XA Update Report | PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) – 2Q26: Topline Stagnan di Tengah Perlambatan Menara, Penurunan Finance Cost Menopang Pertumbuhan Laba
By Leonardo Lijuwardi
03-Agustus-2026
TBIG membukukan kinerja 1H26 yang relatif stabil, dengan revenue sebesar IDR 3.46T (+0.3% YoY) dan EBITDA sebesar IDR 2.95T (-0.8% YoY), sementara EBITDA margin sedikit terkontraksi menjadi 85.2% (vs. 86.1% 1H25). Secara kuartalan, revenue 2Q26 mencapai IDR 1.74T (+1.4% YoY; +1.4% QoQ) dan EBITDA sebesar IDR 1.48T (-0.5% YoY; +1.2% QoQ), dengan margin EBITDA sebesar 85.1%. Net profit 1H26 tumbuh 1.6% YoY menjadi IDR 836B, sementara 2Q26 mencapai IDR 446B (+8.9% YoY; +14.3% QoQ), namun kenaikan laba tersebut lebih banyak didukung oleh faktor non-operasional, terutama penurunan finance cost sebesar 4.7% YoY, di tengah bisnis tower yang masih stagnan. Sementara itu, fiber optic revenue masih tumbuh 6.0% YoY menjadi IDR 325B pada 1H26, namun mulai melambat pada 2Q26 menjadi IDR 162B (+3.5% YoY; -1.3% QoQ), sehingga kontribusinya sebagai growth driver tetap positif namun mulai melandai.
🔹Pendapatan Menara Flat & Fiber Masih Menjadi Penopang Pertumbuhan
• Pendapatan TBIG pada 1H26 relatif stagnan di IDR 3.46T (+0.3% YoY), dengan pendapatan 2Q26 sebesar IDR 1.74T (+1.4% YoY, +1.4% QoQ). Pertumbuhan topline masih terutama ditopang oleh segmen fiber optik, sementara pendapatan tower leasing cenderung flat hingga sedikit terkontraksi. Pendapatan tower leasing tercatat sebesar IDR 3.13T pada 1H26 (-0.3% YoY), meskipun pada 2Q26 mulai menunjukkan perbaikan tipis menjadi IDR 1.58T (+1.2% YoY, +1.7% QoQ).
• Segmen fiber optik masih menjadi sumber pertumbuhan utama, dengan pendapatan 1H26 mencapai IDR 325B (+6.0% YoY). Namun demikian, laju pertumbuhan mulai melambat pada 2Q26, dengan pendapatan sebesar IDR 162B (+3.5% YoY, -1.3% QoQ). Dengan demikian, meskipun fiber tetap menjadi mesin pertumbuhan di tengah stagnasinya bisnis menara, momentum pertumbuhannya mulai menunjukkan moderasi. Kontribusi fiber terhadap total pendapatan meningkat menjadi sekitar 9.4% pada 1H26, dibandingkan 8.9% pada 1H25.
• Dari sisi operator, Telkomsel tetap menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan sebesar IDR 1.19T (+3.5% YoY) pada 1H26, diikuti oleh Indosat sebesar IDR 873B (+0.5% YoY). Sementara itu, pendapatan dari XLSMART meningkat signifikan menjadi IDR 993B, terutama mencerminkan perubahan basis pasca konsolidasi – merger XL Axiata dan Smartfren.
🔹Margin Sedikit Tertekan, Namun Finance Cost Menopang Pertumbuhan Laba
• Profitabilitas operasional TBIG mengalami sedikit tekanan seiring pertumbuhan pendapatan yang relatif stagnan. Gross profit 1H26 tercatat sebesar IDR 2.47T (-0.6% YoY), dengan GPM turun tipis menjadi 71.4% dari 72.0% pada 1H25. Sementara itu, EBITDA tercatat sebesar IDR 2.95T (-0.8% YoY) dengan EBITDA margin sebesar 85.2%, turun dari 86.1% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Tekanan juga terlihat pada level operating profit, dengan EBIT 1H26 sebesar IDR 2.16T (-1.7% YoY) dan OPM terkontraksi menjadi 62.3% dari 63.5% pada 1H25. Kenaikan operating expenses sebesar 7.3% YoY menjadi IDR 315B menjadi salah satu faktor yang membatasi operating profit di tengah topline yang masih relatif flat.
• Di sisi lain, finance cost turun 4.7% YoY menjadi IDR 880B, membantu mengimbangi tekanan pada kinerja operasional. Ditambah dengan perbaikan pada other income & adjustment, sementara net profit naik 1.6% YoY menjadi IDR 836B. NPM pun meningkat menjadi 24.2%, dibandingkan 23.8% pada 1H25. Dengan demikian, pertumbuhan laba pada 1H26 lebih banyak berasal dari efisiensi biaya keuangan dibandingkan peningkatan kapasitas laba dari sisi industri, bisnis dan operasional.
🔹Portofolio TBIG: Tenancy Sedikit Menurun, Namun Operasional Tetap Terjaga
• Secara operasional, TBIG masih mempertahankan skala portofolio yang relatif stabil. Per 2Q26, jumlah tower mencapai 25,172 sites (+5.1% YoY), sementara jumlah tenant tercatat sebesar 42,224 (-0.8% YoY). Dengan demikian, tenancy ratio berada di sekitar 1.68x, relatif stabil meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan 1.78x pada 2Q25.Penurunan jumlah tenant mencerminkan dampak konsolidasi industri dan beberapa non-renewal pasca merger XLSmart. Namun demikian, TBIG tetap menambah gross tenancy sebanyak 808 selama 2Q26, terdiri dari 599 new sites dan 209 collocation, menunjukkan bahwa aktivitas penambahan tenancy masih berjalan dan orderbook tetap cukup solid.
🔹FY26 View: Mempertahankan Pertumbuhan dan Laba yang Cenderung Flat
• Kami tetap mempertahankan forecast FY26E TBIG kami, dengan pencapaian 1H26 masing-masing mencapai 49.7% dari estimasi revenue (NHKSI Research Estimation for FY26: IDR 6.97T) dan 58.4% dari estimasi net profit (NHKSI Research Estimation for FY26: IDR 1.43T). Namun, pencapaian laba yang lebih cepat tersebut masih terutama ditopang oleh penurunan finance cost dan adjustment, bukan perbaikan operasional. Dengan topline yang stagnan, tower leasing cenderung flat, dan pertumbuhan fiber mulai melambat pada 2Q26, ruang untuk earnings growth organik masih perlu dibuktikan. Oleh karena itu, kami mempertahankan estimasi FY26E, namun kualitas pertumbuhan laba perlu dicermati mengingat dukungan terhadap bottom line lebih banyak berasal dari penurunan finance expense yang berpotensi bersifat non-recurring dibandingkan pertumbuhan fundamental bisnis.
🔹 “Hold” Recommendation dengan Target Price di IDR 1,450 / Lembar (Upside +0.3%)
• NHKSI Research merekomendasikan “Hold” untuk TBIG dengan target harga lebih rendah di IDR 1,450/ Lembar, mencerminkan valuasi 11.0x Forward EV/EBITDA (-2 STD dari rata-rata 3 tahun terakhir). Kami menurunkan rekomendasi menjadi Hold dikarenakan meskipun segmen fiber optik TBIG mulai menunjukkan pertumbuhan, kami menilai belum terdapat katalis kuat yang mampu secara signifikan membuka potensi rerating saham TBIG. Selain itu, valuasi TBIG juga masih relatif premium dibandingkan MTEL dan TOWR (TBIG Current EV/EBITDA TTM: 10.5x | MTEL: 7.0x & TOWR: 6.0x). Walaupun TBIG masih memiliki peluang untuk mencatat pertumbuhan di atas rata-rata industri melalui segmen fiber, pelemahan tenancy ratio dalam dua tahun terakhir tetap menjadi tantangan, di samping tren pasca merger operator seluler dan menurunnya permintaan menara. Risiko bagi TBIG mencakup terbatasnya pertumbuhan dan bisnis yang meliputi pelemahan pertumbuhan tenancy serta pertumbuhan segmen fiber yang tidak sesuai ekspektasi.
Unduh dokumen lengkapnya DISINI.
NH Korindo Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubuni CS kami via email CSO@nhsec.co.id

