Today’s Outlook :

 

• PASAR AS : Saham AS ditutup melemah pada Kamis seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak naik dan memicu kekhawatiran inflasi. Sentimen pasar juga tertekan oleh penurunan saham semikonduktor setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Trump tengah menyusun regulasi untuk membatasi pengiriman chip AI secara global.

 

 

Indeks S&P 500 turun 0,6% ke 6.829,45, NASDAQ Composite melemah 0,3% ke 22.748,99, sementara Dow Jones turun 1,6% ke 47.954,19. Pada sesi sebelumnya, indeks utama sempat menguat didukung data ekonomi yang solid serta laporan bahwa Iran membuka peluang dialog.

 

 

Namun, harapan meredanya konflik memudar setelah Iran kembali meluncurkan serangan rudal ke Israel, menandai hari keenam konflik. Senat AS juga menolak usulan untuk menghentikan kampanye udara terhadap Iran. Di sisi lain, Gedung Putih menyebut Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Iran yang tewas, sebagai kandidat kuat penerus kepemimpinan, yang menunjukkan Iran tidak akan segera menyerah pada tekanan.

 

 

Direktur IMF Kristalina Georgieva mengatakan konflik ini menguji ketahanan ekonomi global karena berpotensi mempengaruhi harga energi, sentimen pasar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, Bloomberg melaporkan AS tengah merancang aturan yang akan mewajibkan persetujuan pemerintah untuk hampir seluruh ekspor chip AI dari perusahaan seperti Nvidia dan AMD, memperluas pembatasan yang saat ini mencakup sekitar 40 negara

 

 

• PASAR EROPA : Saham Eropa ditutup melemah setelah sempat menguat di awal sesi, dengan sentimen pasar tetap rapuh di tengah konflik Timur Tengah yang terus meningkat.

 

 

Indeks DAX Jerman turun 1,6%, CAC 40 Prancis melemah 1,5%, dan FTSE 100 Inggris juga turun 1,5%. Konflik yang dimulai dari serangan rudal AS dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu semakin meluas, termasuk laporan tenggelamnya kapal perang Iran oleh kapal selam AS serta pencegatan rudal Iran oleh sistem pertahanan NATO.

 

 

IMF kembali memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat mendorong kenaikan harga energi global serta meningkatkan inflasi. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi Eropa yang sangat bergantung pada impor energi dan berpotensi memberi tekanan pada European Central Bank (ECB) untuk menaikkan suku bunga.

 

 

Pembuat kebijakan ECB Joachim Nagel mengatakan dampak terhadap inflasi akan terbatas jika konflik berakhir cepat, namun harga energi yang tetap tinggi dalam jangka panjang dapat meningkatkan inflasi dan melemahkan aktivitas ekonomi. Sementara itu, pejabat ECB lainnya Francois Villeroy de Galhau menyatakan belum ada alasan untuk menaikkan suku bunga saat ini.

 

 

Data ekonomi menunjukkan penjualan ritel zona euro naik 2,0% YoY pada Februari,melampaui ekspektasi 1,7%, meskipun secara bulanan turun 0,1%.

 

 

•  PASAR ASIA : Saham Asia menguat pada Kamis, menandakan pemulihan sementara selera risiko setelah tekanan dari eskalasi konflik Timur Tengah.

 

 

Indeks MSCI Asia-Pacific ex-Japan naik 3,9%, dipimpin oleh KOSPI Korea Selatan yang melonjak 11,2% setelah sempat mengalami penurunan tajam pada sesi sebelumnya. Nikkei Jepang juga menguat 2,5%.

 

 

Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury 10 tahun naik 3,9 bps menjadi 4,121%, sementara tenor 30 tahun naik 4,4 bps ke 4,7607%, mencerminkan penurunan harga obligasi.

 

 

Saham China juga menguat setelah pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 4,5%–5%, sedikit lebih rendah dari pertumbuhan sekitar 5% tahun lalu. Beijing juga merilis Rencana Lima Tahun ke-15 yang menekankan investasi pada inovasi, industri teknologi tinggi, serta peningkatan konsumsi rumah tangga.

 

 

 

• KOMODITAS : Harga minyak naik lebih dari 2% pada Kamis, memperpanjang reli akibat meningkatnya ketegangan antara AS, Israel, dan Iran yang mengganggu pasokan energi serta jalur pengiriman minyak.

 

 

Brent crude naik US$2,25 (2,8%) ke US$83,65/barel, sementara WTI naik US$2,56 (3,4%) ke US$77,22/barel. Kenaikan harga juga didorong oleh serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk serta keputusan China mengurangi ekspor bahan bakar.

 

 

Konflik yang berkepanjangan juga memaksa sejumlah kilang di Timur Tengah, China, dan India untuk mengurangi operasi pengolahan minyak mentah.

 

 


• KRISIS TANK:
Serangan terhadap kapal tanker minyak di kawasan Teluk masih berlanjut. Kapal tanker berbendera Bahama Sonangol Namibe dilaporkan mengalami kerusakan lambung setelah ledakan di dekat Pelabuhan Khor al Zubair, Irak. Data pelacakan kapal dari Vortexa dan Kpler menunjukkan sekitar 300 kapal tanker masih berada di Selat Hormuz, sementara lalu lintas kapal yang masuk dan keluar jalur tersebut hampir terhenti sejak konflik dimulai.

 

 

 

• INDONESIA : IHSG berhasil rebound sejauh +1,76% menjadi 7710,5 dengan sektor barang konsumer primer memimpin kenaikan dan didorong oleh sentimen positif menguatkan indeks bursa global. Meski begitu, harus tetap berhati-hati dengan kondisi global yang masih memanas. Tetap berpegang pada saham sektor komoditas yang akan menjadi tema trading sepanjang tahun ini seiring dengan kenaikan komoditas minyak, emas, nikel. Tetap berjaga-jaga selalu dengan stoploss dan trailing stop terdekat di tengah volatilitas ini.

 

 

 

Unduh Laporan lengkapnya DISINI.