XA Update Report | PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) – Agribisnis Lanjutkan Peran Jadi Penopang hingga FY26
By Steven Willie (Research Associate)
27-Apr-2026
INDF bukukan kinerja FY25 yang solid, dengan pendapatan tumbuh +6.7% YoY menjadi Rp 123.5 T — setara 102% dari estimasi kami. Kinerja ini terjadi merata di seluruh segmen, dengan momentum tahunan berlanjut hingga 4Q25, di mana pendapatan naik +13% YoY (4% QoQ) menjadi Rp32,5 T. Segmen Agribisnis jadi yang paling menonjol, melonjak +32% YoY seiring kenaikan harga CPO sebesar +10% YoY menjadi Rp14.101/kg (dibandingkan Rp12.807/kg pada FY24). Segmen Distribusi menyusul dengan pertumbuhan stabil +6% YoY, sementara CBP dan Bogasari tumbuh lebih moderat, masing-masing sebesar +3% dan +2% YoY. Gross margin turun 33% (dari 35% pada FY24). Meski demikian, disiplin operasional tetap terjaga: OPEX hanbya naik +2% YoY, menjaga OPM tetap stabil di level 20%. Perbaikan pada pendapatan dari entitas asosiasi dan joint venture turun memberi dkungan signifikan pada laba bersih, mendorong NPM anik ke 9% (dari 7% pada FY24) dan menghasilkan pertumbuhan laba bersih sebesar +24% YoY menjadi Rp10,7 T.
🔹 Kinerja Keuangan FY25 & 4Q25
• Kinerja top-line lampaui ekspektasi, kinerja solid merata. INDF membukukan kinerja FY25 yang solid, dengan pendapatan tumbuh +6,7% YoY menjadi Rp123,5 triliun — mencapai 102% dari estimasi kami. Kinerja di atas ekspektasi ini terjadi secara merata di seluruh segmen, dengan momentum tahunan berlanjut hingga 4Q25, di mana pendapatan meningkat +13% YoY (+4% QoQ) menjadi Rp32,5 triliun.
• Agribisnis jadi penggerak utama. Segmen Agribisnis menonjol, melonjak +32% YoY didorong oleh kenaikan harga CPO sebesar +10% YoY menjadi Rp14.101/kg (dibandingkan Rp12.807/kg pada FY24). Segmen Distribusi menyusul dengan pertumbuhan stabil +6% YoY, sementara CBP dan Bogasari mencatat pertumbuhan lebih moderat masing-masing sebesar +3% dan +2% YoY.
• Magin tertekan, namun disiplin terjaga. Gross margin terkontraksi menjadi 33% (dari 35% pada FY24), seiring kenaikan biaya input yang hanya sebagian dapat diteruskan ke konsumen di berbagai segmen — margin EBIT CBP turun ke 21% (dari 22%) dan Agribisnis ke 20% (dari 23%). Meski demikian, disiplin operasional tetap terlihat: OPEX hanya meningkat +2% YoY, sehingga menjaga OPM tetap stabil di level 20%.
• Laba Bersih Tertopang Pemulihan Asosiasi. Perubahan yang lebih signifikan terjadi di bawah level operasional. Pemulihan pendapatan dari entitas asosiasi dan joint venture — mencatatkan laba Rp27,4 M dibandingkan rugi Rp1,4 T pada FY24 — memberikan dukungan besar terhadap laba bersih, mendorong NPM naik ke 9% (dari 7% pada FY24) dan menghasilkan pertumbuhan laba bersih sebesar +24% YoY menjadi Rp10,7 T.
🔹 Outlook FY26: Agribisnis Tetap Jadi Penggerak Utama
• Agribisnis masih jadi jangkar penopang top-line. Kami memproyeksikan pendapatan FY26 sebesar Rp130,9 triliun (+5,5% YoY), dengan Agribisnis tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan. Sentimen positif CPO diperkirakan berlanjut, seiring harga CPO global yang telah naik sekitar +11–12% YTD ke kisaran MYR 4.400–4.500/MT, didukung oleh implementasi mandat biodiesel B50 di Indonesia dan B12 di Malaysia — yang berpotensi menekan pasokan seaborne. Potensi pengetatan pasokan di Malaysia pada 2H26F juga menjadi katalis tambahan bagi kenaikan harga.
• Pemulihan margin masih bertahap. Tekanan biaya diperkirakan masih berlanjut hingga FY26, terutama akibat kenaikan harga input CPO. Meskipun penyesuaian ASP oleh manajemen dapat mengimbangi sebagian tekanan tersebut, pass-through secara penuh kemungkinan belum terjadi dalam waktu dekat. Oleh karena itu, kami memperkirakan GPM FY26F relatif stabil di 33,6%, dengan OPM di 20% dan NPM di 12%. Laba bersih diproyeksikan tumbuh +4% YoY menjadi Rp11,1 T.
🔹 Rekomendasi OVERWRIGHT dengan TP pada Rp7.750/saham
• Kami pertahankan rekomendasi OVERWEIGHT untuk INDF dengan TP pada Rp7.750. Segmen Agribisnis terus menunjukkan kinerja di atas ekspektasi, memberikan kontribusi pendapatan yang signifikan dan mampu mengimbangi perlambatan di CBP dan Bogasari. Dengan valuasi saham yang saat ini diperdagangkan pada 5,7x P/E, kami melihat level saat ini sebagai titik masuk yang menarik bagi investor yang mencari eksposur defensif di sektor consumer staples Indonesia.
• Risiko : (1) daya beli konsumen yang lebih lemah dari ekspektasi; (2) kenaikan biaya input yang lebih tinggi dari perkiraan, terutama bahan baku utama; (3) persaingan yang semakin ketat dari produk substitusi maupun merek kompetitor; dan (4) depresiasi nilai tukar Rupiah.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.
NH Korindo Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubuni CS kami via email CSO@nhsec.co.id

