Resilient Consumer menjaga inflasi tetap tinggi. Akumulasi penghematan selama pandemi Covid-19, dan kenaikan upah ditengah solidnya pasar tenaga kerja, membantu masyarakat mengatasi tingginya inflasi dan Borrowing Costs. Data menunjukkan, Retail Sales Advance AS Okt. MoM tumbuh 1,3% (Vs. Sept. 0,0%), dapat mengindikasikan belanja konsumen meningkat diawal 4Q22. Resilient Consumer berpeluang membawa the Fed tetap dalam jalur Hawkish pada FOMC Des. Mendatang. Adapun, FFR tinggi membuat aktivitas produksi industri kembali melambat, dengan Industrial Production AS Okt. MoM -0,1% (Vs. Sept. 0,1%).

Corporate Bonds
Moratelindo Siap Lunasi Obligasi Sebesar Rp 460 Miliar. PT Mora Telematika Indonesia (MORA) atau Moratelindo perusahaan jasa infrastruktur telekomunikasi berencana melakukan pelunasan Obligasi I Moratelindo Tahun 2017 Seri B sebesar IDR 460 miliar. Pelunasan obligasi tersebut akan jatuh tempo pada 5 Desember 2022. (Beritasatu)

Domestic Issue
Impor Indonesia Mulai Melambat. Mulai melambatnya impor dikhawatirkan bisa mengganggu kinerja manufaktur di Indonesia. Hal ini sejalan dengan impor pada Oktober yang melambat dari bulan sebelumnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor pada bulan Oktober sebesar USD 19,14 miliar atau turun 3,40% dibandingkan bulan September 2022. Pada periode ini hanya impor konsumsi yang mengalami peningkatan. Sedangkan impor bahan baku/penolong dan barang modal mengalami penurunan. (Kontan)

Recommendation
Survei imbang, BI diproyeksikan menaikkan BI 7DRR Nov. sebesar 25Bps atau 50Bps. Kenaikan BI 7DRR 50Bps atau Front Loading, mengisyaratkan stance BI tetap Hawkish, guna menahan depresiasi Rupiah. Di sisi lain, Surplus Neraca Dagang Okt. yang naik signfikan menjadi +USD5,6Miliar (Vs. Sept. +USD4,9Miliar), memberikan ruang bagi BI untuk menjaga volatilitas Rupiah, sekaligus membuat BI hanya perlu menaikkan BI 7DRR sebesar 25Bps.

Download full report HERE.