Today’s Outlook :
• PASAR AS : Wall Street ditutup menguat pada Kamis didorong perkembangan positif konflik Timur Tengah dan data inflasi AS. Axios melaporkan AS dan Iran telah mencapai memorandum perdamaian, meski masih menunggu persetujuan akhir Presiden Donald Trump. Sentimen pasar sebelumnya sempat bergejolak akibat data inflasi dan konflik AS-Iran yang masih berlangsung.
S&P 500 naik 0,6% ke 7.563,33, NASDAQ menguat 0,9% ke 26.917,47, dan Dow Jones naik tipis 0,1% ke rekor baru 50.669,77. Ketiga indeks utama kembali mencetak rekor penutupan tertinggi.
Fokus pasar juga tertuju pada data inflasi pilihan The Fed. Core PCE AS naik 3,3% YoY pada April, tertinggi sejak November 2023 dan masih jauh di atas target The Fed 2%. Headline PCE naik 3,8% YoY, tertinggi sejak Mei 2023. Namun, secara bulanan core PCE hanya naik 0,2%, lebih rendah dari ekspektasi 0,3%.
Lonjakan harga minyak akibat perang Iran sebelumnya turut mendorong inflasi AS dan memicu ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan The Fed. Harga bensin di AS telah melonjak lebih dari 50% sejak konflik dimulai akhir Februari. Yield obligasi AS juga naik tajam akibat aksi jual obligasi pemerintah. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS kuartal I-2026 direvisi turun menjadi 1,6% dari estimasi sebelumnya 2%.
Dari Timur Tengah, memorandum AS-Iran disebut akan mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, dimulainya negosiasi program nuklir Iran, pembukaan penuh jalur pelayaran Selat Hormuz, serta penghentian blokade laut AS terhadap Iran. Iran juga disebut berkomitmen tidak mengembangkan senjata nuklir.
• PASAR EROPA : Bursa saham Eropa dibuka melemah setelah eskalasi konflik di kawasan Teluk yang mengancam gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran serta peluang tercapainya kesepakatan damai. Indeks Stoxx 600 turun 0,5%, DAX Jerman melemah 0,3%, CAC 40 Prancis turun 0,2%, dan FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,8%.
Wall Street Journal melaporkan militer AS kembali melancarkan serangan ke Iran pada Rabu setelah Iran menyerang kapal dagang di Selat Hormuz menggunakan drone. Meski upaya diplomatik masih berlangsung, belum ada penyelesaian cepat untuk konflik yang telah berlangsung hampir tiga bulan tersebut.
Pasukan AS disebut menembak jatuh drone dan menyerang pusat kendali drone di dekat pelabuhan Bandar Abbas, Iran selatan. Sementara itu, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang pangkalan AS dan menegaskan akan membalas setiap serangan lanjutan.
• PASAR ASIA :Bursa saham Asia melemah pada Kamis setelah serangan militer baru AS ke Iran meredam optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan damai dalam waktu dekat. Investor juga cenderung berhati-hati menjelang rilis data inflasi penting AS.
Sentimen pasar memburuk setelah laporan bahwa AS kembali melancarkan serangan ke Iran pada Rabu, menjadi gelombang serangan kedua pekan ini. Serangan tersebut terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump membantah laporan bahwa Iran dan Oman akan bersama-sama mengawasi jalur pelayaran Selat Hormuz dalam proposal perdamaian.
Nikkei 225 Jepang turun 0,1% ke 64.921,1 setelah sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi baru. Indeks TOPIX juga melemah 0,2%. KOSPI Korea Selatan turun 1,1% ke 8.139,21 setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggi. Saham chipmaker dan AI terkoreksi usai reli kuat dalam beberapa waktu terakhir. Hang Seng Hong Kong anjlok hampir 2% akibat tekanan saham teknologi. Shanghai Composite China turun 0,4%, sementara CSI 300 melemah 1,1%.
• KOMODITAS :Harga Brent crude oil Juli, yang berakhir pada Jumat, ditutup turun 58 sen atau 0,6% ke US$93,71 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik tipis 22 sen atau 0,3% ke US$88,90 per barel. Harga minyak bergerak volatil dalam beberapa sesi terakhir akibat sinyal yang saling bertentangan terkait peluang berakhirnya konflik Iran yang telah berlangsung tiga bulan serta potensi pembukaan kembali Selat Hormuz. Aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut juga masih jauh di bawah level sebelum konflik.
• INDONESIA :IHSG turun 76,16 poin atau 1,23% ke posisi 6.130 (26/5/2026). Investor asing mencatat net sell atau jual bersih Rp 1,60 triliun di seluruh pasar saat IHSG turun.Hal ini didorong oleh sentimen wait and see terkait libur panjang Idul Adha selama 2 hari pada Rabu dan Kamis. Selain itu, pelemahan rupiah juga menjadi sentimen yang turut menyeret turunnya IHSG.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

