Today’s Outlook :
• PASAR AS : Wall Street ditutup melemah pada Selasa, menghapus kenaikan di awal sesi, setelah laporan media memicu kekhawatiran gagalnya lanjutan perundingan damai AS–Iran. Fokus pasar juga tertuju pada sidang calon Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang menyerukan “perubahan besar” dalam kebijakan bank sentral namun menegaskan akan menjaga independensinya. S&P 500 turun 0,6% ke 7.064,05, Nasdaq melemah 0,6% ke 24.259,96, dan Dow Jones turun 0,6% ke 49.149,60.
Warsh dalam sidang Senat menegaskan The Fed harus tetap independen, sekaligus mendorong reformasi kebijakan dan menyebut perlunya kerangka inflasi baru. Ia juga menyinggung dampak “kesalahan kebijakan” 2021–2022.
Di sisi geopolitik, ketidakpastian meningkat terkait gencatan senjata AS–Iran yang akan segera berakhir, ditambah insiden penyitaan kapal Iran oleh AS yang memicu ancaman balasan dari Teheran. Sentimen awalnya sempat positif, tetapi berbalik negatif menjelang siang.
• PASAR EROPA :Di Eropa, pasar saham bergerak fluktuatif pada Selasa, dengan investor berhati-hati menjelang kemungkinan berakhirnya gencatan senjata AS–Iran. Indeks Stoxx 600 Eropa turun 0,9%, DAX Jerman melemah 0,5%, FTSE 100 Inggris turun 1,1%, dan CAC 40 Prancis juga turun 1,1%. Jeda konflik dua minggu tersebut akan berakhir pada waktu yang belum ditentukan akhir pekan ini, dengan ketidakpastian apakah akan diperpanjang.
• PASAR ASIA : Di Asia, pasar saham bergerak campuran. Saham Korea Selatan mencetak rekor tertinggi berkat penguatan saham semikonduktor, sementara sentimen secara umum tetap hati-hati karena investor memantau perkembangan gencatan senjata AS–Iran.
Indeks KOSPI Korea Selatan naik lebih dari 2% ke rekor 6.361,17, didorong optimisme saham chip berbasis AI. SK Hynix melonjak ke level tertinggi baru setelah mengumumkan rencana produksi memori generasi terbaru untuk chip AI NVIDIA.
Pasar Jepang juga terdorong saham teknologi, dengan Nikkei 225 naik 1,3% dan TOPIX naik 0,3%. Sementara itu, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing turun 0,3%, sedangkan Hang Seng Hong Kong bergerak relatif datar.
• KOMODITAS : Harga minyak mentah AS naik pada perdagangan awal Rabu, meski Washington mengumumkan perpanjangan tanpa batas gencatan senjata dengan Iran, karena ketidakpastian tetap tinggi dan Selat Hormuz masih praktis tertutup. Minyak WTI sempat naik hingga USD 90,70 per barel dan diperdagangkan naik 59 sen (0,7%) di USD 90,26 pada 22:15 GMT. Kontrak acuan tersebut sebelumnya naik 2,8% pada Selasa.
• INDONESIA :IHSG ditutup terkoreksi -0.46% di zona merah berada di angka 7559.4, dan masih terbentur resistance area 7600-7700. Pasar Indonesia saat ini sudah mulai kebal dengan sentimen geopolitik US-Iran, dan selanjutnya agenda reformasi IHSG yang sudah terlihat mulai dari perilisan HCL memberikan angin segar bagi bursa IHSG. Namun, tetap berhati-hati terkait dengan volatilitas yang timbul hari ini beriringan dengan sentimen geopolitik yang masih panas.
IHSG perdagangan kemarin terkoreksi akibat sentimen MSCI untuk Indonesia yang masih belum memperoleh adanya rebalancing baru serta turunnya BREN dan ARB DSSA yang memiliki peluang untuk terkena outflow sebagai dampak dari perilisan untuk Mei 2026, dimana pasal saham yang merupakan saham HCL akan dihapus dari indeks MSCI Indonesia. Namun terlepas sentimen geopolitik dan MSCI tersebut, sudah cukup jelas IHSG cukup membal di support dan mulai ter-priced in.
Unduh laporan lengkapnya DISINI.

