Today’s Outlook :

 

• PASAR AS : Wall Street ditutup melemah tajam pada Rabu setelah Presiden Donald Trump meningkatkan retorika terhadap Iran dan menegaskan bahwa AS akan kembali menyerang Iran. Meski data inflasi AS relatif sesuai ekspektasi, meningkatnya ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran lebih mendominasi sentimen pasar.

 

 

Indeks S&P 500 turun 1,6% ke 7.267,65, NASDAQ melemah 2% ke 25.169,50, dan Dow Jones anjlok 1,9% ke 49.919,09. Kekhawatiran pasar meningkat setelah AS melancarkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas jatuhnya helikopter militer AS di Selat Hormuz, yang mengurangi harapan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah.

 

 

Dari sisi ekonomi, inflasi konsumen AS (CPI) bulan Mei naik 0,5% secara bulanan (MoM) dan 4,2% secara tahunan (YoY), terutama didorong lonjakan harga energi dan bensin akibat konflik Timur Tengah. Sementara itu, inflasi inti (core CPI) naik 0,2% MoM dan 2,9% YoY, sedikit lebih baik dari perkiraan pasar.

 

 

Sektor teknologi, khususnya saham semikonduktor, kembali mengalami tekanan. Indeks Philadelphia Semiconductor (SOX) turun 3,6%, dengan saham seperti Qualcomm, Arm, dan Marvell mencatat penurunan signifikan. Sentimen sektor AI juga melemah setelah muncul kekhawatiran terhadap keberlanjutan investasi besar-besaran untuk pembangunan pusat data AI, terutama setelah laporan kinerja Broadcom yang mengecewakan dan rencana penggalangan dana Google. Selain itu, Super Micro Computer anjlok hampir 28% setelah mengumumkan rencana penggalangan dana sebesar USD 7 miliar untuk mendukung pembelian perangkat keras baru.

 

 

 

• PASAR EROPA : Bursa saham Eropa ditutup bervariasi pada Rabu setelah data inflasi AS yang sesuai ekspektasi meredakan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat dan membantu menjaga sentimen risiko.

 

 

Indeks STOXX 600 turun tipis 0,1% setelah sempat menyentuh level terendah sejak 20 Mei. DAX Jerman turun 0,9%, CAC 40 Prancis melemah 0,5%, dan FTSE MIB Italia turun 0,5%. Sementara itu, FTSE 100 Inggris menjadi pengecualian dengan naik 0,3%.

 

 

Fokus investor kini beralih pada keputusan kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis, di mana pembuat kebijakan berpotensi memberikan sinyal sikap yang lebih hawkish seiring kenaikan harga energi yang berisiko kembali meningkatkan tekanan inflasi.

 

 

 

• PASAR ASIA : Bursa saham Asia melemah pada Rabu akibat meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk-off) setelah eskalasi kembali konflik militer antara AS dan Iran. Pemulihan saham teknologi juga gagal bertahan, sehingga menekan sektor semikonduktor.

 

 

KOSPI Korea Selatan menjadi indeks dengan pelemahan terbesar di Asia dengan turun 4%, terdampak aksi jual kembali pada saham chip setelah mengalami tekanan besar pada awal pekan. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan tren investasi AI juga turut membebani sektor tersebut.

 

 

Di Jepang, Nikkei 225 turun 1,1% dan TOPIX melemah 0,7%. Inflasi produsen (PPI) Jepang bulan Mei tercatat lebih tinggi dari perkiraan akibat kenaikan biaya bahan bakar karena konflik Iran, sehingga meningkatkan spekulasi bahwa Bank of Japan dapat kembali menaikkan suku bunga.

 

 

Sementara itu, CSI 300 China turun 1% dan Shanghai Composite melemah 0,6%. Data inflasi konsumen (CPI) China yang lebih rendah dari perkiraan menunjukkan lemahnya konsumsi domestik, sementara inflasi produsen (PPI) melonjak ke level tertinggi dalam hampir empat tahun akibat kenaikan harga minyak dan komoditas lainnya yang dipicu gangguan pasokan dari Timur Tengah.

 

 

 

• KOMODITAS :Harga minyak kembali naik dalam perdagangan Asia pada Kamis setelah AS melancarkan serangan baru terhadap Iran dan Teheran merespons dengan mengumumkan penghentian seluruh lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz. Brent naik 2,1% menjadi USD 95,02 per barel, sementara WTI melonjak 2,6% menjadi USD 92,33 per barel, melanjutkan kenaikan hampir 2% pada sesi sebelumnya.

 

 

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS akan menyerang Iran dengan sangat keras apabila negosiasi gagal. Setelah serangan terbaru AS, militer Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup bagi seluruh kapal, termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial, serta memperingatkan bahwa kapal yang mencoba melintasi jalur tersebut akan menjadi sasaran.

 

 

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia yang menyalurkan sebagian besar ekspor minyak mentah melalui jalur laut. Ketegangan meningkat setelah AS sebelumnya menyerang target Iran sebagai balasan atas jatuhnya helikopter Apache militer AS di dekat Selat Hormuz.

 

 

Di sisi lain, Trump mengungkapkan bahwa militer AS telah membantu mengawal pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, dengan lebih dari 100 juta barel minyak telah melewati jalur tersebut di bawah perlindungan AS, menunjukkan pentingnya menjaga jalur perdagangan energi tersebut tetap terbuka.

 

 

 

• INDONESIA : IHSG per perdagangan Rabu kemarin ditutup masih menguat ke level 5,902.38 dimana menguat sejauh +2.71% didukung oleh oleh penguatan saham konglomerasi dan big caps konvensional di IHSG, khususnya BBCA yang menguat hampir 10%.

 

 

Pemerintah Indonesia nampaknya mulai mencoba untuk mendengarkan masukan dari pasar modal, dimana langkah pertemuan rapat antara Wakil Ketua DPR RI, COO Danantara dan beberapa CEO Bank Himbara yang menghasilkan keputusan rencana buyback terhadap saham-saham BUMN berfundamental cukup solid seperti perbankan memberikan ketenangan terhadap pasar. Saat ini, realisasi dari buyback tersebut cukup ditunggu.

 

 

Hari ini jika indeks tidak berhasil breakout level 6000 ada peluang untuk membentuk base baru dan terkoreksi sembari menyelaraskan dengan serangan masif US terhadap Iran.

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.