Today’s Outlook :

 

• US MARKET : Wall Street pada Jumat ditutup di level rekor tertinggi seiring meningkatnya optimisme terhadap kelanjutan pembicaraan damai antara AS dan Iran. Laporan kuartalan Intel yang kuat, yang mendorong sektor teknologi, turut memperbaiki sentimen pasar. Indeks-indeks utama mencatat kinerja campuran: S&P 500 dan NASDAQ Composite—yang didominasi saham teknologi—ditutup di level rekor, sementara Dow Jones Industrial Average justru melemah.

 

 

S&P 500 naik 0,8% ke 7.164,73 poin, NASDAQ menguat 1,6% ke 24.836,60 poin, sedangkan Dow turun 0,2% ke 49.229,48 poin. Setelah reli tiga minggu yang membuat S&P 500 melonjak 11,6%, pasar kehilangan sebagian momentumnya pekan ini, dengan indeks acuan tersebut hanya naik 0,5%. NASDAQ naik 1,5% secara mingguan, sementara Dow turun 0,4%.

 

 

Pelemahan momentum ini terjadi meski ada perpanjangan gencatan senjata antara AS–Iran serta Israel–Lebanon, terutama karena ketegangan tinggi di sekitar Selat Hormuz yang krusial dan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan serta garis pantai Iran. Jalur sempit ini pada dasarnya tetap tertutup, disertai sejumlah serangan terhadap kapal dan penyitaan kapal dari kedua pihak. Iran menyebut blokade AS sebagai “tindakan perang” dan pelanggaran gencatan senjata, serta menuntut pencabutannya sebelum melanjutkan perundingan damai. Sementara itu, Presiden Donald Trump menyatakan blokade akan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan.

 

 

Meski demikian, pelaku pasar cenderung mengabaikan konflik di Timur Tengah dan lebih fokus pada musim laporan laba kuartal pertama, yang sejauh ini menunjukkan kinerja solid bagi korporasi AS.

 

 

Sektor teknologi menjadi salah satu yang paling menonjol, khususnya saham semikonduktor. Philadelphia Semiconductor Index—indikator utama kinerja saham chip—pada Jumat memperpanjang rekor kenaikan harian terpanjang dalam 32 tahun sejarahnya.

 

 

 

PASAR EROPA :Saham Eropa melemah pada Jumat, seiring memudarnya harapan akan tercapainya kesepakatan cepat untuk mengakhiri perang Iran dan masih adanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak. Indeks pan-Eropa STOXX 600 turun 0,6%, DAX Jerman melemah 0,1%, CAC 40 Prancis turun 0,8%, dan FTSE 100 Inggris juga terkoreksi 0,8%.

 

 

 

PASAR ASIA : Saham Asia melemah pada Jumat, seiring meredupnya momentum saham teknologi di tengah mandeknya pembicaraan damai AS–Iran dan lonjakan kembali harga minyak, sementara investor juga mencermati data inflasi Jepang yang sedikit lebih kuat.

 

 

Indeks KOSPI Korea Selatan turun tipis 0,4% ke 46.452,29 poin, setelah sempat mencetak rekor tertinggi di sesi sebelumnya. Indeks acuan ini tetap berada di jalur kenaikan lebih dari 4% sepanjang pekan, didorong oleh saham-saham chip berkapitalisasi besar. Indeks Shanghai Composite China turun 0,5%, sementara CSI 300 melemah 0,6%. Hang Seng Hong Kong turun 0,5%, dengan sub-indeks HSTECH merosot 1%.

 

 

Di Jepang, data pemerintah yang dirilis Jumat menunjukkan inflasi inti—yang tidak memasukkan harga makanan segar—naik 1,8% secara tahunan pada Maret, dari 1,6% di Februari, namun masih di bawah target 2% Bank of Japan. Bank of Japan dijadwalkan menggelar rapat pekan depan, dengan ekspektasi suku bunga tetap dipertahankan, namun memberi sinyal kemungkinan kenaikan di masa depan. Indeks Nikkei 225 naik tipis 0,4% setelah mencetak rekor pada Kamis, sementara indeks TOPIX yang lebih luas turun 0,1%.

 

 

KOMODITAS : Harga minyak mentah AS naik pada perdagangan awal Rabu, meski Washington mengumumkan perpanjangan tanpa batas gencatan senjata dengan Iran, karena ketidakpastian tetap tinggi dan Selat Hormuz masih praktis tertutup. Minyak WTI sempat naik hingga USD 90,70 per barel dan diperdagangkan naik 59 sen (0,7%) di USD 90,26 pada 22:15 GMT. Kontrak acuan tersebut sebelumnya naik 2,8% pada Selasa.

 

 

 

INDONESIA : IHSG ditutup terkoreksi dalam -3.38% di zona merah berada di angka 7129.5 dan breakdown support 7200. Benteng support terakhir adalah psikologis 7000. Pasar Indonesia saat ini sudah mulai kebal dengan sentimen geopolitik US-Iran, dan selanjutnya agenda reformasi IHSG yang sudah terlihat mulai dari perilisan HCL memberikan angin segar bagi bursa IHSG. Namun, tetap berhati-hati terkait dengan volatilitas yang timbul hari ini beriringan dengan sentimen geopolitik yang masih panas.

 

 

Tekanan seller dari BREN dan DSSA masih menjadi pemberat untuk IHSG pasca eksklusi BREN dan DSSA dari LQ45 dan IDX30 serta IDX 80, dimana pasca perilisan HCL, sisi positifnya adalah penerapan adopsi yang dilakukan IDX juga mengikuti standar MSCI. Tetap berjaga – jaga dari selling pressure big banks, walaupun secara valuasi atraktif, namun tekanan jual masih sangat besar mengiringi kontraksi makro Indonesia.

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.