XA Update Report | PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) | 3Q26 : Laba yang Resilien Terlepas Kenaikan CoF – Ditopang oleh Loan Repricing, Pertumbuhan CASA dan Efisiensi Operasional yang Efektif
By Leonardo Lijuwardi
27-Oktober-2026
BMRI kembali mencatatkan kinerja solid pada 9M26 dengan laba bersih mencapai IDR 45.53T (+20.7% YoY; Quarterly Basis: +13.9% YoY, +0.6% QoQ, 3Q26: IDR 15.12T), ditopang oleh pertumbuhan PPOP sebesar +17.5% YoY menjadi IDR 65.65T sejalan denganpenekanan biaya operasional yang efektif dan efisien. NII (Net Interest Income) bertumbuh +6.5% YoY menjadi IDR 69.81T (Quarterly Basis: +3.4% YoY, -3.6% QoQ, 3Q26: IDR 21.97T), meskipun masih menghadapi tekanan CoF (Cost of Fund) yang sejalan dengankenaikan suku bunga acuan. Disisi lain untuk periode kuartal 3Q26 ini loan yield mulai membaik seiring repricing kredit, meningkat 12 bps QoQ menjadi 7.03%, sementara CoF naik menjadi 2.34% (2Q26: 2.04%), sehingga NIM (Net Interest Margin) YTD terkoreksimenjadi 4.43% (1H26: 4.56%, 9M25: 4.78% | Cons. Basis). Pendapatan non-bunga untuk saat ini menjadi penopang profitabilitas, tumbuh +14.3% YoY menjadi IDR 35.45T (Quarterly Basis: +13.3% YoY, +10.0% QoQ, 3Q26: IDR 12.67T), sekaligus mengimbangi moderasipertumbuhan NII yang tertekan akibat tingginya CoF. Efisiensi operasional semakin membaik, tercermin dari penurunan beban operasional -1.6% YoY, terutama pada G&A, sehingga CIR (Cost to Income Ratio) membaik menjadi 38.0% (9M25: 43.8%). Sementara itu, CoC (Cost of Credit) tetap terkendali di 0.63%, meskipun LaR mulai meningkat akibat adanya kenaikan kredit restrukturisasi kategori lancar. Secara keseluruhan, pertumbuhan pendapatan non-bunga, perbaikan loan yield, dan efisiensi operasional tetap menjaga profitabilitasBMRI di tengah tekanan biaya dana dan peningkatan risiko kualitas aset.
🔹Revisi Guidance Terbaru BMRI untuk FY26: Menaikkan Guidance Pertumbuhan Kredit dan Menyesuaikan CIR
• Revisi Guidance pada Poin Penyaluran Kredit dan CIR. Manajemen menaikkan dan merevisi panduan pertumbuhan kredit FY26 menjadi 9%–11% (sebelumnya 7%–9%), dengan tetap menjaga LDR di bawah 95%. Panduan CIR direvisi dan disesuaikan menjadi 37%–39% di sisa FY26 (sebelumnya 39%–41%), didukung efisiensi biaya yang efektif dan otomasi operasional. Sementara itu, panduan NIM dan CoC tetap dipertahankan masing-masing pada 4.3%–4.5% dan 0.6%–0.8% untuk sepanjang sisa tahun FY26 ini.
•Hasil Kinerja BMRI masih sesuai dengan ekspektasi. Kami masih tetap mempertahankan estimasi laba bersih FY26 sebesar IDR 58.9T, dengan realisasi kinerja BMRI per 9M26 yang berada di IDR 45.53T sudah mencapai 77.3% dari estimasi NHKSI. Kami masih berekspektasi terkaitdengan pertumbuhan kredit, pemulihan loan yield yang akan ekspansif di 2H26 sekaligus penguatan pendapatan non-bunga, dan efisiensi operasional yang efektif menopang profitabilitas dari BMRI. Adapun hal yang menjadi Risiko adalah terkait dengan tekanan CoF yang meningkatdan peningkatan LaR tetap menjadi risiko dari BMRI yang harus dimitigasi, dimana melihat hal ini BMRI mulai cukup menjaga portfolionya dengan lebih konservatif sekaligus mengedepankan profitabilitas.
🔹 Sisi Lending: Pertumbuhan Kredit Mulai Termoderasi Moderat Secara Kuartalan
• Pertumbuhan Kredit Resilien, Meski Melambat Secara Kuartalan. Total kredit konsolidasi mencapai IDR 1,693.6T per periode 9M26 (+15.4% YoY; +1.0% QoQ), atau tumbuh 7.45% YTD, terutama masih ditopang oleh segmen wholesale – business banking. LDR konsolidasi membaikmenjadi 91.2% (2Q26: 92.7%), sementara bank-only LDR berada di 93.5%. Manajemen tetap memprioritaskan keseimbangan ekspansi kredit dan likuiditas, dengan target LDR di bawah 95%.
•Kredit Korporasi Tonggak Utama dan Komersial Menjadi Motor Pertumbuhan Kuartalan. Kredit korporasi mencapai IDR 836T di 9M26 (+22.5% YoY; -0.55% QoQ), sementara kredit komersial menjadi driver pertumbuhan kredit kuartalan yang tumbuh menjadi IDR 352T di 9M26 (+16.8% YoY; +2.52% QoQ), dengan kontribusi gabungan sekitar 70.1% terhadap total kredit. Terkait dengan suku bunga acuan yang sudah naik, BMRI mulai menjalankan strategi repricing yang mulai terlihat melalui kenaikan loan yield korporasi sebesar 22 bps QoQ menjadi 6.17% dan komersial sebesar 12 bps menjadi 7.04% per periode 3Q26 ini. Dengan kenaikan serta strategi repricing tersebut diharapkan menimbulkan perbaikan yield yang lebih ekspansif dan berpotensi mendukung NII ke periode depan.
• Kredit Segmen Retail yang Masih Cukup Moderat serta SME dan Mortgage Mulai Pulih. Kredit mikro & payroll tumbuh +2.0% YoY menjadi IDR 200T, sementara konsumer naik +3.37% YoY menjadi IDR 127T per 9M26. Segmen SME menunjukkan pemulihan dengan pertumbuhan+11.2% YoY (+6.6% QoQ), diikuti mortgage +8.6% YoY (+4.9% QoQ). Segmen pembiayaan kendaraan bermotor masih terkontraksi -21.4% YoY, sehingga ekspansi di segmen retail tetap dilakukan secara selektif.
🔹 Sisi Funding: Repricing Deposit Akibat Surprise Rate Hike – Implikasi ke Kenaikan Cost of Fund (CoF)
🔹 Kualitas Aset BMRI: Aset Masih Tetap Resilien Stabil – Waspada Terhadap Peningkatan LaR Stabil
• NPL Stabil, Namun LaR Mulai Meningkat. Gross NPL konsolidasi relatif stabil di 1.02% (2Q26: 1.01%), sementara LaR (Loan at Risk) meningkat menjadi 6.76% (2Q26: 5.83%). Kenaikan LaR terutama berasal dari kredit restrukturisasi kategori lancar yang meningkat menjadi 2.83% (2Q26: 1.89%). Meski special mention loans stabil di 2.91%, peningkatan restrukturisasi tetap menjadi risiko kualitas aset yang perlu dimonitor.
•Provisi Terkendali, Namun Coverage Menurun. Beban provisi 9M26 turun -5.84% YoY menjadi IDR 7.81T, sementara CoC terjaga di 0.63%, sesuai panduan 0.6%–0.8%. Namun, NPL coverage turun menjadi 235% (2Q26: 237%) dan LaR coverage menjadi 35.1% (2Q26: 40.5%). Peningkatan LaR dan penurunan coverage perlu dicermati sebagai potensi risiko normalisasi biaya kredit ke depan.
🔹 Rekomendasi ”Buy” dengan Target Harga Lebih Rendah di Level IDR 5,000 (Potensi Upside +27.9%)
• NHKSI Research memberikan rekomendasi “Buy” untuk BMRI namun dengan target harga yang lebih rendah di level IDR 5,000, yang mencerminkan Forward 26F P/BV sebesar 1.3x (-1 STD Average Last 3 Years). Katalis positif yang bisa menjustifikasi BMRI adalah pertumbuhan penyaluran loan dan angka profitabilitas yang lebih optimal dan ekspansif seperti NIM dsb. Pertumbuhan bisnis dari non bunga serta efisiensi kinerja yang lebih optimal diharapkan lebih mendongkrak performa BMRI sebagai penyangga ditengahtekanan industri. Adapun kami menurunkan TP kami sejalan dengan risiko pasar yang mengasumsikan skenario penurunan klasifikasi indeks JCI di tahun depan sekaligus mengantisipasi tekanan jual, namun tetap tidak melupakan kualitas bisnis dan performa operasionalBMRI. Hal yang menjadi katalis negatif dan risiko untuk rekomendasi ini adalah kondisi situasi makro dan politik yang kurang pasti dan stabil, persaingan bisnis di industri bank yang semakin kompetitif, ekspetasi pertumbuhan penyaluran kredit dan NIM yang terkontraksikurang sesuai harapan.
Unduh laporan lengkapnya DISINI
NH Korindo Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubuni CS kami via email CSO@nhsec.co.id

