Today’s Outlook :

 

• PASAR AS : Saham AS ditutup anjlok pada Jumat di tengah tekanan sentimen akibat konflik Timur Tengah yang berlanjut. Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memperpanjang tenggat serangan terhadap infrastruktur energi Iran gagal meredakan kekhawatiran pasar.

 

 

Indeks acuan S&P 500 turun 1,8% ke 6.363,75 poin, NASDAQ Composite merosot 2,2% ke 20.948,36 poin, dan Dow Jones Industrial Average melemah 1,7% ke 45.167,44 poin. Penurunan ini melanjutkan pelemahan sesi sebelumnya, seiring ketidakpastian terkait negosiasi damai antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir sebulan. Pertempuran di Timur Tengah masih berlangsung tanpa tanda mereda, termasuk penutupan efektif Strait of Hormuz serta ancaman serangan udara terhadap fasilitas energi vital global.

 

 

Israel dan Iran saling melancarkan serangan pada Jumat, sementara Pentagon dilaporkan terus mengerahkan sumber daya ke kawasan tersebut, memicu spekulasi potensi invasi darat AS ke Iran. Namun, laporan Bloomberg News menyebut Washington belum memiliki rencana langsung untuk invasi darat. Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa AS menyerang dua pabrik baja di Isfahan, serta memperingatkan warga di kawasan Asia Barat untuk menjauh dari fasilitas yang memiliki kepemilikan saham Amerika.

 

 

 

• PASAR EROPA : Saham Eropa melemah pada Jumat, sementara harga minyak tetap tinggi, seiring kekhawatiran dampak konflik di Timur Tengah yang masih berlanjut—meskipun Presiden AS Donald Trump memutuskan memperpanjang tenggat serangan udara terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April. Indeks pan-Eropa Stoxx 600 turun 0,9%, diikuti DAX yang melemah 1,4%, CAC 40 turun 0,9%, sementara FTSE 100 bergerak datar.

 

 

Di sisi kebijakan moneter, European Central Bank diperkirakan harus mempertimbangkan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan, sejalan dengan pernyataan sejumlah pejabat ECB pekan ini. Imbal hasil obligasi pemerintah Eropa pun meningkat, dengan yield obligasi 10 tahun Prancis mencapai level tertinggi sejak 2009.

 

 

 

•  PASAR ASIA : Sebagian besar saham Asia menguat pada Jumat setelah Presiden AS Donald Trump menunda serangan terhadap Iran, yang sempat meredakan kekhawatiran pasar. Namun, potensi konflik berkepanjangan tetap menekan sentimen regional.

 

 

Saham Korea Selatan sempat pulih dari penurunan 3% di awal sesi, tetapi masih menuju pelemahan mingguan yang dalam akibat aksi jual berkepanjangan pada saham chip utama. Produsen memori Samsung Electronics dan SK Hynix stabil setelah sebelumnya masing-masing turun lebih dari 4%, namun tetap diperkirakan melemah 7%–10% sepanjang pekan ini. Keduanya mengikuti pelemahan rekan di AS setelah Google milik Alphabet Inc. memperkenalkan algoritma kompresi baru, TurboQuant.

 

 

Secara keseluruhan, saham Asia berhasil memangkas kerugian intraday, tetapi masih mencatat kinerja mingguan yang terbatas di tengah ketidakpastian terkait konflik Iran. Indeks Jepang, Nikkei 225 dan TOPIX, bergerak datar menjelang penutupan dan diperkirakan mencatat kenaikan mingguan tipis. Di China, indeks CSI 300 dan Shanghai Composite masing-masing naik 0,7%, namun masih turun sekitar 1,7% dan 1,5% sepanjang pekan. Sementara itu, indeks Hang Seng naik 0,2% tetapi masih melemah 1,4% secara mingguan.

 

 

 

KOMODITAS : Harga minyak melonjak tajam pada perdagangan awal Senin setelah kelompok Houthi dari Yaman menyerang Israel selama akhir pekan, menandakan potensi meluasnya konflik di Timur Tengah. Ketegangan berlanjut antara AS, Israel, dan Iran juga menunjukkan minimnya tanda de-eskalasi, dengan Teheran menyatakan kesiapan menghadapi pasukan darat AS.

 

 

Kontrak berjangka minyak Brent naik 2,2% menjadi USD 115,08 per barel pada pukul 19:05 ET (23:05 GMT), setelah sempat melonjak hingga USD 116,43 per barel. Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyatakan pada Minggu bahwa mereka telah meluncurkan serangan rudal ke Israel dan berjanji akan melanjutkan serangan. Keterlibatan mereka memicu kekhawatiran eskalasi konflik, mengingat kemampuan mereka menyerang kapal yang melintas di Laut Merah.

 

 

Pasukan Israel dilaporkan menyerang target di ibu kota Iran selama akhir pekan, sementara AS menyatakan telah mengerahkan 3.500 tentara ke Timur Tengah melalui kapal perang USS Tripoli.

 

 

 

FIXED INCOME NEWS 

 

Obligasi dan Sukuk RATU Oversubscribed 6,8 Kali, Permintaan Tembus Rp5,46 Triliun

PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) mencatatkan minat investor yang sangat kuat dalam proses bookbuilding Penawaran Umum Obligasi I Raharja Energi Cepu Tahun 2026 dan Sukuk Wakalah I Raharja Energi Cepu Tahun 2026. Total permintaan investor mencapai sekitar Rp5,46 triliun, atau sekitar 6,8 kali dari target penerbitan sebesar Rp800 miliar. Sementara itu, kata dia, permintaan terhadap Sukuk Wakalah I Raharja Energi Cepu Tahun 2026 mencapai sekitar Rp2,88 triliun atau 5,76 kali dari target Rp500 miliar, mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap kinerja dan prospek jangka panjang perseroan. (idxchannel.com)

 

 

Bumi Serpong Hentikan PUB IV Obligasi 2025

Emiten properti, PT Bumi Serpong DamaiTbk (BSDE) mengumumkan bahwa pihaknya telah menghentikan Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) IV Obligasi Berkelanjutan BSDE Tahun 2025 dengan target dana Rp2 triliun. Hermawan Wijaya, Direktur BSDE dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, penghentian PUB IV ini efektif sejak tanggal 25 Maret 2026 dengan mempertimbangkan aspek ekonomis. Hal ini mengingat sisa target dana yang belum diterbitkan hanya sebesar Rp249,13 miliar dari total target dana Rp2 triliun. (neraca.co.id)

 

 

Ujian Ketahanan Pasar Obligasi RI: Tertekan Risiko Inflasi hingga Peringkat Utang Negara

Pasar obligasi Indonesia menghadapi ujian risiko inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak, akibat perang AS-Israel vs Iran. Arus modal keluar atau capital outflow dan peringkat kredit nasional pun menjadi perhatian investor. Dilansir dari Bloomberg, biaya pinjaman (borrowing cost) dalam rupiah bagi penerbit obligasi berperingkat tinggi naik hampir 70 basis poin pada bulan ini, menuju level tertinggi dalam hampir satu tahun. Kenaikan terjadi seiring sikap investor yang mulai memperhitungkan risiko kenaikan harga energi terhadap inflasi dan arah kebijakan pemerintah Indonesia. Peningkatan pengawasan terhadap peringkat utang negara juga mendorong naiknya premi risiko di pasar obligasi domestik. Chief Investment Officer UOB Asset Management Indonesia, Albert Budiman, menilai bahwa penerbitan obligasi korporasi berpotensi melambat dalam beberapa bulan ke depan, terutama jika ketidakpastian harga minyak berlanjut. (bisnis.com)

 

 

 

Unduh laporan lengkapnya DISINI.