XA Update Report | PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) – 2Q26 : Tekanan pada Loan Yield dan Repricing Deposito Memoderasi NIM, Namun Pendapatan Non-Bunga yang Kuat Menjadi Penopang Kinerja

 

 

By Leonardo Lijuwardi

28-July-2026

 

 

BMRI mencatatkan kinerja yang tetap solid di 1H26 dengan laba bersih sebesar IDR 30.41T (+24.4% YoY, Quarterly Basis: +33.5% YoY, -2.3% QoQ, 2Q26: IDR 15.03T), ditopang oleh pertumbuhan PPOP yang kuat seiring pendapatan operasional yang tetap resilien dan solid. Meskipun Net Interest Income (NII) masih tumbuh, laju pertumbuhannya mulai termoderasi pada 2Q26 akibat yield kredit yang mengalami kontraksi sejalan dengan proses repricing portofolio kreditterutama pada segmen korporasi serta mikro & payroll—di tengah perlambatan permintaan kredit. Di sisi lain, kenaikan suku bunga yang lebih tinggi dari ekspektasi (surprise rate hike) turut meningkatkan tekanan pada biaya funding melalui repricing deposito berjangka, sehingga Net Interest Margin (NIM) YTD terkoreksi menjadi 4.56% (1Q26: 4.70%), meskipun masih berada dalam rentang panduan manajemen yang telah direvisi. Pendapatan non-bunga menjadi penyangga ditengah kontraksinya NII, dimana mengalami pertumbuhan +14.9% YoY menjadi IDR 22.78T di 1H26 (Quarterly basis: +25.1% YoY, +2.2% QoQ, 2Q26: IDR 11.51T). Efisiensi operasional tetap terjaga dengan pertumbuhan biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan, sehingga CIR membaik menjadi 37.9% (1Q26: 38.2%, 1H25: 44.2%), mencerminkan disiplin biaya yang konsisten. Beban provisi tetap terkendali dengan CoC sebesar 0.61%, masih berada dalam kisaran panduan manajemen 0.6%–0.8 dengan kualitas asset yang terjaga baik. Performa Operasional yang Masih Solid Masih Menjaga laba BMRI di Tengah tekanan margin bunga yang berlangsung.

 

 

 

🔹 Revisi Guidance Terbaru di Poin NIM untuk FY26

 

Revisi Guidance pada Poin NIM. Manajemen kembali merevisi guidance NIM FY26 menjadi 4.3%–4.5%, dari sebelumnya 4.5%–4.7%, mencerminkan ekspektasi berlanjutnya tekanan pada yield kredit akibat perlambatan ekonomi, persaingan yang semakin ketat, serta tingginya biaya dana (CoF) yang dipengaruhi repricing deposito dan kondisi likuiditas. Selain dampak dekonsolidasi BRIS, revisi tersebut juga mempertimbangkan tekanan margin yang berasal dari repricing aset yang lebih cepat dibandingkan penyesuaian biaya funding. Sementara itu, target pertumbuhan kredit tetap dipertahankan pada 7%–9% dan CoC sebesar 0.6%–0.8%, dengan manajemen tetap menjaga NPL coverage di atas 230% sebagai buffer yang nyaman menghadapi potensi normalisasi kualitas aset.

 

 

Mempertahankan Estimasi Net Profit. Kami tetap mempertahankan estimasi FY26 kami meskipun manajemen merevisi guidance NIM. Per 1H26, BMRI telah merealisasikan 51.6% dari estimasi laba FY26 kami (NHKSI Est.: IDR 58.9T). Meskipun pertumbuhan laba 1H26 didukung oleh low base pada 2Q25, kami tetap meyakini tekanan terhadap NIM akan diimbangi oleh pertumbuhan kredit yang solid, kualitas aset yang terjaga, efisiensi operasional, serta kuatnya pertumbuhan pendapatan non-bunga.

 

 

 

🔹Sisi Lending: Pertumbuhan Kredit Mulai Termoderasi Moderat Secara Kuartalan

 

Penyaluran kredit BMRI masih bertumbuh pada 2Q26 namun mulai termoderasi, dengan total kredit mencapai IDR 1.677T (+19.2% YoY; +3.92% QoQ), didorong oleh pertumbuhan berkelanjutan pada segmen core BMRI yakni business banking, khususnya korporasi dan komersial. Pertumbuhan kredit tetap sejalan dengan strategi perseroan yang memprioritaskan segmen wholesale dan ekosistem bisnis, sementara permintaan dari segmen retail masih relatif terbatas di tengah pelemahan daya beli.

 

 

Kredit Korporasi Tetap Menjadi Penggerak Utama. Kredit korporasi tumbuh +4.99% QoQ dan +33.6% YoY menjadi IDR 840T, sementara kredit komersial meningkat +5.55% QoQ dan +15.1% YoY menjadi IDR 343T, mencerminkan masih terdapat kekuatan permintaan pembiayaan dari segmen business.

 

 

Pertumbuhan Retail Masih Terbatas Sejalan dengan Perlemahan Daya Beli. Kredit mikro & payroll tumbuh moderat +0.15% QoQ dan +1.97% YoY menjadi IDR 198T, sedangkan kredit konsumer meningkat +3.40% QoQ dan +2.48% YoY menjadi IDR 85T. Pertumbuhan yang masih terbatas di segmen mencerminkan strategi BMRI yang tetap selektif dalam penyaluran kredit retail di tengah kondisi ekonomi yang lebih menantang.

 

 

 

🔹 Sisi Funding: Repricing Deposit Akibat Surprise Rate Hike – Implikasi ke Kenaikan Cost of Fund (CoF)

 

Likuiditas Kembali MengetatTransisi Komposisi ke Deposito Berjangka. Likuiditas industri yang masih ketat, sejalan dengan dampak kenaikan suku bunga (rate hike) Bank Indonesia, mendorong perubahan komposisi pendanaan BMRI pada 2Q26. CASA hanya tumbuh +0.41% QoQ (+5.69% YoY) menjadi IDR 1,220T, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan time deposit yang meningkat +5.42% QoQ (+54.4% YoY) menjadi IDR 543T. Akibatnya, CASA ratio turun menjadi 69.2% dari 70.2% pada 1Q26, mencerminkan pergeseran struktur likuiditas menuju pendanaan berbiaya lebih tinggi di tengah kompetisi penghimpunan dana yang masih tinggi.

 

 

Repricing Deposito Mendorong Kenaikan Cost of Fund dan Menekan NIM. Meningkatnya porsi time deposit, disertai repricing deposito pasca kenaikan suku bunga, mendorong bank-only CoF deposit meningkat menjadi 2.04% dari 1.97% pada 1Q26. Di sisi lain, biaya dana pada dana murah tetap terjaga, dengan CoF giro stabil di 1.83% dan CoF tabungan membaik menjadi 0.30%, mencerminkan kekuatan franchise CASA BMRI. Meski demikian, kenaikan biaya pendanaan dari deposito tetap mendominasi, sehingga peningkatan CoF menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kontraksi NIM menjadi 4.56% pada 1H26, di samping tekanan pada loan yield akibat repricing kredit dan melemahnya permintaan pembiayaan.

 

 

 

🔹 Kualitas Aset BMRI: Aset Masih Tetap Resilien – Berkualitas Sehat dan Stabil

 

Kualitas Aset Resilien. Kualitas aset BMRI pada 2Q26 tetap terjaga dengan baik. LAR konsolidasi stabil di 5.83%, sementara gross NPL berada di sekitar 1.01%, mencerminkan kualitas portofolio yang tetap sehat di tengah perlambatan ekonomi. Perbaikan kualitas aset didukung oleh penurunan eksposur restrukturisasi serta underwriting yang semakin disiplin. Manajemen tetap mempertahankan pendekatan konservatif terhadap risiko kredit dengan NPL coverage di atas 230%, sementara CoC sebesar 0.61% masih berada dalam rentang panduan 0.6%–0.8%, sehingga memberikan ruang yang memadai untuk menjaga kualitas laba di tengah potensi normalisasi kredit bermasalah, khususnya pada segmen retail.

 

 

 

🔹 Rekomendasi ”Buy” dengan Target Harga di Level IDR 5,300 (Potensi Upside +27.4%)

 

NHKSI Research memberikan rekomendasi “Buy” untuk BMRI dengan target harga yang lebih rendah di level IDR 5,300, yang mencerminkan Forward 26F P/BV sebesar 1.4x (-1 STD Average Last 3 Years). Katalis positif yang bisa menjustifikasi BMRI adalah pertumbuhan penyaluran loan dan angka profitabilitas yang lebih seperti NIM dsb. yang lebih ekspansif. Terlepas NIM akan terkontraksi sejalan dengan pelemahan loan yield, tingginya CoF, performa operasional terutama didukung dari pertumbuhan bisnis dari non bunga diharapkan lebih mendongkrak performa BMRI sebagai penyangga ditengah tekanan industri. Adapun yang menjadi risiko untuk rekomendasi ini adalah kondisi situasi makro dan politik yang kurang pasti dan stabil, persaingan bisnis di industri bank yang semakin kompetitif, ekspetasi pertumbuhan penyaluran kredit dan NIM yang terkontraksi kurang sesuai harapan.

 

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.

 

 

 

 

NH Korindo Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubuni CS kami via email CSO@nhsec.co.id