Today’s Outlook :

 

PASAR AS : Wall Street ditutup menguat, dengan Dow Jones naik 0,4%, S&P 500 +0,5%, dan NASDAQ +0,5%. Fokus investor tetap pada perkembangan cepat di Timur Tengah, di mana upaya diplomatik untuk menghentikan konflik mulai melemah.

 

 

Proposal yang didukung AS bersama mediator seperti Pakistan, Mesir, dan Turki mengusulkan gencatan senjata 45 hari serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, Iran menolak dan menuntut penghentian permanen konflik, jaminan tidak ada serangan lanjutan, pencabutan sanksi, kompensasi perang, serta penyelesaian regional yang lebih luas. Sementara itu, Trump meningkatkan tekanan menjelang batas waktu Selasa pukul 20.00 ET, dengan ancaman serangan besar AS ke infrastruktur Iran jika tidak dipatuhi.

 

 

Selat Hormuz—yang menangani sekitar 20% aliran minyak global— masih terganggu, mendorong harga minyak naik tajam dan menambah tekanan inflasi.

 

 

 

• PASAR EROPA :Pasar saham Eropa tutup pada hari Senin karena libur.

 

 

 

•  PASAR ASIA : Bursa Jepang dan Korea Selatan menguat pada Senin dalam perdagangan tipis akibat libur, seiring investor mencermati laporan bahwa AS, Iran, dan mediator lain tengah membahas potensi gencatan senjata 45 hari. Volume transaksi relatif rendah karena pasar di Hong Kong, China daratan, dan Australia tutup.

 

 

Indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,4% dan TOPIX +0,7%, sementara KOSPI Korea Selatan menguat 1,1%. Sentimen membaik setelah laporan Axios menyebut adanya pembahasan menuju gencatan senjata yang berpotensi menjadi langkah awal menuju kesepakatan lebih luas untuk mengakhiri perang.

 

 

 

• KOMODITAS :Harga minyak AS naik lebih dari USD 1 pada Selasa setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran, dengan ancaman aksi lebih keras jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali.

 

 

West Texas Intermediate (WTI) naik USD 1,12 (+1,1%) ke USD 113,52 per barel pada 22:45 GMT. Trump menyatakan akan memerintahkan serangan besar terhadap pembangkit listrik sipil dan jembatan di Iran pada Selasa malam jika Teheran tidak mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lima minggu. Pernyataan ini disampaikan menjelang tenggat Selasa pukul 20.00 EDT.

 

 

AS menuntut Iran menghentikan pengembangan senjata nuklir dan membuka kembali Strait of Hormuz. Trump juga memperingatkan bahwa seluruh negara dapat “dilumpuhkan dalam satu malam.

 

 

 

FIXED INCOME NEWS 

 

Astra Sedaya (ASDF) Terbitkan Obligasi Rp1,03 Triliun, Bunga hingga 5,95%

PT Astra Sedaya Finance Tbk (ASDF) menerbitkan Obligasi Berkelanjutan VII Astra Sedaya Finance Tahap III Tahun 2026 senilai Rp1,03 triliun. Penerbitan ini menjadi bagian Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan VII dengan target dana yang dihimpun Rp12 triliun. Obligasi ini dijamin secara kesanggupan penuh (full commitment) dalam dua seri. Seri A sebesar Rp810,675 miliar dengan bunga tetap 5,10% per tahun dengan berjangka waktu 370 hari. Seri B sebesar Rp220,26 miliar dengan bunga 5,95% berjangka waktu 36 bulan. (wartaekonomi.co.id)

 

 

Obligasi Batu Bara Asia Makin Menguntungkan di Tengah Perang Iran

Krisis energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya telah mendorong Asia kembali ke batu bara; sebuah perubahan haluan yang menghasilkan keuntungan tak terduga bagi para penambang bahan bakar fosil paling kotor dan para pemegang obligasi mereka. Obligasi para penambang batu bara dan entitas terkait di Asia Pasifik, tujuan sekitar 80% minyak mentah yang melewati Selat Hormuz, telah menghasilkan pengembalian (return) 0,3% sejak perang dimulai, menurut harga yang dikumpulkan oleh Bloomberg. (bloombergtechnoz.com)

 

 

Ketidakpastian Global, Pasar Obligasi Tertekan dan Asing Jual Rp 21,8 Triliu

Kinerja pasar obligasi domestik mengalami tekanan pada Maret 2026 seiring meningkatnya ketidakpastian global yang memicu kenaikan persepsi risiko investor. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup pada level 433,16. “Ini tercatat terkoreksi sebesar 2,03% secara bulanan (month to month) atau 1,74% sejak awal tahun,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi dalam rilis, Senin (6/4/2026). Angka tersebut berbanding terbalik dengan kerugian 0,4% pada utang perusahaan sejenis di luar kawasan dan penurunan 2,4% pada indeks obligasi korporasi global yang lebih luas, menurut data tersebut. Kinerja pasar obligasi domestik mengalami tekanan pada Maret 2026 seiring meningkatnya ketidakpastian global yang memicu kenaikan persepsi risiko investor. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup pada level 433,16. “Ini tercatat terkoreksi sebesar 2,03% secara bulanan (month to month) atau 1,74% sejak awal tahun,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi dalam rilis, Senin (6/4/2026) Sejalan dengan kondisi tersebut, Hasan menilai investor asing (non-resident) membukukan aksi jual bersih (net sell) di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 21,80 triliun secara bulanan. Menurutnya, aksi ini mencerminkan sikap hati-hati investor asing di tengah dinamika global yang masih bergejolak. (kontan.co.id)

 

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.