XA Update Report | PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) – 3Q26: Back to Business – Pemulihan Loan Yield dan Akselerasi Kredit Menopang Perbaikan NIM di Tengah Tekanan Margin Industri
by Leonardo Lijuwardi
29 October 2026
BBCA kembali mencatatkan kinerja yang resilien pada 9M26, dengan momentum pertumbuhan laba yang mulai mengalami akselerasi seiring pemulihan loan yield dan kembali hidupnya aktivitas bisnis. Laba bersih BBCA tumbuh +4.2% YoY menjadi IDR 45.2T (9M25: IDR 43.4T | Quarterly Basis: +9.0% YoY & +5.6% QoQ; 3Q26: IDR 15.7T | 75.9% NHKSI Est. FY26), didukung oleh Pre-Provision Operating Profit (PPOP) sebesar IDR 58.5T (+2.5% YoY; Quarterly Basis: +5.1% QoQ; 3Q26: IDR 20.1T). Menariknya, Net Interest Income (NII) mulai menunjukkan akselerasi pertumbuhan menjadi IDR 64.9T (+1.2% YoY) pada 9M26, dengan NII 3Q26 meningkat +5.2% QoQ menjadi IDR 22.5T, ditopang oleh pertumbuhan kredit serta pemulihan loan yield, khususnya pada segmen Corporate. Hal yang menarik perhatian adalah perbaikan Bank Only NIM BBCA menjadi 5.6% pada 3Q26 (2Q26: 5.3%), atau meningkat +30bps QoQ, berlawanan dengan tren kontraksi NIM yang masih dialami corporate banking peers seperti BMRI dan BBNI. Pemulihan tersebut sejalandengan repricing kredit Corporate (IDR) yang mendorong loan yield meningkat +18bps QoQ, sementara Cost of Fund (CoF) yang terjaga relatif stabil. Di sisi lain, Non-Interest Income tetap resilien dengan pertumbuhan +7.6% YoY menjadi IDR 20.1T, sehingga turutmenopang profitabilitas. Efisiensi operasional juga tetap terjaga, tercermin dari Cost-to-Income Ratio (CIR) sebesar 29.7% pada 9M26 (9M25: 29.2%), dengan CIR secara kuartalan membaik menjadi 31.1% pada 3Q26 (2Q26: 31.7%).
🔹 Lending Side: 9M26 – Back to Business, Akselerasi Kredit Korporasi dan Pemulihan Loan Yield
• Akselerasi Pertumbuhan Kredit Business Banking Semakin Solid. Pertumbuhan kredit BBCA menunjukkan akselerasi yang semakin kuat sepanjang 9M26, dengan total outstanding kredit mencapai IDR 1,063.1T (+12.6% YoY; Quarterly Basis: +2.7% QoQ), meningkat dibandingkanpertumbuhan +8.0% YoY pada 2Q26. Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari segmen Corporate yang tumbuh +20.9% YoY dan +2.9% QoQ menjadi IDR 528.1T, diikuti SME yang mengalami akselerasi signifikan sebesar +15.4% YoY dan +10.8% QoQ menjadi IDR 149.2T. Sementara itu, kredit Commercial tumbuh +7.8% YoY menjadi IDR 154.1T, meskipun relatif stagnan secara kuartalan (+0.1% QoQ). Akselerasi pembiayaan bisnis tersebut mencerminkan aktivitas penyaluran kredit yang mulai kembali bergerak, terutama pada kredit investasi dan modal kerja korporasi.
.
• Segmen Consumer Masih Menghadapi Tantangan. Kredit Consumer masih menunjukkan kontraksi sebesar -2.2% YoY dan -1.1% QoQ menjadi IDR 218.7T di 9M26, mencerminkan daya beli dan konsumsi domestik yang belum sepenuhnya pulih. Tekanan terutama berasal dari kreditkendaraan bermotor yang terkontraksi -20.6% YoY dan -5.1% QoQ, sementara kredit pemilikan rumah masih mampu tumbuh +3.6% YoY meskipun mengalami penurunan tipis -0.4% QoQ.
.
• Outlook 4Q26: Loan Repricing Mulai Mendorong Pemulihan NIM di 2H26. Memasuki kuartal terakhir 2026, kami melihat akselerasi penyaluran kredit Corporate dan SME menjadi katalis utama bagi pertumbuhan pendapatan bunga. Hal yang menarik adalah perbaikan loan yield pada kredit Corporate Rupiah sebesar +18bps QoQ di 3Q26, sementara CoF relatif stabil, sehingga mendorong pemulihan NIM. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa strategi repricing kredit BBCA mulai memberikan hasil positif, berbeda dengan tekanan margin yang masih dialami BMRI dan BBNI akibat implikasi kenaikan CoF. Sejalan dengan pertumbuhan kredit yang lebih kuat serta pipeline pembiayaan yang masih solid, manajemen menaikkan guidance loan growth FY26 menjadi 10–11% dari sebelumnya 8–10%, yang kami nilai masih cukup realistis untuk dicapaimengingat realisasi pertumbuhan kredit telah mencapai +12.6% YoY pada 9M26.
🔹 Funding Side: Franchise Pendanaan Tetap Solid di Tengah Kenaikan Cost of Fund
• Pertumbuhan DPK Tetap Baik – CASA Ratio Kembali Meningkat. Dari sisi pendanaan, fundamental likuiditas BBCA tetap menunjukkan kekuatan resiliensinya, terutama melalui franchise CASA yang menjadi keunggulan kompetitif perseroan. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh +8.0% YoY dan +1.3% QoQ menjadi IDR 1,301.3T pada 9M26, dengan CASA meningkat +10.4% YoY dan +1.9% QoQ menjadi IDR 1,103.2T. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh Current Account yang meningkat +14.9% YoY dan +4.2% QoQ menjadi IDR 463.1T, sementaraSavings Account tumbuh +7.4% YoY menjadi IDR 640.1T. Di sisi lain, Time Deposits mengalami penurunan -3.7% YoY dan -1.8% QoQ menjadi IDR 198.1T. Adapun CASA Ratio BBCA kembali meningkat menjadi 84.8% pada 3Q26 (2Q26: 84.3%), menunjukkan bahwa kualitasfranchise pendanaan BBCA tetap terjaga di tengah persaingan likuiditas industri perbankan.
.
• Pemulihan Loan Yield di Tengah CoF yang Relatif Stabil. Berbeda dengan 1H26 ketika kenaikan CoF serta lemahnya loan yield menjadi faktor utama kompresi pada NIM, pada 3Q26 BBCA mulai menunjukkan perbaikan NIM seiring keberhasilan repricing kredit, sementara CoF relatifstabil. Kondisi ini menjadi pembeda terhadap corporate banking peers seperti BMRI dan BBNI yang masih menghadapi tekanan NIM. Dengan CASA Ratio sebesar 84.8% serta Loan-to-Deposit Ratio (LDR) Bank Only yang masih relatif longgar pada 79.8%, kami menilai BBCA memiliki fleksibilitas pendanaan yang lebih baik untuk mendukung ekspansi kredit tanpa harus meningkatkan biaya dana secara agresif.
.
.
🔹 Kualitas Aset BBCA yang Solid Terlepas Kondisi Menantang
• Kualitas aset BBCA menunjukkan perbaikan lebih lanjut pada 3Q26. Gross Non-Performing Loan (NPL) Ratio menurun menjadi 1.8% pada 3Q26 (3Q25: 2.1%; 2Q26: 1.9%), sementara Loan at Risk (LAR) Ratio kembali membaik menjadi 4.6% (3Q25: 5.5%; 2Q26: 4.9%). Adapun NPL Coverage dan LAR Coverage Bank Only meningkat menjadi masing-masing 167.5% dan 71.2% pada 3Q26 (2Q26: 165.5% dan 68.7%). Dari sisi Cost of Credit (CoC), gross CoC tetap stabil di level 0.4% pada 3Q26 (2Q26: 0.4%), sementara CoC setelah loan recovery berada di level 0.2%. Penurunan beban provisi bersih sebesar -25.6% YoY menjadi IDR 2.5T pada 9M26 turut menopang pertumbuhan laba bersih. Secara keseluruhan, kualitas aset yang sehat memberikan ruang bagi BBCA untuk melanjutkan ekspansi kredit tanpa peningkatan risiko kredit yang signifikan.
🔹 FY26 Outlook: Back to Business – Pemulihan Loan Yield Menjadi Katalis & Estimasi Laba Tetap Dipertahankan
• Memasuki 4Q26, kami memperkirakan momentum pertumbuhan kredit BBCA masih akan tetap solid, didukung oleh ekspansi pembiayaan korporasi dan SME serta pemulihan loan yield yang mulai terefleksi pada kinerja NIM 3Q26. Berbeda dengan semester pertama ketika pertumbuhanlaba lebih banyak ditopang oleh pendapatan non-bunga, pemulihan NII pada 3Q26 menunjukkan bahwa mesin utama profitabilitas BBCA mulai kembali bekerja. Dengan realisasi laba bersih 9M26 yang telah mencapai 75.7% dari estimasi kami, NHKSI Research mempertahankanestimasi laba bersih FY26 BBCA sebesar IDR 59.7T (Unchanged). Kami menilai pemulihan loan yield, stabilitas CoF, serta kualitas franchise CASA memberikan fondasi yang lebih baik bagi keberlanjutan profitabilitas BBCA, meskipun risiko perlambatan konsumsi domestik dan tekanan likuiditas industri tetap perlu dicermati.
🔹 “Buy” Recommendation dengan Target Price di IDR 7,700 (Upside Potential of +46.0%)
• NHKSI Research mempertahankan rekomendasi “Buy” namun dengan menurunkan Target Price menjadi IDR 7,700/lembar, yang mengimplikasikan Forward PBV 26F sebesar 3.1x (-1 STD Average last 3 years). Berbicara dari kacamata fundamental, BBCA masihmenunjukkan resiliensi yang kuat melalui franchise CASA terbaik di industri serta per 3Q26 ini sudah mulai kembali pada jalur NIM yang lebih ekspansif. Selain itu kualitas aset yang tetap sehat, disiplin operasional yang konsisten, serta mulai pulihnya momentum pertumbuhan akselerasi Business Banking khususnya di 2H26 mendatang diharapkan bisa menunjukkan pemulihan NIM dan kinerja. Kami menurunkan target price pada BBCA sejalan dengan mitigasi risiko reklasifikasi indeks IHSG yang berpeluang ke ancamanstandalone market, sekaligus memitigasi adanya selling pressure yang terjadi di krisis pasar saat ini. Adapun yang menjadi katalis negatif antara lain kondisi makroekonomi dan politik yang tidak stabil, persaingan industri yang semakin intens serta NIM yang terkontraksi,sekaligus perlambatan pada laju pertumbuhan kredit.
Unduh Laporan Lengkapnya DISINI
NH Korindo Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubuni CS kami via email CSO@nhsec.co.id