi sorotan setelah OpenAI mengajukan IPO secara rahasia di AS, mengikuti langkah pesaingnya, Anthropic, yang melakukan hal serupa lebih dari sepekan sebelumnya.

 

 

Dari sisi ekonomi, perhatian pasar pekan ini tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) bulan Mei yang dirilis Rabu dan Producer Price Index (PPI) yang dirilis Kamis. Dengan pasar tenaga kerja yang masih kuat dan inflasi berpotensi meningkat akibat lonjakan harga minyak karena konflik Iran, investor memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya tahun ini.

 

 

 

• PASAR EROPA : Bursa saham Eropa bergerak bervariasi pada Selasa seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah, sementara investor bersiap menghadapi keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan diumumkan pekan ini. Indeks Stoxx 600 turun 0,5%, DAX Jerman melemah 0,8%, dan FTSE 100 Inggris turun 1,4%. Sementara itu, CAC 40 Prancis menguat 0,1%.

 

 

 

• PASAR ASIA :Bursa Asia mayoritas menguat pada Selasa, didorong oleh rebound saham semikonduktor dan AI serta meredanya ketegangan di Timur Tengah. KOSPI Korea Selatan memimpin penguatan dengan naik 3% setelah saham chip pulih, di mana Samsung Electronics naik 3,4% dan SK Hynix melonjak 7,7% didukung kerja sama dengan Nvidia. Sentimen juga ditopang oleh pertumbuhan ekonomi Korea Selatan kuartal I sebesar 1,8% berkat kuatnya ekspor semikonduktor. Nikkei 225 Jepang naik 0,9% dan TOPIX menguat 0,5% seiring pemulihan saham teknologi.

 

 

Di China, CSI 300 dan Shanghai Composite naik masing-masing 0,4% setelah data perdagangan Mei menunjukkan surplus yang lebih kuat dari perkiraan, didukung lonjakan ekspor dan permintaan impor komponen semikonduktor serta AI.

 

 

 

• KOMODITAS: Harga minyak naik sekitar 1% pada Rabu setelah militer AS melancarkan serangan baru terhadap Iran dan data menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah AS untuk minggu kedelapan berturut-turut. Brent naik 0,9% ke USD 92,29 per barel, sementara WTI menguat 0,8% ke USD 88,97 per barel, bangkit dari level terendah dalam sekitar tujuh minggu pada sesi sebelumnya. Kenaikan harga terjadi di tengah meningkatnya kembali ketegangan AS-Iran setelah serangan terhadap helikopter Apache AS, yang mengancam gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara. Meski demikian, arus kapal dan ekspor minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung. Dari sisi pasokan, stok minyak mentah AS turun selama delapan minggu berturut-turut, turut memberikan dukungan terhadap kenaikan harga minyak.

 

 

• INDONESIA :IHSG per perdagangan Selasa kemarin ditutup menguat signifikan ke level 5,746.65 dimana menguat sejauh +7.57% didukung oleh oleh penguatan saham konglomerasi dan big caps konvensional di IHSG.

 

 

Pemerintah Indonesia nampaknya mulai mencoba untuk mendengarkan masukan dari pasar modal, dimana langkah pertemuan rapat antara Wakil Ketua DPR RI, COO Danantara dan beberapa CEO Bank Himbara yang menghasilkan keputusan rencana buyback terhadap saham-saham BUMN berfundamental cukup solid seperti perbankan memberikan ketenangan terhadap pasar. Saat ini, realisasi dari buyback tersebut cukup ditunggu. Bank Indonesia juga melakukan tindakan yang cukup mengagetkan dimana menaikkan suku bunga sejumlah +25 Bps yang dilakukan untuk mencoba menstabilisasi nilai tukar Rupiah. Selanjutnya, kenaikan pertamax yang baru diumumkan dini hari memberikan apresiasi terhadap pasar terkait dengan pengelolaan fiskal yang lebih solid untuk membantu mengurangi defisit APBN.

 

 

Terlepas rally kemarin merupakan rally terbesar kedua sepanjang sejarah setelah pasca Covid, tetap masih harus rasional dikala tekanan global, memulihkan kepercayaan terhadap fiskal Indonesia yang butuh waktu untuk pulih.

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.