Today’s Outlook :

 

• PASAR AS : Wall Street ditutup bervariasi pada Senin, menuntaskan pemulihan solid setelah sempat melemah di awal perdagangan. Kenaikan saham sektor energi dan teknologi membantu menahan tekanan sentimen akibat serangan udara AS terhadap Iran. Indeks acuan S&P 500 ditutup naik tipis ke 6.879,33 setelah sempat turun 1,2%. Indeks berbasis teknologi NASDAQ Composite menguat 0,4% ke 22.748,86, berbalik arah dari penurunan 1,6%. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average terkoreksi ringan 0,2% ke 48.904,78.

 

 

Perkembangan tersebut menandai eskalasi besar ketegangan antara Washington dan Tehran, terutama setelah perundingan terbaru terkait pengayaan nuklir Iran berakhir tanpa hasil berarti. Pasar kini diliputi kekhawatiran pecahnya perang terbuka di Timur Tengah, terlebih setelah Iran berjanji akan melakukan pembalasan lanjutan. Presiden Donald Trump mengatakan operasi tersebut memiliki empat tujuan: menghancurkan kemampuan rudal Iran, melumpuhkan angkatan lautnya, memastikan negara itu tidak pernah memiliki senjata nuklir, serta mencegah pemerintah Iran mempersenjatai, mendanai, dan mengarahkan aktivitas terorisme.

 

 

 

• PASAR EROPA : Bursa saham Eropa anjlok tajam pada Senin, seiring anjloknya selera risiko global setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, yang memicu kekhawatiran lonjakan harga energi. Indeks DAX di Jerman ditutup turun 2,4%, CAC 40 di Prancis melemah 2,2%, sementara FTSE 100 di Inggris turun 1,2%.

 

 

Serangan AS dan Israel tersebut mengganggu jalur pelayaran komersial di Teluk Persia, yang merupakan sumber utama pasokan bahan bakar dan produk minyak bagi Eropa. Gangguan ini mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan risiko lonjakan inflasi lanjutan. Kondisi tersebut diperkirakan akan membebani prospek kebijakan European Central Bank dan Bank of England, bahkan berpotensi memaksa Bank of England menunda pemangkasan suku bunga lebih lanjut hingga ketidakpastian geopolitik mereda.

 

 

 

•  PASAR ASIA : Bursa saham Asia anjlok tajam pada Senin menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan. Serangan tersebut memicu lonjakan harga minyak dan mendorong arus keluar besar-besaran dari aset berisiko menuju aset yang lebih aman.

 

 

Indeks Hang Seng di Hong Kong dan Nikkei 225 di Jepang menjadi yang terburuk di Asia, masing-masing turun 2,1% dan 1,4%. Keduanya juga tertekan oleh pelemahan saham teknologi. Indeks TOPIX melemah 1,6%, sementara indeks CSI 300 dan Shanghai Composite justru naik masing-masing 0,4% dan 0,5%.

 

 

Pasar Asia turut tertekan oleh penurunan saham teknologi, di tengah ketidakpastian investor terhadap dampak AI pada sektor tersebut. Saham perangkat lunak secara khusus mencatat penurunan signifikan pada Februari akibat kekhawatiran meningkatnya persaingan dari berbagai alat berbasis AI.

 

 

Di China, perhatian pasar tertuju pada pertemuan politik tahunan “two sessions” yang akan digelar pada 4–11 Maret, yang akan menetapkan agenda Five-Year Plan ke-15. Beijing diperkirakan akan mengumumkan tambahan stimulus, terutama mengingat perlambatan pertumbuhan ekonomi China yang berlangsung konsisten sepanjang dekade 2020-an. Selain itu, data inflasi produsen AS yang lebih tinggi dari perkiraan pada Jumat lalu memicu kekhawatiran inflasi yang masih persisten di ekonomi terbesar dunia, yang berpotensi membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama.

 

 

 

KOMODITAS: Harga minyak dan gas melonjak tajam pada Senin di New York, menyusul serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Sebagai balasan, Teheran memaksa penutupan sejumlah fasilitas minyak dan gas di kawasan serta mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz yang krusial. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga minyak secara berkelanjutan, yang pada gilirannya dapat memicu inflasi, menekan pertumbuhan ekonomi global, serta mendorong kenaikan harga bensin ritel di AS.

 

 

Brent futures sempat melonjak hingga 13% ke USD 82,37 per barel—level tertinggi sejak Januari 2025—sebelum ditutup turun USD 4,87 atau 6,7% ke USD 77,74 per barel. Lonjakan pada perdagangan setelah penutupan terjadi usai Islamic Revolutionary Guard Corps menyatakan niat untuk membakar kapal apa pun yang mencoba melintas di Selat Hormuz pada Senin malam. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) ditutup di USD 71,23, naik USD 4,21 atau 6,3%. Sebelumnya, WTI sempat melonjak lebih dari 12% ke USD 75,33—tertinggi sejak Juni.

 

 

Meski lonjakan awal harga minyak tidak sedramatis sebagian proyeksi analis, serangan balasan Iran terhadap negara produsen energi utama lain seperti Arab Saudi dan Qatar memicu kekhawatiran bahwa konflik yang panjang dan berlarut-larut dapat menyebabkan gangguan pasokan tambahan.

 

 

 

• INDONESIA : IHSG ditutup kembali terkoreksi menjadi 8016.83, dimana pasar mencerna aksi agresi yang dilakukan oleh Israel dan US terhadap Iran. Seiring agresi tersebut, lakukan hedging dan tetap berpegang pada saham sektor komoditas yang akan menjadi tema trading sepanjang tahun ini seiring dengan kenaikan komoditas minyak, emas, nikel. Pasca minyak dan gas berhasil breakout, harga batubara juga sudah mulai breakout dimana nampaknya hari ini bisa memberikan peluang untuk kenaikan saham batubara. Jangan lupakan berjaga-jaga selalu dengan stoploss dan trailing stop  terdekat di tengah volatilitas ini.

 

 

Unduh Laporan lengkapnya DISINI.