Today’s Outlook:
• PASAR AS :Saham AS bergerak tipis di sekitar garis datar pada Senin dan akhirnya ditutup mixed, saat investor bersiap menghadapi pekan yang sangat padat—mulai dari keputusan bank sentral, rilis data ekonomi, hingga laporan keuangan perusahaan teknologi besar. Indeks acuan S&P 500 naik 0,1% ke 7.173,89, sementara NASDAQ Composite bertambah 0,2% ke 24.887,10—keduanya ditutup di level rekor. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average turun 0,1% ke 49.168,04.
Pekan lalu, indeks utama Wall Street juga bergerak campuran, dengan reli kuat sejak akhir Maret mulai melambat. Hal ini dipicu lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz serta mandeknya upaya diplomasi antara AS dan Iran. Pekan ini berpotensi dipenuhi katalis pasar, termasuk keputusan suku bunga dari bank sentral besar seperti Bank of Japan, European Central Bank, dan Federal Reserve, yang kemungkinan akan mencerminkan dampak konflik Timur Tengah. Selain itu, akan dirilis data penting seperti PDB AS dan indikator inflasi favorit The Fed.
Pelaku pasar juga sangat menantikan laporan keuangan kuartalan dari anggota “Magnificent 7”, yaitu Alphabet, Microsoft, Amazon, dan Meta pada Rabu, disusul Apple pada Kamis. Ini terjadi di tengah rebound kuat sektor AI, di mana Philadelphia Semiconductor Index mencatat rekor kenaikan harian terpanjang dalam sejarah dengan lonjakan total 47,2%.
Dari sisi geopolitik, rencana pembicaraan damai AS–Iran gagal terlaksana akhir pekan lalu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sempat dijadwalkan bertemu utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff dan pengusaha AS Jared Kushner di Pakistan.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dan tim keamanannya dilaporkan skeptis terhadap proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menunda pembahasan program nuklirnya. Menurut laporan Wall Street Journal, meski tidak langsung menolak, Trump meragukan itikad baik Iran dan komitmennya terhadap tuntutan utama AS—menghentikan pengayaan nuklir dan berjanji tidak mengembangkan senjata nuklir.
• PASAR EROPA :Saham Eropa melemah pada Senin, seiring investor menilai mandeknya negosiasi antara AS dan Iran, yang mengindikasikan gangguan pasokan minyak global yang sudah berlangsung berminggu-minggu akan terus berlanjut. Indeks pan-Eropa Stoxx 600 turun 0,3%, FTSE 100 Inggris melemah 0,6%, DAX Jerman turun 0,1%, dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,2%.
Selama akhir pekan, Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana pengiriman negosiator ke Pakistan untuk putaran baru pembicaraan dengan Iran. Ia menyatakan bahwa Teheran bisa “menghubunginya langsung” karena AS merasa “memegang semua kendali.”
• PASAR ASIA :Pasar saham Asia mayoritas menguat pada Senin, mengikuti sinyal campuran dari Wall Street pada Jumat. Bursa di Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan mencatat kenaikan signifikan, meski pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap ketidakpastian putaran kedua pembicaraan damai AS–Iran. Investor juga memanfaatkan momentum bargain hunting setelah pasar sebelumnya tertekan akibat konflik.
Di Jepang, pasar saham melonjak tajam, melanjutkan penguatan sesi sebelumnya. Indeks Nikkei 225 menembus level 60.550, didorong kenaikan di hampir semua sektor, terutama saham-saham besar (heavyweights), finansial, dan teknologi. Indeks Nikkei 225 ditutup pada sesi pagi di 60.584,37, naik 868,19 poin atau 1,45%, setelah sempat menyentuh level tertinggi 60.652,98. Saham raksasa seperti SoftBank Group naik lebih dari 1%, sementara Fast Retailing (pemilik Uniqlo) menguat lebih dari 2%.
• KOMODITAS :Harga minyak naik pada awal perdagangan Asia hari Selasa, melanjutkan penguatan sebelumnya seiring pasar memantau kemungkinan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,3% ke USD 96,62 per barel, setelah sebelumnya melonjak lebih dari 2%. Laporan awal pekan ini menyebut Teheran mengajukan proposal baru untuk membuka kembali Hormuz dan mengakhiri perang, yang kini sedang dipertimbangkan oleh Washington. Namun, laporan The Wall Street Journal menyebut Presiden AS Donald Trump dan timnya skeptis terhadap tawaran tersebut karena mencakup penundaan pembahasan program nuklir Iran.
Sementara itu, kontrak berjangka gandum di Chicago Board of Trade berbalik menguat pada Senin, didorong oleh kenaikan harga minyak, pelemahan dolar AS, serta premi risiko akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Pelaku pasar juga memantau curah hujan di wilayah Plains AS yang berpotensi meredakan tekanan kekeringan pada tanaman gandum, meski beberapa area diperkirakan sudah mengalami penurunan hasil panen dan hujan tidak merata. Dalam dua minggu ke depan, hujan diprediksi turun di wilayah tersebut, namun sekitar sepertiga tanaman gandum musim dingin masih akan berada dalam kondisi tertekan dalam jangka pendek.
• INDONESIA : IHSG masih terkoreksi -0.32% di zona merah berada di angka 7106 benteng support terakhir adalah psikologis 7000. Pasar Indonesia saat ini sudah mulai kebal dengan sentimen geopolitik US-Iran, dan selanjutnya agenda reformasi IHSG yang sudah terlihat mulai dari perilisan HCL memberikan angin segar bagi bursa IHSG. Namun, tetap berhati-hati terkait dengan volatilitas yang timbul hari ini beriringan dengan sentimen geopolitik yang masih panas.
Tekanan seller dari BREN dan DSSA masih menjadi pemberat untuk IHSG pasca eksklusi BREN dan DSSA dari LQ45 dan IDX30 serta IDX 80, dimana pasca perilisan HCL, sisi positifnya adalah penerapan adopsi yang dilakukan IDX juga mengikuti standar MSCI. Tetap berjaga – jaga dari selling pressure big banks, walaupun secara valuasi atraktif, namun tekanan jual masih sangat besar mengiringi kontraksi makro Indonesia.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

