Today’s Outlook :

 

• PASAR AS :S&P 500 turun 0,2% ke 7.401,39 poin setelah sempat melemah hingga 1%, sementara NASDAQ Composite turun 0,7% ke 26.088,20 poin usai sempat anjlok 2%. Dow Jones justru naik tipis 0,1% ke 49.760,56 poin berkat penguatan saham defensif seperti UnitedHealth, Walmart, dan Amgen. Meski melemah, ketiga indeks utama AS masih berada dekat level rekor, didukung musim laporan keuangan yang solid, reli saham AI, dan harapan meredanya konflik Iran.

 

 

Wall Street terkoreksi dari level tertinggi pada Selasa setelah data inflasi AS April dirilis lebih tinggi dari ekspektasi. CPI tercatat naik 0,6% MoM dan 3,8% YoY, lebih tinggi dari konsensus 3,7% dan menjadi level tertinggi sejak Mei 2023. Core CPI juga naik di atas perkiraan menjadi 0,4% MoM dan 2,8% YoY, memperkuat kekhawatiran pasar terhadap dampak inflasi dari perang Iran, terutama akibat kenaikan harga minyak dan bensin.

 

 

Data tersebut memicu spekulasi bahwa The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga tahun ini, meski mayoritas pasar masih memperkirakan suku bunga akan ditahan. Rilis inflasi ini juga muncul menjelang berakhirnya masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell, dengan Kevin Warsh disebut berpotensi menjadi penggantinya usai dinominasikan Presiden Donald Trump.

 

 

Pasar juga masih dibayangi minimnya perkembangan menuju kesepakatan damai AS-Iran. Trump menyebut gencatan senjata berada dalam kondisi “sangat rapuh” serta menolak proposal perdamaian Iran. AS juga dikabarkan tetap mempertahankan blokade laut terhadap Iran dan mempertimbangkan dimulainya kembali operasi militer.

 

 

Trump dijadwalkan melakukan kunjungan tiga hari ke China, dengan pasar berharap pertemuannya bersama Presiden Xi Jinping dapat membantu meredakan kebuntuan terkait Iran. Selain isu geopolitik, keduanya juga diperkirakan membahas tarif perdagangan, Taiwan, dan kecerdasan buatan (AI).

 

 

 

• PASAR EROPA : PASAR EROPA: Bursa saham Eropa ditutup melemah pada Selasa, terbebani minimnya indikasi bahwa AS dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan damai permanen. Indeks Stoxx 600 Eropa turun 1%, DAX Jerman melemah 1,5%, FTSE 100 Inggris turun tipis 0,04%, sementara CAC 40 Prancis terkoreksi hampir 1%. (reuters.com)

 

 

 

• PASAR ASIA : Mayoritas bursa saham Asia bergerak mixed cenderung melemah pada Selasa seiring reli saham teknologi berbasis chip mulai kehilangan momentum. Pasar juga masih dibayangi minimnya tanda-tanda meredanya konflik AS-Iran.

 

 

KOSPI Korea Selatan menjadi indeks dengan kinerja terburuk di kawasan, sempat anjlok hingga 4% dalam perdagangan yang volatil. Indeks sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi di awal sesi sebelum berbalik melemah tajam akibat aksi profit taking, terutama pada saham-saham chip yang sebelumnya reli kuat didorong optimisme permintaan AI.

 

 

Di kawasan lain, indeks Nikkei 225 dan TOPIX Jepang masing-masing naik 0,5%, meski pasar mulai mempertimbangkan peluang kenaikan suku bunga Bank of Japan setelah muncul sinyal lebih hawkish dari rapat April lalu.

 

 

Sementara itu, indeks CSI 300 dan Shanghai Composite China bergerak flat, sedangkan Hang Seng Hong Kong mencatat kenaikan tipis. Fokus pasar pekan ini juga tertuju pada pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di China, yang diperkirakan akan membahas berbagai isu di tengah hubungan AS-China yang masih tegang.

 

 

 

• KOMODITAS:Harga minyak bergerak melemah tipis pada perdagangan Asia Rabu setelah reli selama tiga sesi berturut-turut, seiring pelaku pasar menimbang gangguan distribusi melalui Selat Hormuz serta mencermati data persediaan minyak AS. Brent Oil Futures kontrak Juli turun 0,4% ke USD 107,36 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,3% ke USD 101,91 per barel.

 

 

Pasar masih dibayangi ketidakpastian setelah Presiden Donald Trump menyebut prospek gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “life support” serta menolak respons terbaru Teheran terhadap proposal perdamaian yang didukung AS, sehingga meningkatkan kekhawatiran konflik akan berlangsung lebih lama.

 

 

 

• INDONESIA :IHSG ditutup ke dalam zona merah sejauh ke level 6858.9 dimana tekanan jual saham konglomerasi yang mengalami penurunan dan outflow mengantisipasi pasar terkait dengan peluang untuk deletion dari MSCI Indonesia.

 

 

 

Selain kekhawatiran investor Indonesia mengenai risiko dari domestik terkait dengan nilai tukar dan kebijakan yang kurang pro dengan investor menjadi concern tersendiri bagi pelaku asal mengingat ketertinggalan IHSG dengan regional lainnya, sentimen mengenai deletion MSCI terkait ke beberapa big caps Indonesia seperti AMMN, TPIA, BREN, DSSA, CUAN yang terhapus dan penurunan AMRT ke small cap akan memberikan tekanan jual besar ke dalam IHSG. Jika pelaku pasar cukup panik, tekanan jual dari beberapa nama tersebut bisa memicu penurunan pasar, menguji IHSG ke 6500. Ambil manfaat kesempatan ini untuk mengambil saham berfundamental solid yang kokoh dan cukup terdiskon sebagai peluang untuk hedging portofolio.

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.