Today’s Outlook :
• PASAR AS : Wall Street ditutup mayoritas melemah pada Rabu setelah The Fed sesuai ekspektasi mempertahankan suku bunga. Sentimen juga tertekan oleh meningkatnya ketegangan diplomatik antara AS dan Iran. Selain The Fed dan konflik Timur Tengah, investor juga menantikan laporan kuartalan dari sedikitnya empat anggota “Magnificent 7” setelah pasar tutup. Indeks S&P 500 dan NASDAQ hampir tidak berubah, masing-masing di 7.136,52 dan 24.673,24. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 0,6% ke 48.861,68.
The Fed kembali menahan suku bunga di 3,50%–3,75% dalam keputusan yang diperkirakan jadi langkah terakhir di era Jerome Powell. Keputusan ini mencatat jumlah dissent (penolakan internal) tertinggi sejak 1992, dengan satu pihak ingin pemangkasan 25 bps dan tiga pihak tidak setuju dengan sinyal pelonggaran kebijakan. Inflasi kembali meningkat akibat harga minyak yang naik karena perang Iran, sementara pasar tenaga kerja AS masih dalam kondisi “low hire, low fire”. Powell akan mengakhiri masa jabatannya pada Mei dan kemungkinan digantikan Kevin Warsh, calon pilihan Donald Trump.
Di Timur Tengah, laporan Wall Street Journal menyebut Trump meminta persiapan blokade laut jangka panjang terhadap pelabuhan Iran. Negosiasi AS–Iran masih buntu, sementara Iran menutup Selat Hormuz yang membuat harga minyak melonjak. Iran juga menolak proposal tiga tahap AS, sementara AS tetap menuntut penghentian pengayaan uranium hingga 20 tahun.
• PASAR EROPA : Bursa saham Eropa melemah karena investor menimbang laporan keuangan perusahaan, perkembangan konflik Timur Tengah, dan keputusan suku bunga global. Stoxx 600 turun 0,6%, DAX Jerman turun 0,3%, CAC 40 Prancis turun 0,4%, dan FTSE 100 Inggris turun 1,2%. Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena berpotensi mendorong inflasi dan memengaruhi kebijakan bank sentral.
• PASAR ASIA : Bursa Asia bergerak campuran di tengah ketegangan AS–Iran dan sikap hati-hati menjelang keputusan The Fed, serta data inflasi Australia yang kuat. Sentimen juga tertekan laporan bahwa OpenAI meleset dari target pengguna dan pendapatan.
KOSPI Korea Selatan naik 0,2%, Jepang libur. Di China dan Hong Kong, saham campuran: Hua Hong Semiconductor turun lebih dari 7% karena isu pembatasan AS, tetapi saham teknologi lain masih didukung optimisme AI murah dari DeepSeek. Shanghai Composite naik 0,4% dan CSI 300 naik 0,7%.
• KOMODITAS: Harga minyak melonjak tajam setelah laporan blokade laut AS dan penolakan proposal damai Iran. Selat Hormuz masih tertutup, memperketat pasokan global. Brent naik 6,2% ke $118,11/barel, WTI naik 6,8% ke $106,74/barel.
Goldman Sachs menilai keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari OPEC bisa meningkatkan risiko kenaikan pasokan minyak dalam jangka menengah. UEA keluar dari OPEC+ per 1 Mei, yang melemahkan kontrol kelompok tersebut atas pasokan global, namun memberi ruang bagi UEA untuk meningkatkan produksi jika jalur ekspor kembali terbuka. Produksi UEA diperkirakan bisa naik hingga sekitar 4,5 juta bpd pada awal 2026.
• INDONESIA : IHSG menguat +0.41% di zona hijau memantul berada di angka 7141, dimana benteng support terakhir adalah psikologis 7000 hingga 6950. Pasar Indonesia saat ini sudah mulai kebal dengan sentimen geopolitik US-Iran, dan saat ini pemerintah sudah mulai terlihat untuk mengatasi permasalahan yang timbul akibat dampak sentimen geopolitik seperti menyusun subsidi plastik dsb. Tekanan jual dari Big Banks masih cukup berasa di Indonesia. Tekanan seller dari BREN dan DSSA masih menjadi pemberat untuk IHSG pasca eksklusi BREN dan DSSA dari LQ45 dan IDX30 serta IDX 80, dimana pasca perilisan HCL, sisi positifnya adalah penerapan adopsi yang dilakukan IDX juga mengikuti standar MSCI.
Tetap berjaga – jaga dari selling pressure big banks, walaupun secara valuasi atraktif, namun tekanan jual masih sangat besar mengiringi kontraksi makro Indonesia. Komoditas masih cukup atraktif khususnya harga komoditas nikel yang akan menguji angka psikologis USD 20,000.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

